Hari ke-22 KM Virgo 8: Dua Jasad Ditemukan di Seruyan, 53 Korban Masih Dicari
Baca dalam 60 detik
- Tim SAR darat menemukan dua jasad korban KM Virgo Transport 8 di perairan Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Minggu (4/10).
- Basarnas menghentikan operasi penyelaman karena kondisi jasad dan struktur kapal yang labil, beralih fokus ke pencarian korban hanyut di perairan Kalsel, Kalteng, dan Kalbar.
- Dari 243 orang dalam manifes, 190 telah ditemukan (108 selamat, 82 meninggal), sementara 53 lainnya masih dalam pencarian.

Tim Search and Rescue Unit (SRU) darat Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya menemukan dua jasad korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Minggu (4/10). Penemuan ini memperpanjang daftar korban yang berhasil dievakuasi, namun sekaligus menegaskan bahwa operasi SAR masih jauh dari tuntas.
Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin yang juga menjabat sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), I Putu Sudayana, menyatakan kedua jasad ditemukan saat tim gabungan melakukan penyisiran di wilayah Seruyan. "Setelah ditemukan, kedua korban dievakuasi menggunakan Kapal RIB 02 Kantor SAR Palangka Raya menuju Pos TNI AL Kumai untuk selanjutnya mendapatkan penanganan dan proses identifikasi oleh tim terkait untuk memastikan data dan status korban," ujarnya di Banjarmasin, Minggu.
Penemuan tersebut menjadi bagian dari pencarian lanjutan yang masih dilakukan di wilayah darat dan perairan Kalimantan Tengah. Operasi SAR melibatkan Basarnas, TNI, Polri, serta sejumlah potensi SAR lainnya. Tim gabungan terus menyisir berbagai titik fokus yang telah ditetapkan, baik melalui jalur darat maupun laut.
Hingga hari ke-22 operasi SAR pada Minggu pukul 17.30 Wita, Basarnas mencatat sebanyak 190 orang telah ditemukan. Rinciannya, 108 orang selamat dan 82 orang meninggal dunia. Sementara itu, 53 korban masih dalam pencarian dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo Transport 8.
Keputusan menghentikan operasi penyelaman diambil pada Sabtu (3/10) setelah evaluasi hari ke-21. Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjelaskan bahwa kondisi jasad korban telah berubah sehingga operasi bawah air dinilai tidak lagi efektif. "Pada beberapa hari pertama kondisi korban yang dievakuasi dari dalam kapal yang tenggelam masih memungkinkan untuk terapung, sehingga ketika berhasil dikeluarkan dari dalam kapal, korban dapat diterima di atas air laut dengan komunikasi yang dimiliki tim," kata Syafii dalam konferensi pers di Banjarmasin, Sabtu malam.
Namun, lanjutnya, perubahan struktur kapal setiap hari sejak awal operasi membuat kondisi semakin sulit. "Jika pada hari-hari sebelumnya korban dapat naik dengan sendirinya setelah dikeluarkan, kini korban dapat terurai ketika berhasil dikeluarkan dari dalam kapal. Karena itu, tidak efektif kalau operasi underwater ini kita teruskan dalam kondisi sekarang," ujarnya.
"Kemampuan maksimal penyelaman terhadap badan kapal telah dilakukan, dan tiga hari terakhir ini tidak menemukan korban lagi." โ Kepala Basarnas Mohammad Syafii
Syafii berharap operasi salvage atau pengangkatan badan kapal oleh pemilik kapal dapat segera dilaksanakan. Menurutnya, langkah itu penting untuk memastikan korban yang masih berada di dalam kapal benar-benar berada di lokasi tersebut, sehingga evakuasi dapat dilakukan ketika kapal berhasil diangkat dari dasar laut. Ia juga menyebut masih ada bagian kapal yang belum tersentuh penyelam, termasuk lambung kiri, tetapi kondisi di dalam kapal sangat labil dan membahayakan penyelam.
Meski menghentikan operasi penyelaman, Basarnas memutuskan tetap melanjutkan operasi SAR dengan memfokuskan pencarian pada wilayah-wilayah yang berpotensi menjadi lokasi korban hanyut terbawa arus air laut, yakni di perairan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Strategi ini menandai pergeseran dari pencarian bawah air ke penyisiran permukaan dan pesisir.
Kecelakaan KM Virgo Transport 8 menjadi salah satu tragedi maritim terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Proses evakuasi yang panjang dan rumit menyoroti tantangan operasi SAR di perairan dengan kondisi arus dan kedalaman yang menantang. Selain itu, koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam upaya penyelamatan yang melibatkan banyak pihak.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada pelaksanaan operasi salvage oleh pemilik kapal. Jika pengangkatan badan kapal berhasil dilakukan, peluang menemukan korban yang masih terjebak di dalamnya akan terbuka. Namun, tanpa langkah tersebut, upaya pencarian hanya bisa mengandalkan penyisiran di perairan terbuka yang semakin sulit seiring berjalannya waktu. Akankah operasi salvage segera terwujud, dan berapa lama lagi keluarga korban harus menunggu kepastian?



