Perang Narasi Horner vs Marko Memanas: Siapa Sebenarnya Penemu Max Verstappen?
Baca dalam 60 detik
- Helmut Marko membantah klaim Christian Horner dalam buku Drive yang menyebut dirinya menolak Max Verstappen muda.
- Ralf Schumacher menyebut narasi Horner sebagai 'kebohongan absolut', sementara Marko menegaskan justru Horner yang menghambat promosi Verstappen ke tim utama pada 2016.
- Buku Drive yang terbit 22 Oktober diprediksi memicu babak baru konflik internal Red Bull yang sudah lama terpendam.

Helmut Marko akhirnya angkat bicara menanggapi klaim kontroversial Christian Horner dalam autobiografi Drive yang akan terbit 22 Oktober mendatang. Mantan penasihat motorsport Red Bull itu menolak tegas versi Horner yang menyatakan dirinya tidak menginginkan Max Verstappen muda bergabung dengan tim, dan menyebut peran Jos Verstappen sebagai penentu kesepakatan.
Dalam wawancara dengan media Austria, oe24, Marko memilih untuk tidak memperpanjang polemik. "Saya sebisa mungkin mengabaikannya," ujarnya singkat. Namun ia langsung mengalihkan perhatian pada Ralf Schumacher, mantan pembalap F1 yang kini menjadi analis Sky Sports, yang membelanya dengan keras. "Ralf Schumacher menangani ini dengan sangat baik," kata Marko.
Schumacher sebelumnya mengecam buku Horner dan menyebut narasi tentang penandatanganan Verstappen sebagai "kebohongan absolut". Ia mengungkapkan kronologi versinya: Marko mendekati Max saat masih berusia 11 setengah tahun, tetapi Jos Verstappen menilai waktu itu terlalu dini. "Sang doktor, seperti yang Anda kenal, agak kesal dan berkata: 'Oke, kalau kamu tidak mau, ya sudah'," kenang Schumacher.
Marko membenarkan pembelaan Schumacher dan menegaskan bahwa momentum memang belum tepat pada masa-masa awal karting tersebut. "Semuanya berjalan baik seperti sekarang. Max sukses di karting saat itu, dan kami tidak tahu tentang itu. Nanti di Formula 3, kami kembali mendekat, dan dari situlah kisah sukses luar biasa ini dimulai," jelasnya.
Ketegangan antara Horner dan Marko bukan rahasia lagi, terutama setelah perebutan kekuasaan pasca-meninggalnya pendiri Red Bull, Dietrich Mateschitz, yang berujung pada hengkangnya Horner dari tim Milton Keynes pada 2025. Dalam serangan balik terakhir, Marko menegaskan bahwa justru Horner yang mencoba menghalangi promosi bersejarah Verstappen ke tim senior Red Bull pada 2016. "Saya membawa Max ke Formula 1 dan harus mengalahkan Horner di balapan pertamanya untuk Red Bull di Barcelona," kenang Marko, merujuk pada kemenangan legendaris Verstappen di GP Spanyol 2016. "Dia menganggap Max terlalu muda, terlalu tidak berpengalaman..."
"Saya membawa Max ke Formula 1 dan harus mengalahkan Horner di balapan pertamanya untuk Red Bull di Barcelona. Dia menganggap Max terlalu muda, terlalu tidak berpengalaman..." โ Helmut Marko
Dengan peluncuran Drive yang tinggal menghitung hari, perang kata-kata tentang siapa yang benar-benar menemukan pembalap paling dominan di era modern ini diperkirakan baru akan memasuki babak baru. Publik F1 pun menanti apakah Horner akan membalas pernyataan Marko, atau justru membiarkan buku itu berbicara sendiri.
Bagi penggemar di Indonesia, polemik ini menjadi pengingat bahwa di balik kejayaan di lintasan, dinamika politik internal tim kerap sama sengitnya dengan persaingan antar pembalap. Akankah konflik ini memengaruhi stabilitas Red Bull di musim depan, atau justru menjadi bahan bakar tambahan bagi Verstappen untuk terus berprestasi? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: warisan siapa yang berhak dikenang atas kebangkitan Verstappen masih akan menjadi perdebatan panjang.



