Rees-Mogg Vs Carlson: Debat Sengit soal Hitler dan Peran Barat di Ukraina
Baca dalam 60 detik
- Mantan menteri Konservatif Inggris Jacob Rees-Mogg beradu argumen dengan komentator sayap kanan AS Tucker Carlson dalam podcast yang membahas Perang Dunia II dan konflik Rusia-Ukraina.
- Carlson mempertanyakan keterlibatan Inggris melawan Nazi dan menyebut Jerman punya klaim sah atas Polandia, memicu tuduhan 'mendekati pembelaan terhadap Hitler'.
- Insiden ini menyoroti polarisasi narasi geopolitik di kalangan kanan AS dan Eropa, dengan implikasi pada dukungan Barat terhadap Ukraina.

Jacob Rees-Mogg, mantan menteri dari Partai Konservatif Inggris, terlibat dalam perdebatan panas dengan komentator sayap kanan Amerika Serikat Tucker Carlson. Dalam podcast yang direkam di kediaman Rees-Mogg, Carlson mempertanyakan keputusan Inggris untuk berperang melawan Adolf Hitler dalam Perang Dunia II, memicu reaksi keras dari tuan rumah.
Carlson, yang dikenal sebagai simpatisan Presiden Rusia Vladimir Putin, berulang kali menyatakan bahwa Barat bertanggung jawab atas agresi Rusia. Ia bahkan meremehkan kemungkinan Inggris kalah dari Hitler dengan mengatakan, "Who cares?" (Siapa peduli?). Rees-Mogg, yang kehilangan kursi parlemennya pada 2024 dan beralih menjadi komentator, tampak terkejut dengan sikap Carlson.
Dalam diskusi panjang soal kebijakan luar negeri, Carlson menantang Rees-Mogg mengenai ukuran angkatan bersenjata Inggris yang kecil dan mengklaim Rusia lebih kuat. Rees-Mogg membalas dengan menegaskan bahwa ekonomi Inggris lebih besar dan bahwa Inggris serta sekutu Barat harus mendukung Ukraina untuk mencegah agresi Rusia lebih lanjut.
Ketika Carlson bertanya mengapa Inggris repot-repot masuk perang, Rees-Mogg menjawab, "Kalau tidak, kita akan berbicara bahasa Jerman." Carlson merespons dengan sinis, "Siapa peduli? Banyak orang di Inggris tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi akan menyenangkan setidaknya ada bahasa Eropa yang digunakan di negaramu."
"Saya sangat terkejut bahwa Anda mendekati pembelaan terhadap Hitler. Saya pikir ini bukan hal yang seharusnya Anda lakukan," kata Rees-Mogg kepada Carlson.
Carlson menanggapi dengan nada sarkastis, "Ya, saya kira saya ini Nazi rahasia. Sebenarnya bukan Nazi rahasia... dan hampir bukan Nazi publik." Rees-Mogg lalu menegaskan bahwa Jerman akan menginvasi Inggris jika negara itu tidak berperang.
Wawancara ini memicu kontroversi di AS dan Inggris. Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel, menulis di platform X bahwa Carlson "turun lebih dalam ke selokan" dengan opini bahwa Inggris seharusnya membiarkan Nazi mengambil alih. Huckabee juga menyindir sikap Carlson yang anti-pembunuhan namun mengabaikan 11 juta korban Hitler.
Insiden ini menyoroti pergeseran narasi di sebagian kanan Amerika yang semakin simpatik terhadap Rusia dan meragukan peran historis Barat. Carlson, yang meninggalkan Fox News dan sempat menjauh dari Donald Trump karena kebijakan luar negeri, kini menjadi suara vokal yang menantang konsensus bipartisan AS tentang dukungan untuk Ukraina.
Bagi Indonesia, perdebatan ini mengingatkan pentingnya kedaulatan dan aliansi strategis dalam menghadapi tekanan global. Sebagai negara non-blok, Indonesia perlu cermat menyikapi polarisasi geopolitik yang semakin tajam, terutama dalam konteks perang Ukraina yang berdampak pada harga pangan dan energi.
Ke depan, apakah narasi revisionis seperti yang dilontarkan Carlson akan semakin diterima di lingkaran politik AS? Atau justru memperkuat solidaritas Barat dalam menghadapi Rusia? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan luar negeri AS dan stabilitas global.



