Jaket Perak Mercedes F1 yang Viral Kini Dijual, Harga Tembus Rp5,8 Juta
Baca dalam 60 detik
- Mercedes F1 dan adidas resmi merilis jaket perak ikonik yang sebelumnya hanya dipakai pembalap di paddock, dengan harga mulai £220 (sekitar Rp4,3 juta) hingga £450 (Rp8,8 juta).
- Peluncuran ini memanfaatkan momentum viral media sosial, di mana unggahan adidas Motorsport meraup lebih dari 160.000 suka, menandakan potensi pasar merchandise F1 yang besar.
- Langkah ini memperkuat strategi F1 dalam memperluas basis penggemar melalui fashion, seiring meningkatnya popularitas olahraga ini di pasar non-tradisional seperti Indonesia.

Mercedes Formula 1 akhirnya menjual jaket perak metalik yang sempat menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Jaket yang dikenakan pembalap George Russell dan Kimi Antonelli selama sesi paddock di musim panas kini tersedia untuk umum melalui kolaborasi dengan adidas, dengan harga mulai £220 (sekitar Rp4,3 juta) untuk versi standar hingga £450 (sekitar Rp8,8 juta) untuk versi Pro.
Peluncuran ini bukan tanpa alasan. Sejak pertama kali muncul di sirkuit, jaket tersebut langsung menarik perhatian karena desainnya yang mencolok—berbeda dari seragam tim pada umumnya. Permintaan dari penggemar pun mengalir deras, terutama setelah foto Russell dan Antonelli mengenakannya tersebar luas. Melihat peluang itu, departemen pemasaran adidas dan Mercedes bergerak cepat merealisasikan versi ritel.
Pada akhir September, adidas Motorsport mengunggah peluncuran jaket tersebut di Instagram dengan keterangan, "Jaket yang semua orang tunggu-tunggu." Unggahan itu telah mengumpulkan lebih dari 160.000 suka, membuktikan bahwa antusiasme bukan sekadar sensasi sesaat. Dua varian ditawarkan: Unisex 2026 Jacket Silver seharga £220 (AS$300) dan 2026 Pro Jacket Silver seharga £450 (AS$750). Keduanya dijual melalui toko resmi adidas dan Mercedes.
Secara desain, jaket ini tidak jauh berbeda dari yang dikenakan para pembalap di akhir pekan balapan. Potongannya oversized dengan kerah berdiri dan ritsleting depan, ditambah konstruksi tenun berlapis, membuatnya tampak lebih seperti busana high-fashion ketimbang perlengkapan pitlane. Lapisan luar berbahan 100% polyurethane dan dalam 100% polyamide daur ulang semakin memperkuat kesan premium.
Namun, mengapa jaket ini begitu mengilap? Konsepnya berakar pada jaket CLIMACOOL yang dirancang khusus untuk menjaga kenyamanan pembalap di paddock yang panas. Versi tim dilengkapi agen pendingin dan kipas internal untuk mengatur suhu tubuh, sementara versi ritel menghilangkan teknologi tersebut demi harga yang lebih terjangkau. Meski begitu, daya tarik visualnya tetap sama.
"Jaket yang semua orang tunggu-tunggu," tulis adidas Motorsport dalam unggahan peluncurannya, dikutip dari Motorsport.com.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran lanskap bisnis F1 dalam beberapa tahun terakhir. Olahraga ini tidak lagi hanya soal balapan, tetapi juga gaya hidup. Tim-tim papan atas seperti Mercedes, Ferrari, dan Red Bull semakin agresif merambah pasar merchandise dan fashion, mengikuti jejak sukses streetwear kolaborasi. Liberty Media selaku pemilik F1 pun gencar mendorong ekspansi ke pasar global, termasuk Asia Tenggara, di mana basis penggemar terus tumbuh.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan populasi muda yang besar dan minat terhadap F1 yang meningkat—terlihat dari tingginya antusiasme saat GP Singapura dan penjualan tiket MotoGP Mandalika—permintaan akan merchandise resmi berpotensi besar. Namun, harga jaket Mercedes ini setara dengan upah minimum bulanan di beberapa daerah, sehingga akses masih terbatas pada segmen menengah ke atas. Di sisi lain, merek lokal bisa mengambil pelajaran dari strategi adidas-Mercedes dalam mengubah viralitas menjadi produk nyata.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Mercedes dan adidas akan merilis lebih banyak item lifestyle, atau apakah tim lain akan menyusul dengan strategi serupa. Jika respons pasar terhadap jaket ini berlanjut positif, bukan tidak mungkin F1 akan semakin identik dengan fashion, bukan sekadar kecepatan. Dan bagi penggemar di Indonesia, momen ini bisa menjadi titik awal untuk melihat bagaimana olahraga balap membentuk budaya populer di tanah air.



