Drone Rusia Hantam Jembatan Utama Kyiv Saat Kanselir Jerman Tiba, Sinyal Eskalasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone Rusia mengenai Jembatan Utara Kyiv hanya beberapa saat setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz tiba di ibu kota Ukraina untuk kunjungan tak terduga.
- Ini adalah hari keempat berturut-turut Rusia menyasar jembatan strategis di Kyiv, memaksa penutupan lima dari enam jembatan dan memicu kemacetan parah.
- Kunjungan Merz menyoroti peran Jerman sebagai penyokong militer terbesar Ukraina, tetapi juga memicu kritik domestik dari partai sayap kanan dan kiri yang menolak bantuan lebih lanjut.

Serangan drone Rusia menghantam Jembatan Utara yang melintasi Sungai Dnipro di Kyiv pada saat Kanselir Jerman Friedrich Merz sedang berada di kota itu untuk kunjungan tak terduga, menandai hari keempat berturut-turut Rusia menyasar infrastruktur jembatan yang vital bagi mobilitas warga. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah Merz tiba, mempertegas ketegangan yang terus meningkat di Ukraina menjelang musim dingin.
Menurut Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko, dua orang terluka dalam serangan yang terekam dalam video memperlihatkan drone menukik ke jalan jembatan dan meledak di tengah arus kendaraan. Jembatan Utara sendiri sebelumnya sudah mengalami kerusakan akibat serangan-serangan sebelumnya. Otoritas kota kini membatasi atau menutup lalu lintas di lima dari enam jembatan jalan utama yang membentang di atas Dnipro, menyebabkan penutupan sementara dan kemacetan lalu lintas yang parah.
Kunjungan Merz, yang merupakan kunjungan keduanya ke Ukraina sejak menjabat, bertujuan menegaskan dukungan Jerman yang selama ini menjadi penyedia bantuan militer terbesar bagi Kyiv, melampaui Amerika Serikat yang dukungannya menurun. Dalam pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Merz menyatakan bahwa Ukraina "membutuhkan seluruh dukungan kita dalam beberapa pekan mendatang" dan memperingatkan bahwa jika Rusia tidak dihentikan, mesin perangnya akan berbalik melawan Eropa. Zelenskyy menggambarkan rakyat Kyiv mengalami "malam dan siang yang mengerikan" serta menyebut Rusia sebagai "barbar absolut".
Serangan terhadap jembatan merupakan bagian dari kampanye Rusia yang lebih luas terhadap infrastruktur sipil dan industri di Ukraina. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan telah menghantam pusat logistik, jalur kereta api, pusat data, fasilitas penyimpanan medis, dan pabrik baja, di samping serangan sistematis terhadap sistem energi yang diperkirakan akan meningkat selama musim dingin. Kyiv kini menghadapi ancaman kehilangan pasokan listrik, sementara serangan drone jet-powered generasi baru Rusia terus mengganggu kehidupan sehari-hari.
Di Moskow, sejumlah komentator pro-perang menyoroti bahwa serangan terhadap Kyiv terus berlanjut meskipun ada kunjungan politikus Eropa. Sergei Markov, seorang komentator terkemuka, menulis bahwa Rusia biasanya menghentikan serangan selama kunjungan politikus Eropa, namun kini tidak lagi. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia pada Sabtu memperingatkan warga asing dan staf diplomatik agar tidak tinggal atau bepergian ke Ukraina, dengan menyatakan bahwa tanggung jawab atas konsekuensi buruk sepenuhnya berada pada mereka yang mengabaikan peringatan tersebut.
Kunjungan Merz juga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpuasan domestik di Jerman terhadap dukungannya untuk Ukraina. Partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) dan sayap kiri menyerukan pengurangan bantuan. Alice Weidel, salah satu pemimpin AfD, mengkritik Merz karena menjanjikan miliaran euro tambahan dari uang pembayar pajak Jerman saat negara itu dilanda krisis energi terburuk. Tekanan ini menguat seiring dengan perolehan elektoral signifikan yang diraih AfD.
"Kami dapat melihat betapa sia-sianya perang ini di tempat ini," ujar Merz, seraya menambahkan bahwa Ukraina membutuhkan dukungan penuh dalam beberapa pekan ke depan. "Jika Rusia tidak dihentikan, mesin perangnya cepat atau lambat akan berbalik melawan kita."
Dengan intensitas serangan yang terus meningkat dan musim dingin yang semakin dekat, Ukraina berada dalam salah satu periode paling genting sejak invasi besar-besaran 2022. Dukungan internasional, terutama dari Jerman, akan menjadi faktor penentu tidak hanya bagi kemampuan Kyiv bertahan, tetapi juga bagi stabilitas keamanan Eropa secara keseluruhan. Akankah tekanan domestik di Jerman mengubah arah kebijakan Merz, atau justru memperkuat komitmennya di tengah ancaman Rusia yang semakin nyata?



