Angkatan Laut AS Gunakan Kontroler Gaya Xbox untuk Laser Anti-Drone, Biaya Tembak Hanya Rp200 Ribu
Baca dalam 60 detik
- Angkatan Laut Amerika Serikat mulai mengoperasikan sistem laser anti-drone yang dikendalikan dengan kontroler mirip Xbox di kapal perang, termasuk di Selat Hormuz.
- Penggunaan kontroler game ini memangkas waktu pelatihan karena banyak pelaut sudah akrab dengan tata letaknya, sekaligus menekan biaya operasional secara drastis.
- Langkah ini menandai pergeseran doktrin pertahanan laut menuju senjata energi terarah yang lebih murah dan efisien dibandingkan rudal konvensional.

Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) secara resmi mengerahkan sistem laser anti-drone yang dioperasikan menggunakan kontroler bergaya Xbox pada kapal perang mereka. Menurut laporan Interesting Engineering, kontroler ini dipilih karena mampu memberikan presisi penargetan dan input cepat, menjadikannya ideal untuk mengendalikan platform senjata energi terarah. Lebih dari itu, para pelaut yang sebagian besar sudah familiar dengan tata letak kontroler game tersebut dapat menguasai sistem ini dengan cepat, memangkas waktu pelatihan yang biasanya panjang.
Penggunaan kontroler komersial untuk sistem militer kritis bukanlah hal baru. Sebelumnya, kapal selam Titan yang mengalami kecelakaan tragis menggunakan kontroler Logitech F710 sebagai satu-satunya antarmuka kendali. Meski demikian, penyebab utama insiden tersebut diduga kuat karena desain dan konstruksi lambung, bukan karena kontrolernya. Yang membedakan, sistem laser US Navy ini bukan sekadar eksperimen; ia telah diuji dan digunakan dalam situasi konflik nyata.
Menurut laporan, laser anti-drone ini telah dioperasikan di kapal perang dan digunakan untuk menghadapi drone serta ancaman lain di Selat Hormuz. Sebelumnya, laser telah digunakan untuk menetralisir drone dari sistem berbasis darat, seperti yang dilakukan militer AS untuk melumpuhkan drone kartel Meksiko pada akhir Agustus, serta eksperimen Ukraina dengan laser berpemandu AI untuk menghancurkan drone kamikaze Shahed pada pertengahan 2026. Namun, ini adalah salah satu contoh pertama laser anti-drone dikerahkan di area konflik aktif, beberapa bulan setelah sistem serupa diuji di supercarrier USS George H.W. Bush. Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) juga tengah memasang sistem serupa pada kapal perusaknya, dengan target operasional pada tahun depan.
Keunggulan ekonomi menjadi pendorong utama adopsi laser. Sebuah keterlibatan laser hanya memakan biaya listrik sekitar US$13, sementara rudal anti-pesawat konvensional bisa menelan biaya ribuan hingga jutaan dolar per unit. Laser juga lebih hemat dibandingkan senapan mesin dan meriam karena tidak bergantung pada amunisi fisik. Selama kapal memiliki daya listrik yang cukup—baik dari turbin destroyer maupun reaktor nuklir supercarrier—dan sistem tetap berfungsi, laser dapat terus melindungi kapal dari serangan drone bahkan setelah rudal dan amunisi habis.
“Kontroler bergaya Xbox memberikan presisi penargetan dan input cepat, membuatnya ideal untuk mengoperasikan platform senjata ini,” tulis Interesting Engineering, mengutip sumber militer.
Meski demikian, detail teknis seperti apakah kontroler yang digunakan bersifat nirkabel atau kabel, serta apakah US Navy memakai produk komersial off-the-shelf atau pesanan khusus dari kontraktor, belum diungkap. Hal ini menyisakan pertanyaan tentang standar keamanan dan ketahanan perangkat dalam kondisi tempur.
Perkembangan ini juga menandai pergeseran doktrin pertahanan laut global. Negara-negara seperti Inggris dan Ukraina mulai mengadopsi senjata energi terarah, sementara Indonesia sebagai negara maritim dengan wilayah perairan luas menghadapi tantangan serupa: meningkatnya ancaman drone di jalur pelayaran strategis. Meski TNI AL belum mengumumkan program serupa, ketergantungan pada sistem pertahanan berbasis rudal yang mahal bisa menjadi beban anggaran jangka panjang. Adopsi teknologi laser, jika diikuti dengan transfer pengetahuan dan penguatan industri pertahanan dalam negeri, dapat menjadi lompatan strategis.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah laser akan menggantikan rudal, melainkan seberapa cepat infrastruktur daya dan sistem kendali canggih dapat diintegrasikan ke armada kapal perang generasi berikutnya. Jika biaya per tembakan hanya sebesar secangkir kopi, negara dengan anggaran pertahanan terbatas pun berpotensi memiliki pertahanan udara laut yang lebih berkelanjutan.



