GP Bahrain di Sepang Berantakan, Pebalap F1 Serang Regulasi Mesin: 'Kami Tidak Bisa Mengerti Apa yang Terjadi'
Baca dalam 60 detik
- Software kontrol mesin gagal berfungsi di lintasan basah, memaksa start GP Bahrain di Sepang ditunda 53 menit dan sejumlah mobil berhenti di trek.
- Para pebalap—dari Antonelli, Hamilton, Verstappen, hingga Norris—menuntut evaluasi menyeluruh atas formula mesin hybrid yang dinilai terlalu rumit dan berisiko.
- FIA mengakui kurangnya pengujian dalam kondisi hujan, sementara perubahan regulasi besar baru akan berlaku pada 2028.

Balapan Formula 1 di Sirkuit Sepang, Malaysia, nyaris berubah menjadi tontonan kacau ketika sejumlah mobil tiba-tiba kehilangan tenaga dan berhenti di lintasan sebelum start. Insiden ini memicu gelombang kritik dari para pebalap terhadap regulasi mesin hybrid yang berlaku saat ini, yang mereka nilai terlalu bergantung pada perangkat elektronik dan kurang teruji dalam kondisi ekstrem.
Kekacauan bermula saat sesi formation lap dalam kondisi basah. Mobil-mobil yang seharusnya melaju perlahan menuju grid justru mengalami penurunan daya secara mendadak. Beberapa pebalap melaporkan mesin mati total dan harus dihidupkan ulang di tempat. Pebalap Mercedes, Kimi Antonelli, menyebut situasi itu sebagai "gila" karena ia dan beberapa pembalap lain sempat berbaris lima sejajar di lintasan lurus tanpa memahami apa yang sedang terjadi. Lewis Hamilton, yang juga menjadi korban, mengaku harus mematikan dan menyalakan kembali mesinnya—sesuatu yang belum pernah ia alami sepanjang karier.
Akibatnya, start balapan terpaksa dibatalkan dan seluruh rombongan kembali ke pit lane. Perbaikan perangkat lunak memakan waktu 53 menit, sebuah penundaan yang jarang terjadi dan langsung memantik kemarahan para pebalap. Max Verstappen, yang akhirnya memenangi balapan, mengulangi kritiknya terhadap regulasi mesin. Menurutnya, kejadian ini adalah pukulan bagi citra olahraga dan seharusnya menjadi pelajaran berharga.
FIA, badan pengatur F1, menyebut insiden itu sebagai "kehilangan daya yang tidak disengaja". Direktur single-seater FIA, Nikolas Tombazis, mengakui pihaknya tidak sempat menguji perangkat lunak secara menyeluruh karena minimnya sesi latihan di lintasan basah sepanjang tahun. Ia menjelaskan bahwa kombinasi kondisi trek dan efek berantai antar mobil membuat bug tersebut aktif, menghalangi redistribusi daya dan membuat mobil tidak bisa bergerak lagi.
"Kami tidak menguji software itu seintensif yang kami inginkan karena sangat sedikit sesi basah tahun ini. Jika ada lebih banyak pengujian, kami mungkin bisa menangkap bug ini lebih awal," ujar Tombazis.
Kritik tidak hanya datang dari mereka yang terkena langsung. Lando Norris, juara bertahan yang finis kesembilan untuk McLaren, menyebut regulasi mesin saat ini "sangat buruk" dan menegaskan bahwa elemen elektronik seharusnya tidak mendominasi. Carlos Sainz dari Williams mempertanyakan arah pengambilan keputusan lima tahun lalu yang membawa F1 ke titik ini. Menurutnya, regulasi terlalu rumit bagi pebalap, tim, unit daya, hingga produsen.
Persoalan ini bukan sekadar insiden teknis semata. Formula 1 sedang berada di persimpangan antara inovasi teknologi dan keandalan balapan. Ketergantungan pada perangkat lunak yang kompleks memang menjadi konsekuensi dari target efisiensi energi dan keberlanjutan, tetapi jika tidak diimbangi dengan pengujian menyeluruh, risiko kegagalan di lintasan akan terus menghantui. Para pebalap, yang adalah ujung tombak pertunjukan, kini mempertanyakan apakah arah regulasi sudah tepat atau justru menjauh dari esensi balapan.
Bagi Indonesia, dinamika ini bisa menjadi cermin. Sejumlah ajang balap nasional dan regional mulai mengadopsi teknologi hybrid dan sistem kontrol elektronik. Pelajaran dari Sepang menunjukkan bahwa adopsi teknologi canggih harus disertai dengan kesiapan infrastruktur dan pengujian yang memadai, terutama di negara dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia. Tanpa itu, risiko kecelakaan dan penundaan bisa mengancam keberlangsungan even.
FIA berjanji akan mempercepat evaluasi dan memperbarui prosedur pengujian. Namun, perubahan regulasi besar baru akan efektif pada 2028. Sementara itu, para pebalap dan tim menuntut transparansi serta perbaikan jangka pendek. Pertanyaannya, apakah insiden di Sepang akan menjadi momentum untuk merombak total pendekatan teknologi F1, atau hanya menjadi catatan kelam yang terlupakan setelah balapan berikutnya?



