Basarnas Setop Penyelaman KM Virgo 8, Alihkan Pencarian ke Perairan Tiga Provinsi
Baca dalam 60 detik
- Basarnas menghentikan operasi bawah air karena kondisi jasad korban yang memburuk dan struktur kapal yang labil.
- Pencarian dialihkan ke perairan Kalimantan Selatan, Tengah, dan Barat untuk mengantisipasi korban hanyut.
- Dari 243 orang dalam manifes, 190 telah ditemukan; 53 lainnya masih dalam pencarian.

Banjarmasin โ Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Mohammad Syafii mengumumkan penghentian operasi penyelaman untuk mengevakuasi korban KM Virgo Transport 8 yang masih hilang. Keputusan ini diambil setelah evaluasi pada hari ke-21 menunjukkan bahwa kondisi jasad korban di dalam kapal telah mengalami perubahan signifikan, sehingga pencarian bawah air dinilai tidak lagi efektif dan berisiko membahayakan penyelam.
Dalam konferensi pers di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (3/4) malam, Syafii menjelaskan bahwa pada hari-hari awal operasi, korban yang berhasil dikeluarkan dari kapal masih dapat terapung dan diterima tim SAR di permukaan laut. Namun, seiring berjalannya waktu, struktur kapal yang terus berubah membuat proses evakuasi semakin sulit. "Jika sebelumnya korban dapat naik dengan sendirinya, kini korban dapat terurai ketika dikeluarkan. Karena itu, tidak efektif jika operasi bawah air dilanjutkan dalam kondisi sekarang," ujarnya.
Basarnas mencatat bahwa kemampuan maksimal penyelaman telah dilakukan, dan dalam tiga hari terakhir tidak ada korban yang ditemukan. Selain itu, sejumlah bagian kapal, termasuk lambung kiri, belum dapat dijangkau karena kondisi internal yang sangat labil dan berpotensi membahayakan keselamatan penyelam. Oleh karena itu, Basarnas berharap pemilik kapal segera melakukan operasi salvage atau pengangkatan badan kapal untuk memastikan keberadaan korban yang diduga masih terjebak di dalamnya.
Meski operasi penyelaman dihentikan, pencarian korban tetap dilanjutkan dengan fokus baru. Berdasarkan evaluasi hari ke-21, tim SAR akan memusatkan pencarian di wilayah perairan yang berpotensi menjadi lokasi korban hanyut terbawa arus laut, meliputi perairan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat. Perluasan area ini mencerminkan pergeseran strategi dari evakuasi bawah air ke pencarian permukaan, seiring dengan kondisi lingkungan yang terus berubah.
Hingga hari ke-22 operasi SAR, Minggu pukul 17.30 Wita, Basarnas mengonfirmasi bahwa dari 243 orang dalam manifes, 190 telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 82 orang meninggal dunia. Sementara itu, 53 korban lainnya masih dalam proses pencarian. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari seperlima penumpang belum ditemukan, menandakan tantangan besar yang masih dihadapi tim SAR di lapangan.
Keputusan penghentian penyelaman ini menyoroti kompleksitas operasi SAR di perairan dalam, terutama ketika kondisi bangkai kapal terus mengalami degradasi. Faktor keselamatan penyelam menjadi prioritas utama, mengingat risiko yang timbul dari struktur kapal yang tidak stabil. Selain itu, koordinasi dengan pemilik kapal untuk operasi salvage menjadi krusial agar evakuasi korban yang tersisa dapat dilakukan dengan lebih aman dan efektif setelah kapal diangkat.
Ke depan, keberhasilan pencarian korban yang masih hilang akan sangat bergantung pada kerja sama antara Basarnas, pemilik kapal, dan pihak terkait lainnya. Operasi salvage yang diharapkan segera dilakukan tidak hanya membantu menemukan korban, tetapi juga memberikan kejelasan bagi keluarga yang menunggu. Sementara itu, perluasan area pencarian ke tiga provinsi menunjukkan bahwa arus laut mungkin telah membawa korban ke lokasi yang lebih jauh, sehingga upaya pencarian harus terus dilakukan dengan cermat.
Dengan berakhirnya operasi penyelaman, perhatian kini beralih ke upaya pengangkatan kapal dan pencarian di permukaan. Apakah operasi salvage akan segera terwujud, dan sejauh mana efektivitas pencarian di perairan luas dapat mengungkap keberadaan 53 korban yang masih hilang? Hanya waktu yang akan menjawab, namun komitmen untuk tidak meninggalkan korban tetap menjadi prioritas.



