Gamble Ban Kering di Bahrain: Ferrari dan McLaren Kehilangan Momentum, Hamilton Selamat ke Podium
Baca dalam 60 detik
- Ferrari dan McLaren memilih ban kering saat restart Grand Prix Bahrain di Sepang, keputusan yang berujung kerugian besar di awal balapan.
- Hamilton bertahan lebih lama dengan ban soft dan memanfaatkan safety car akhir untuk merebut podium ketiga, sementara Norris mengakui kesalahan strategi.
- Insiden ini menyoroti pentingnya data historis ban intermediate di kondisi trek basah yang tidak merata, terutama dengan aspal Sepang yang kasar.

Keputusan berani Ferrari dan McLaren untuk memakai ban kering saat restart Grand Prix Bahrain di Sirkuit Sepang, Malaysia, berubah menjadi mimpi buruk. Setelah penundaan selama 1 jam 33 menit akibat hujan deras, kedua tim memilih ban slick—Ferrari dengan kompon soft dan McLaren dengan medium—sementara sebagian besar rival tetap bertahan pada ban intermediate. Pilihan itu langsung terlihat keliru begitu balapan dimulai di belakang safety car, karena permukaan lintasan masih terlalu licin.
McLaren segera berbalik arah dengan memanggil Oscar Piastri untuk mengganti ke ban intermediate sebelum start berdiri, tetapi Lando Norris dan kedua pembalap Ferrari tetap bertahan pada rencana awal. Charles Leclerc akhirnya masuk pit pada akhir lap pertama, namun kehilangan waktu berharga yang membuatnya tertinggal di belakang rekan setimnya, Lewis Hamilton. Sementara itu, Hamilton dan Norris memutuskan untuk terus melaju dengan ban slick, berharap trek segera mengering.
Norris mengungkapkan bahwa keputusan memakai ban slick tampak meyakinkan karena banyak tim lain juga mengambil risiko serupa. "Terasa sedikit berisiko, karena ban slick di trek basah selalu berisiko," ujarnya. "Tapi cukup banyak orang yang memakainya, jadi itu cukup meyakinkan saat itu bahwa itu mungkin keputusan yang tepat." Ia menambahkan bahwa ban intermediate yang ia pakai pada lap menuju grid sudah rusak parah setelah satu putaran, sehingga ia yakin ban slick akan bekerja lebih baik. "Oscar mungkin membuat keputusan yang tepat dengan masuk pit, dan kami salah hari ini," akunya.
Leclerc memiliki teori berbeda: tekstur aspal Sepang yang kasar membuat air menggenang di celah-celah, sehingga sulit membaca kondisi trek. Penurunan suhu akibat hujan juga memperlambat pengeringan lintasan. Meskipun Leclerc segera beralih ke ban intermediate, kehilangan waktu di pit membuatnya tetap tertinggal di belakang Hamilton, yang bertahan lebih lama dengan ban soft dan perlahan mulai menyalip lawan.
"Saat kami keluar dari pit, semua semprotan keluar dari belakang mobil Max, dan saya berpikir, 'oke, saya selesai. Balapan saya benar-benar dalam masalah,'" kenang Hamilton. "Kami hanya harus bertahan. Saat semua orang menyalip saya, mereka [insinyur] berkata, 'kita berhenti.' Saya tahu kami sudah kehilangan 26 detik lagi. Apa bedanya dengan satu menit 40 detik? Jadi saya hanya berkata, 'Mari kita tunggu sampai trek mengering.' Dan setelah mengering, terasa menyenangkan bisa mengejar orang-orang. Mobil terasa hebat setelah itu."
Hamilton sempat merasa tidak nyaman dengan ban medium setelah melakukan pit stop pada lap ke-31, tetapi virtual safety car (VSC) yang kemudian menjadi safety car penuh memberinya kesempatan untuk kembali ke ban soft. Kesempatan itu ia manfaatkan dengan baik, menyalip Isack Hadjar untuk merebut posisi ketiga. "Saya tidak pernah berpikir bisa kembali ke podium," ujarnya. "Tentu saja saya sangat bersyukur bisa kembali ke sini."
Meski demikian, Hamilton menegaskan bahwa timnya akan melakukan evaluasi terbuka. "Kami pasti akan berdialog terbuka, dan saya sangat bangga pada tim saya. Mekanik, insinyur, katering—semua orang memberikan yang terbaik. Kami tahu ada area yang perlu diperbaiki, dan kami tidak menyangkal itu. Kami akan mengadakan pembicaraan konstruktif, berkumpul kembali, mengambil hal positif dari akhir pekan ini, dan kembali bertarung pekan depan."
Kegagalan strategi ini menjadi pelajaran berharga bagi Ferrari dan McLaren: dalam kondisi transisi seperti itu, data historis tentang performa ban intermediate sangat krusial. Tanpa pemahaman yang cukup, risiko memilih ban kering bisa berubah menjadi bencana. Ke depan, kedua tim dipastikan akan lebih berhati-hati dalam membaca situasi cuaca yang tidak menentu, terutama di sirkuit dengan karakter aspal kasar seperti Sepang. Apakah mereka akan mengubah pendekatan pada balapan berikutnya? Waktu yang akan menjawab.



