PSIM Yogyakarta dan Universitas Janabadra Bangun Training Ground Standar FIFA, Target Rampung Awal 2027
Baca dalam 60 detik
- PSIM Yogyakarta resmi menggandeng Universitas Janabadra untuk membangun training ground berstandar FIFA di Yogyakarta.
- Fasilitas ini diprioritaskan bagi pengembangan akademi PSIM ABC, dengan target operasional awal 2027.
- Kerja sama ini juga menyatukan pembinaan sepak bola dengan nilai pendidikan dan karakter, sekaligus mengukuhkan jejak alumni Janabadra di klub.

PSIM Yogyakarta resmi menjalin kemitraan strategis dengan Universitas Janabadra untuk merealisasikan pembangunan training ground berstandar FIFA. Penandatanganan kerja sama berlangsung di Auditorium KPH. Poerwokoesoemo, Universitas Janabadra, Yogyakarta, Rabu (7/10/2026) pagi, menandai babak baru infrastruktur pembinaan sepak bola di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Direktur Utama PSIM, Liana Tasno, menyebut kolaborasi ini sebagai tonggak penting bagi klub. Menurutnya, kehadiran training ground menjadi prasyarat utama untuk memperkuat ekosistem pembinaan pemain muda, khususnya PSIM ABC (Akademi Bintang Cendekia). "Kerja sama training ground ini adalah milestone baru untuk PSIM Jogja, kami ingin merealisasikan ini sebagai bentuk dukungan terbaik untuk youth development, yakni untuk PSIM ABC," ujar Liana dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas momentum peringatan ulang tahun ke-68 Universitas Janabadra. "Selamat ulang tahun juga untuk Janabadra ke-68, saya sangat turut berbahagia sudah merealisasikan kerja sama antara Janabadra dengan PSIM untuk merealisasikan lapangan standar FIFA," lanjutnya.
Pembangunan training ground diharapkan tidak memakan waktu lama. PSIM dan Janabadra menargetkan fasilitas tersebut dapat digunakan pada awal tahun 2027. "Semoga kita bisa menciptakan atau mencetak pesepak bola melalui training ground ini sebentar lagi, mudah-mudahan awal tahun 2027," kata Liana, yang berusia 43 tahun.
Kerja sama ini tidak sekadar membangun lapangan, tetapi juga mengusung misi lebih luas: menggabungkan pembinaan atlet dengan nilai-nilai pendidikan dan pembentukan karakter. "Ke depannya saya berharap visi bersama antara Janabadra dan PSIM dapat terwujud, PSIM akan mendukung penuh filosofi mulia Janabadra dalam melahirkan manusia berbudi pekerti, berpengetahuan, dan berkarakter baik melalui jalur keolahragaan," harap Liana.
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Janabadra, Surjadiman, menegaskan bahwa kolaborasi ini memiliki akar sejarah. Ia menyebut Erwan Hendarwanto, alumni jurusan manajemen Universitas Janabadra, sebagai figur sentral di balik promosi PSIM ke Liga 1 dua tahun lalu. Saat ini Erwan menjabat sebagai Direktur Akademi EPA. "Terima kasih kepada Ibu Yuliana Tasno karena bersedia bekerja sama dengan UJB untuk mewujudkan serta membangun lapangan sepak bola dengan kualitas baik berstandar FIFA," ucap Surjadiman.
Bagi PSIM, pembangunan training ground berstandar FIFA menjadi langkah konkret untuk mengejar ketertinggalan dari klub-klub Liga 1 lain yang lebih dulu memiliki fasilitas latihan mandiri. Ketersediaan lapangan dengan standar internasional tidak hanya meningkatkan kualitas sesi latihan, tetapi juga menjadi magnet bagi talenta muda untuk bergabung dengan akademi. Dalam jangka panjang, ini berpotensi memperkuat fondasi tim utama tanpa harus selalu bergantung pada rekrutan dari luar daerah.
Di sisi lain, Universitas Janabadra memperoleh manfaat ganda: memperkuat posisi sebagai institusi yang mendukung pengembangan olahraga, sekaligus memperluas jejaring dengan dunia profesional. Integrasi nilai akademik dan karakter ke dalam pembinaan atlet sejalan dengan tren global di mana klub-klub besar menjalin kemitraan dengan universitas untuk menciptakan atlet yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan intelektual.
Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada eksekusi tepat waktu dan konsistensi pendanaan. Jika target awal 2027 terpenuhi, PSIM dapat segera mengintegrasikan training ground ke dalam kurikulum pembinaan usia dini, sekaligus mengundang turnamen-turnamen kelompok umur yang membutuhkan fasilitas memadai. Pertanyaannya, akankah langkah ini menjadi katalis bagi klub-klub Liga 1 lain untuk berinvestasi pada infrastruktur pembinaan, atau tetap menjadi pengecualian di tengah keterbatasan finansial sepak bola nasional?



