Wahyu Prasetyo, Tembok Kokoh Garudayaksa FC: Julukan Hulk hingga Ritual Dangdut Sebelum Bertanding
Baca dalam 60 detik
- Wahyu Prasetyo dipercaya menjadi kapten Garudayaksa FC setelah didatangkan dari Dewa United, memperkuat lini belakang tim promosi di BRI Super League 2026/2027.
- Julukan 'Hulk' yang melekat sejak masa futsal di Batang menjadi simbol kekuatan fisiknya, sementara ritual mendengarkan sholawat dan dangdut menjadi penopang mental sebelum bertanding.
- Garudayaksa FC akan menghadapi Persita Tangerang di Banten International Stadium, Sabtu (10/10/2026), dengan Wahyu diprediksi tetap menjadi pilihan utama di starting XI.

Wahyu Prasetyo menegaskan posisinya sebagai pilar utama Garudayaksa FC. Bek berusia 28 tahun itu tidak hanya bertugas mengawal jantung pertahanan, tetapi juga menyandang ban kapten di klub promosi yang kini berlaga di kasta teratas BRI Super League 2026/2027.
Didatangkan dari Dewa United, Wahyu langsung dipercaya mengisi lini belakang Garudayaksa. Statusnya sebagai pemain Timnas Indonesia—terakhir tampil di Piala AFF 2026—menjadi nilai tambah tersendiri. Pelatih Milos Joksic diprediksi tetap menurunkannya sebagai starter saat Garudayaksa menantang Persita Tangerang di Banten International Stadium, Serang, Sabtu (10/10/2026) pukul 15.30 WIB.
Sejauh ini, Wahyu telah tampil dalam tiga laga Garudayaksa di kompetisi domestik. Hasilnya belum sepenuhnya memuaskan: dua kali imbang dan sekali kalah. Meski demikian, kehadiran pemain kelahiran Batang, Jawa Tengah, itu tetap menjadi jangkar pertahanan yang diandalkan.
Julukan 'Hulk' yang disematkan rekan-rekannya bukan tanpa alasan. Postur tubuhnya yang menjulang 185 sentimeter dan kekar membuatnya tangguh dalam duel udara maupun darat. Julukan itu rupanya sudah melekat jauh sebelum ia meniti karier sebagai pesepak bola profesional.
"Sejak ikut turnamen futsal di Batang. Itu nama panggilan yang dikasih teman-teman saya di Batang. Mungkin karena saya berbadan besar dan kuat," ujar Wahyu, mengenang asal-usul julukan tersebut.
Kekuatan fisik menjadi modal berharga, terutama ketika berhadapan dengan penyerang asing yang juga berpostur raksasa. Wahyu mengaku kerap mendapat reaksi dari lawan usai duel sengit. "Mungkin dia bilang, 'Kamu kuat sekali, bro'. Itu aja sih. Selebihnya kita ya profesional lagi," tambahnya.
Bagi tim promosi seperti Garudayaksa, tekanan bertarung di kasta tertinggi jelas lebih berat. Untuk menjaga stabilitas mental dan semangat juang, Wahyu memiliki ritual khusus sebelum memasuki lapangan. Ia selalu menyempatkan mendengarkan sholawat, lalu diakhiri dengan alunan dangdut. "Tentunya pertama, dengerin sholawat. Yang terakhir dangdut. Jangan lupa itu, dangdut," tuturnya.
Kombinasi pengalaman, kepemimpinan, dan kekuatan fisik membuat Wahyu menjadi sosok sentral di ruang ganti Garudayaksa. Label pemain timnas dan jam terbang yang mumpuni diyakini semakin menambah rasa percaya dirinya setiap kali bertanding.
Menghadapi Persita Tangerang, Garudayaksa FC berpeluang bangkit dari hasil kurang memuaskan. Kehadiran Wahyu di lini belakang menjadi kunci untuk meredam agresivitas lawan. Pertanyaannya, mampukah sang kapten menginspirasi rekan-rekannya meraih kemenangan perdana di kompetisi musim ini?



