Bug Perangkat Lunak FIA Bikin Kekacauan di F1 Malaysia: Verstappen Hingga Hamilton Terhenti
Baca dalam 60 detik
- Bug perangkat lunak FIA menyebabkan beberapa mobil kehilangan tenaga saat putaran formasi di balapan basah Malaysia, memaksa bendera merah dan penundaan 40 menit.
- Insiden ini terkait pembatasan daya listrik 250kW dalam kondisi hujan, yang tidak diuji pada kecepatan sangat rendah di belakang safety car.
- FIA melakukan perbaikan darurat dengan menonaktifkan batas energi di sektor tertentu, namun masih harus menjawab mengapa bug lolos dari pengujian.

Balapan basah pertama Formula 1 musim 2026 di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, berubah menjadi kekacauan ketika beberapa pembalap kehilangan tenaga secara misterius saat putaran formasi di belakang safety car. Max Verstappen, yang memimpin rombongan, menjadi korban pertama, disusul Lewis Hamilton yang berhenti total dan sejumlah mobil lain. Race control terpaksa menghentikan balapan dengan bendera merah, memicu penundaan sekitar 40 menit sebelum aksi di lintasan akhirnya dimulai.
Direktur single-seater FIA, Nikolas Tombazis, mengonfirmasi bahwa biang keladi insiden tersebut adalah bug pada perangkat lunak yang dipasok FIA dan dikembangkan bersama tim selama beberapa tahun. "Kami tidak dapat menguji perangkat lunak itu secara menyeluruh karena sangat sedikit sesi basah tahun ini," ujarnya dalam sesi media tambahan usai balapan. Kombinasi keadaan—kecepatan sangat rendah, efek concertina antar mobil, dan pembatasan daya listrik—memicu bug yang membuat tenaga tidak dapat dialirkan kembali.
Masalah ini berkaitan erat dengan pengurangan daya listrik menjadi 250kW dalam kondisi basah. Meskipun perangkat lunak telah diuji oleh beberapa tim, termasuk Red Bull dan Racing Bulls, pengujian tidak pernah dilakukan dalam situasi di belakang safety car dengan kecepatan ekstrem rendah. Di Sepang, kecepatan rendah tersebut tercapai di beberapa minisektor, memicu loop yang membuat mobil tidak bisa berakselerasi lagi.
Oliver Bearman dari Haas menggambarkan pengalamannya dengan kaget. "Saya belum pernah melihat atau merasakan hal seperti itu. Saya terkejut... Saya bahkan tidak tahu bahwa FIA bisa mengendalikan pedal gas kami. Itu cukup menakutkan," katanya. "Pedal gas saya tiba-tiba tidak berfungsi. Seperti tidak terhubung dan mesin hanya idle. Sangat aneh, sungguh mengejutkan."
FIA belum memiliki jawaban resmi mengapa mesin pembakaran internal juga terpengaruh, padahal seharusnya tidak pada kecepatan sangat rendah. Dugaan awal, bug membuat semua input throttle dialihkan untuk mengisi ulang MGU-K, sehingga pembalap merasakan pedal gas tidak merespons. Tombazis juga membantah anggapan bahwa mobil bertenaga Mercedes kurang terdampak; perbedaan semata karena kecepatan yang dicapai tiap mobil berbeda akibat efek concertina.
FIA kemudian bergerak cepat menyelamatkan balapan. "Untungnya, tim kami memahami masalahnya dengan sangat cepat. Pembaruan dilakukan dengan kompeten, meski serba terburu-burui," jelas Tombazis. Perbaikan tersebut mencabut batas energi di minisektor yang memicu bug. "Kami tidak punya waktu lima hari untuk pembaruan. Hanya beberapa menit, tapi alhamdulillah tidak mengorbankan keselamatan, balapan, atau keadilan," tambahnya. Semua tim harus memasang perangkat lunak yang dimodifikasi, yang menjelaskan penundaan sebelum restart.
Meski demikian, pertanyaan besar masih menghantui: mengapa FIA tidak mengantisipasi masalah ini selama persiapan, terutama karena hujan meningkatkan kemungkinan safety car dan kecepatan rendah? Tombazis berdalih, "Setiap bug adalah produk dari kesalahan. Saya tidak tahu perangkat lunak yang bebas bug. Komputer Anda mungkin diperbarui setiap tiga hari dan itu semua bug." Ia mengakui dengan pengujian lebih banyak, masalah bisa tertangkap lebih awal.
FIA masih harus melakukan debrief internal untuk memastikan insiden serupa tidak terulang. "Kami semua ingin lebih sederhana, tapi dengan energi listrik sebesar ini, semuanya jadi lebih rumit," ujar Tombazis. "Bisakah saya menjamin tidak akan terjadi lagi? Untuk masalah spesifik ini, ya. Untuk masalah secara umum, tidak. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Insiden ini menyoroti tantangan regulasi teknis F1 yang semakin kompleks dengan elektrifikasi. Sementara FIA berjanji meningkatkan pengujian, pertanyaan tentang kesiapan sistem dalam kondisi ekstrem tetap terbuka. Akankah pembaruan darurat ini cukup untuk menghadapi balapan basah berikutnya, atau akankah kita melihat kekacauan serupa di lintasan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi tekanan pada FIA untuk transparan dan akuntabel semakin besar.



