Densus 88 Grebek Tiga Wilayah: Bandung, Klaten, Sulteng dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Densus 88 Antiteror menangkap sejumlah terduga teroris di Bandung, Klaten, dan Sulawesi Tengah dalam operasi terpisah pada Jumat (2/10).
- Barang bukti elektronik dan dokumen disita dari rumah kontrakan yang dihuni para terduga, sementara keluarga tidak ditahan.
- Polisi masih mendalami afiliasi jaringan ketiga terduga di Sulteng, sementara publik diminta waspada tanpa panik.

Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggelar serangkaian penangkapan terhadap sejumlah terduga teroris di tiga lokasi berbeda—Bandung (Jawa Barat), Klaten (Jawa Tengah), dan Sulawesi Tengah—pada Jumat (2/10). Operasi ini menandai gelombang penindakan baru terhadap sel-sel yang diduga masih aktif di sejumlah daerah.
Di Bandung, penggeledahan dilakukan di sebuah rumah kontrakan di Parakan Saat, Kecamatan Antapani, setelah polisi lebih dulu meringkus seorang pria yang diduga bagian dari jaringan terorisme. Dari lokasi, petugas menyita perangkat elektronik seperti flashdisk, kartu perdana, dan ponsel. Ketua RT setempat, Agus, menyebut proses hukum terhadap terduga dilakukan pada hari yang sama. Saat penggeledahan, di dalam rumah hanya ada istri dan dua anak terduga. Polwan dikerahkan mendampingi anak-anak agar kondisi psikologis mereka tetap terjaga. Istri dan anak dipastikan tidak ikut diamankan.
Di Klaten, Densus 88 menangkap dua pria berinisial N dan Y di Desa Palar, Kecamatan Trucuk. Keduanya penghuni rumah kontrakan. Dari kediaman N, petugas menyita satu tablet, dua ponsel, dan tujuh buku yang diduga berkaitan dengan aktivitas terorisme. N disebut baru mengontrak sekitar dua tahun dan jarang berinteraksi dengan warga. Menurut Kasi Pemerintahan Desa Palar, Didit Agung Prihantoro, N berprofesi sebagai pengajar di sebuah pondok di Desa Temuwangi. "Orangnya jarang keluar, hanya bekerja dan belanja," ujarnya. Sementara dari rumah Y, tim hanya membawa hard disk. Y dikenal sebagai tukang reparasi elektronik dan berasal dari Boyolali. Keduanya sudah berkeluarga dengan tiga anak.
Di Sulawesi Tengah, Densus 88 Polda Sulteng menangkap tiga terduga teroris di dua lokasi: dua orang berinisial A dan GG di Desa Tomoli Utara, Kecamatan Toribulu, Parigi Moutong, serta satu orang berinisial S di Kabupaten Poso. Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Achmad Muhaimin menyatakan tim masih mendalami keterkaitan dan afiliasi jaringan ketiga orang tersebut. "Tim saat ini melakukan pengembangan untuk mengetahui lebih lanjut terkait dugaan afiliasi jaringan terorisme," kata Achmad.
"Kami masih mendalami keterlibatan dan jaringan ketiga terduga. Pengembangan terus dilakukan," ujar Kombes Achmad Muhaimin.
Pola penangkapan yang tersebar di tiga provinsi dalam waktu berdekatan menunjukkan bahwa ancaman terorisme masih menjadi perhatian serius. Meski tidak ada indikasi keterkaitan langsung antar lokasi, metode rekrutmen dan penyebaran ideologi melalui dokumen serta media digital menjadi titik lemah yang terus dipantau aparat. Penggunaan rumah kontrakan sebagai tempat tinggal sementara juga menyulitkan deteksi dini karena minim interaksi dengan lingkungan.
Dari sisi penegakan hukum, pendekatan yang mengedepankan perlindungan anak dan perempuan—seperti pendampingan polwan—menjadi preseden penting. Ini sejalan dengan prinsip hak asasi manusia dalam penanganan terorisme, sekaligus mengurangi risiko radikalisasi generasi berikutnya. Namun, tantangan tetap ada: bagaimana memastikan proses hukum transparan dan tidak menimbulkan stigma terhadap keluarga yang tidak terlibat.
Ke depan, publik menanti apakah jaringan yang terungkap di Bandung, Klaten, dan Sulteng memiliki kaitan dengan kelompok yang lebih besar. Pengungkapan afiliasi akan menentukan langkah pencegahan berikutnya. Pertanyaannya, sejauh mana sel-sel tidur masih tersebar di kota-kota kecil, dan apakah aparat memiliki cukup sumber daya untuk mengawasi pergerakan mereka tanpa mengorbankan kebebasan sipil?



