Greenland Pertimbangkan Pemusnahan Hiu Terlambat Dunia, Ilmuwan Peringatkan Bencana Ekologis
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah kota Avannaata sempat menyetujui rencana kontroversial untuk membunuh 1.000 hiu Greenland dengan imbalan 300 krone per jantung, meski akhirnya dibatalkan karena masalah legalitas.
- Nelayan mengeluh kehilangan ribuan kail dan puluhan ribu krone akibat hiu yang memutus tali, sementara konservasionis menilai pemusnahan tidak efektif karena sifat migrasi spesies ini.
- Hiu Greenland yang baru matang seksual pada usia 150 tahun sangat rentan terhadap eksploitasi, dan para ahli menyerukan solusi struktural seperti kompensasi alat tangkap dan teknologi penolak akustik.

Pemerintah Kota Avannaata di Greenland barat sempat mengejutkan dunia konservasi dengan menyetujui rencana pembunuhan massal 1.000 hiu Greenland (Somniosus microcephalus) pada awal tahun ini. Skema kontroversial itu menawarkan imbalan 300 krone Denmark (sekitar ยฃ34) untuk setiap jantung hiu yang diserahkan. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah pemerintah pusat mempertanyakan legalitasnya, meski ancaman pemusnahan di masa depan masih membayangi.
Keputusan itu muncul dari keluhan panjang nelayan halibut di kawasan tersebut. Henrik Jensen, nelayan 27 tahun dari pantai barat Greenland, mengaku telah kehilangan sekitar 6.000 kail sepanjang tahun ini. "Terkadang kami kehilangan 30.000 krone [ยฃ3.440] dalam sehari," ujarnya. Ia bahkan mengaku memberikan hiu yang tertangkap kepada anjing-anjingnya karena kesal tali pancingnya diputus. Timotheus Petersen, ketua asosiasi nelayan di Kullorsuaq, menambahkan bahwa satu tali pancing panjang (longline) berharga 1.599 krone, dan kerusakan akibat hiu memaksa mereka membeli peralatan baru.
Walikota Avannaata, Lars Erik Gabrielsen, berdalih bahwa langkah itu untuk melindungi pendapatan nelayan dan pasokan pangan tradisional. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa hiu Greenland adalah spesies yang sangat rentan. Prof Nick Dulvy, ahli konservasi laut dari Simon Fraser University, menyebut rencana pemusnahan sebagai "bencana" karena hiu ini baru mencapai kematangan seksual pada usia 150 tahun. "Mereka mungkin secara biologis adalah spesies paling sensitif di laut terhadap penangkapan berlebihan," tegasnya. Populasi hiu Greenland masih belum pulih dari eksploitasi besar-besaran pada abad ke-19 dan pertengahan abad ke-20, dengan puncak penangkapan 58.000 ekor pada 1948.
Kelompok konservasi Oceans North Kalaallit Nunaat (ONKN) menilai pemusnahan tidak akan menyelesaikan masalah. Direktur ONKN, Jenseeraq Poulsen, menjelaskan bahwa hiu Greenland dapat bermigrasi hingga 2.000 km per tahun, sehingga individu yang dibunuh akan cepat digantikan dari wilayah lain. Ia juga menyoroti akar masalah struktural: industri perikanan Greenland yang menyumbang sekitar 25% PDB menghadapi tekanan kuota, biaya meningkat, dan keterbatasan lapangan kerja alternatif. "Ketika margin menyempit, gangguan lama menjadi tak tertahankan," kata Poulsen.
Selain hiu, nelayan juga menghadapi masalah "ghost lines" โ tali pancing yang hilang atau dibuang dan menjerat peralatan baru. Jensen mengeluh bahwa ghost lines semakin banyak dan terlalu berat untuk diangkat dengan mesin mereka. ONKN menilai pembersihan ghost gear lebih efektif daripada pemusnahan hiu. Poulsen mengusulkan skema kompensasi kehilangan alat tangkap dan uji coba penolak akustik untuk hiu. Sementara itu, Rebekka Nygรฅrd Bak, penasihat Kementerian Perikanan Greenland, menyarankan regulasi peralatan ramah tangkapan sampingan dan kampanye pelaporan bycatch yang lebih baik.
"Hiu adalah versi nyata dari masalah yang pendorong utamanya bersifat struktural," ujar Poulsen, menggambarkan bahwa hiu dan nelayan adalah dua komponen ekosistem yang sama-sama tertekan oleh perubahan laut.
Meskipun harga halibut terus naik, ukuran rata-rata ikan justru menurun setiap tahun menurut Institut Sumber Daya Alam Greenland. Jensen mengaku tetap bisa hidup layak dari melaut, tetapi ia memasang lebih sedikit kail dan menangkap lebih sedikit ikan, yang ia duga akibat penangkapan berlebihan oleh kapal pukat lepas pantai. Ketegangan antara konservasi dan mata pencaharian ini mencerminkan dilema global: bagaimana menyeimbangkan perlindungan spesies rentan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir. Akankah Greenland memilih solusi berbasis ekosistem, atau kembali ke kebijakan pemusnahan yang dikritik ilmuwan?



