Tersangka Pembunuhan Ann Widdecombe Hadapi Dakwaan Terorisme, Diduga Incar Rumah Nigel Farage
Baca dalam 60 detik
- Joshua Kerry, 28, kini menghadapi tuduhan baru menyiapkan aksi terorisme dengan target sejumlah tokoh publik, termasuk pemimpin Reform UK Nigel Farage.
- Jaksa mengungkap adanya kerusakan pada kusen pintu rumah Farage dan botol cairan pemantik api di teras, yang diduga terkait upaya penyusupan.
- Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran keamanan pejabat publik di Inggris dan berpotensi memicu perdebatan tentang perlindungan figur politik.

Joshua Kerry, pria berusia 28 tahun yang telah didakwa atas pembunuhan mantan anggota parlemen Ann Widdecombe, kembali menghadapi tuduhan baru yang lebih serius: menyiapkan tindakan terorisme. Dalam sidang di Westminster Magistrates' Court, jaksa mengungkap bahwa Kerry diduga melakukan pengintaian daring terhadap sejumlah tokoh dan institusi penting, termasuk mengidentifikasi kediaman pemimpin Reform UK, Nigel Farage.
Jaksa Kashif Malik menyatakan bahwa Kerry melakukan riset online terhadap "orang-orang dan institusi terkemuka... termasuk menemukan alamat rumah Nigel Farage". Lebih lanjut, jaksa mengungkap adanya kerusakan pada kusen pintu rumah Farage, yang menyiratkan upaya masuk paksa. Insiden ini pertama kali diketahui pada April 2025 ketika pasangan Farage menemukan kerusakan pada pintu depan utama dan sebuah botol cairan pemantik api di teras rumah mereka.
Kerry, yang tampil di ruang sidang dengan janggut tebal dan mengenakan kaus abu-abu, hanya berbicara untuk mengonfirmasi alamatnya di Rotherham dan tanggal lahirnya. Ia dikawal empat petugas tahanan dan diperintahkan tetap dalam tahanan hingga sidang lanjutan di Old Bailey pada Jumat mendatang. Dakwaan baru ini mencakup periode antara 31 Mei 2024 hingga 8 Juli 2026, di mana Kerry dituduh melakukan persiapan teror dengan meneliti target dan mencoba memasuki kediaman Farage.
Ann Widdecombe, yang meninggal pada 9 Juli di rumahnya di Haytor, Devon, akibat luka serius, adalah figur politik veteran. Ia menjabat sebagai anggota parlemen Konservatif untuk Maidstone dan The Weald selama 23 tahun dan pernah menjadi menteri di era John Major pada 1990-an. Pada 2019, ia bergabung dengan Reform UK dan menjadi juru bicara partai tersebut. Kematiannya mengguncang lanskap politik Inggris, dan kasus ini menyoroti risiko yang dihadapi politikus terkemuka.
"Kami menemukan indikasi bahwa upaya telah dilakukan untuk memasuki rumah tersebut," ujar jaksa Kashif Malik di pengadilan.
Kasus ini bukan sekadar kejahatan tunggal; ia mencerminkan meningkatnya ancaman terhadap keamanan pejabat publik di Inggris. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan terhadap politikus dan aktivis semakin sering terjadi, memicu pertanyaan tentang efektivitas perlindungan yang ada. Farage, sebagai tokoh kontroversial dan pemimpin partai sayap kanan, sering menjadi sasaran kritik maupun ancaman. Insiden di rumahnya menambah daftar panjang kekhawatiran akan keselamatan figur politik di tengah polarisasi yang memanas.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya protokol keamanan bagi pejabat negara dan tokoh publik. Meskipun konteks politiknya berbeda, eskalasi kekerasan terhadap simbol-simbol politik di negara maju seperti Inggris dapat menjadi cermin bagi Indonesia untuk terus memperkuat sistem pengamanan, terutama di era digital di mana informasi pribadi mudah diakses. Pengintaian daring yang dilakukan Kerry menunjukkan bagaimana teknologi dapat disalahgunakan untuk merencanakan aksi berbahaya.
Ke depan, sidang di Old Bailey akan menjadi ujian bagi sistem peradilan Inggris dalam menangani kasus yang menggabungkan terorisme dan pembunuhan. Publik menanti apakah dakwaan baru ini akan memperkuat kasus terhadap Kerry atau justru membuka babak baru dalam penyelidikan. Yang jelas, peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan mempertanyakan sejauh mana negara mampu melindungi mereka yang mengabdi pada publik.



