El Niño Terkuat dalam Sejarah Mengintai California: Banjir, Longsor, dan Gelombang Panas Serentak
Baca dalam 60 detik
- California bersiap menghadapi El Niño kuat yang diprediksi memicu banjir bandang, tanah longsor, dan kenaikan permukaan laut hingga 30 cm.
- Pemerintah negara bagian mengerahkan sumber daya darurat, memperkuat tanggul, dan membersihkan saluran air sejak dini.
- Kombinasi gelombang panas, kebakaran hutan, dan badai ekstrem berpotensi terjadi bersamaan, mengancam komunitas yang belum pulih dari bencana sebelumnya.

California berada di jalur bersejarah El Niño yang diprediksi menghadirkan cuaca ekstrem simultan: banjir bandang, tanah longsor, dan gelombang panas yang tak biasa. Otoritas negara bagian telah menetapkan status darurat sejak 21 September untuk mengantisipasi dampak yang bisa datang bersamaan.
Fenomena iklim yang ditandai menghangatnya suhu permukaan laut di Pasifik ekuator ini diperkirakan menguat sepanjang musim gugur dan dingin belahan Bumi utara. California menjadi salah satu wilayah paling rentan karena garis pantainya membentang sekitar 1.240 kilometer. Menurut Michael Anderson, ahli iklim negara bagian, El Niño akan menambah kenaikan permukaan laut hingga 30 sentimeter, di atas kenaikan 20–30 sentimeter yang sudah terjadi akibat krisis iklim selama seabad terakhir.
Yang menjadi perhatian utama bukan hanya banjir rob, melainkan efek berganda. Nick Brubaker, kepala ketahanan kantor manajemen darurat Marin County, menyebut pihaknya mewaspadai bagaimana berbagai bencana bisa saling memperkuat. “Kami benar-benar melihat elemen gabungan,” ujarnya. Wilayah selatan California biasanya mengalami musim dingin lebih basah, sementara bagian utara belum tentu demikian.
Persiapan masif dilakukan di berbagai daerah. Di Long Beach, karung pasir besar melapisi tembok laut yang jebol akibat gelombang tinggi. Orange County mengerahkan ratusan ribu meter kubik pasir untuk menahan erosi. Petugas di San Diego mendatangi rumah ke rumah untuk membantu usaha kecil bersiap. Los Angeles County telah membersihkan saluran air, menguji 14 bendungan, dan menyiagakan reservoir. “Kami mengasumsikan akan turun hujan dengan intensitas tinggi,” kata Mark Pestrella, direktur pekerjaan umum county.
Namun, tantangan terbesar justru di wilayah bekas kebakaran hutan. Kebakaran besar Januari 2025 menghanguskan lebih dari 16.000 bangunan di Pacific Palisades dan Altadena. Pestrella memperkirakan butuh lima tahun bagi daerah aliran sungai dan lereng bukit untuk pulih sehingga mampu menahan hujan deras. Selama masa itu, risiko aliran puing meningkat tajam.
“Kami tidak akan pernah punya cukup sumber daya saat bencana awal untuk mendukung setiap orang. Komunitas adalah perekat yang membawa kami melewati bencana ini — tetangga membantu tetangga menyelamatkan nyawa.” — Kevin McGowan, direktur manajemen darurat Los Angeles.
Di sisi lain, gelombang panas dan risiko kebakaran masih mengintai hingga November. Kevin McGowan dari manajemen darurat Los Angeles mengingatkan bahwa musim kebakaran bisa memuncak sepanjang musim dingin. “Orang-orang harus terus bersiap bukan hanya untuk satu bahaya, tetapi semua bahaya,” tegasnya. Sementara itu, Mary Ellen Carroll dari manajemen darurat San Francisco mengatakan masih ada waktu dua bulan untuk bersiap. “Rasanya seperti merencanakan gempa, tapi saya punya waktu dua bulan,” ujarnya.
El Niño juga berdampak pada pola pasang surut. Pasang tertinggi (king tides) diperkirakan terjadi pada pekan Thanksgiving, Natal, dan akhir pekan panjang Martin Luther King Jr, yang berpotensi memperparah banjir pesisir. Di Santa Cruz, manajer layanan darurat Meredith Albert menyatakan kesiapan telah ditingkatkan, termasuk lokakarya lingkungan untuk membangun ketahanan komunitas. “Koneksi komunitas adalah pembeda antara bencana yang tak bisa dipulihkan dan bencana yang bisa dipelajari,” katanya.
Bagi Indonesia, fenomena El Niño juga membawa implikasi signifikan. Negara kepulauan ini kerap mengalami kekeringan berkepanjangan, gagal panen, dan krisis air bersih saat El Niño menguat. Pelajaran dari California — mulai dari kesiapsiagaan dini, penguatan infrastruktur, hingga pemberdayaan komunitas — dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah di Indonesia dalam menghadapi ancaman serupa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu terus memperbarui prakiraan musim dan menyosialisasikan risiko ke masyarakat pesisir dan petani.
Pertanyaannya, apakah California — dan negara-negara lain yang terdampak — mampu mengubah peringatan menjadi tindakan nyata sebelum bencana benar-benar melanda? Waktu terus berjalan, dan El Niño tidak menunggu siapa pun.



