Flávio Bolsonaro di Ambang Kemenangan: Amazon dan Demokrasi Brasil di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Flávio Bolsonaro memimpin putaran pertama pilpres Brasil dengan 47%, unggul atas Lula yang meraih 44,2%, menjelang runoff 25 Oktober.
- Kemenangan Flávio berpotensi membalikkan capaian iklim Lula yang berhasil menekan deforestasi Amazon hingga 50%, dan membuka jalan bagi eksploitasi hutan secara masif.
- Dominasi keluarga Bolsonaro di parlemen dan negara bagian Amazon memperkuat agenda ekstraktif, mengancam stabilitas iklim global dan demokrasi Brasil.

Flávio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro, memimpin putaran pertama pemilihan presiden Brasil dengan perolehan 47% suara, unggul atas petahana Luiz Inácio Lula da Silva yang meraih 44,2%. Hasil ini menempatkan Flávio di posisi terdepan menjelang putaran kedua pada 25 Oktober mendatang, dan menjadi pukulan telak bagi para pegiat iklim yang selama ini mengandalkan keberhasilan Lula dalam menekan laju deforestasi Amazon hingga hampir 50%.
Kemenangan Flávio tidak hanya berdampak pada politik Brasil, tetapi juga pada masa depan Amazon—hutan tropis terbesar di dunia yang berperan krusial dalam menyerap karbon global. Jika ia terpilih, ia berjanji akan membebaskan ayahnya dari penjara dan memberinya posisi apa pun dalam pemerintahannya. Lebih dari itu, ia dikenal sebagai pendukung kebijakan yang mempermudah eksploitasi hutan, termasuk mendukung RUU 2019 yang menghapus kewajiban pemilik lahan di Amazon untuk melestarikan vegetasi asli.
Yang membuat hasil ini mengejutkan adalah kegagalan isu lingkungan sebagai daya tarik elektoral. Meskipun Lula berhasil menurunkan deforestasi secara signifikan, capaian tersebut tidak diikuti oleh kemenangan kandidat pro-lingkungan lainnya. Mantan Menteri Lingkungan Hidup Marina Silva gagal meraih kursi Senat, dan Joenia Wapichana, mantan kepala badan urusan adat Funai, juga tidak terpilih. Dari 57 kandidat adat, hanya dua yang berhasil. Ini menunjukkan bahwa pemilih Brasil lebih mementingkan isu ekonomi dan sosial dibandingkan pelestarian hutan.
Flávio Bolsonaro adalah pewaris politik ayahnya, yang selama empat tahun memerintah menghasilkan peningkatan deforestasi Amazon sebesar 59,5%, setara dengan penebangan sekitar 2 miliar pohon. Sebagai anggota parlemen, Flávio telah menunjukkan sikapnya yang anti-regulasi lingkungan. Dalam manifesto politiknya, ia sama sekali tidak menyinggung perubahan iklim, dan ia justru merangkul dukungan dari pemilik lahan besar yang dikenal eksploitatif. Salah satu contohnya adalah Daniel Santos, kandidat gubernur dari Partai Bolsonaro di Pará, yang pernah didenda $275.000 karena melakukan deforestasi ilegal seluas 280 hektar, dan kini berjanji akan menghapus sanksi semacam itu.
Pengaruh Bolsonarisme tidak hanya di eksekutif, tetapi juga di legislatif. Kongres Brasil yang didominasi kepentingan agribisnis semakin sulit membendung upaya pelemahan perlindungan lingkungan. Keluarga Bolsonaro sendiri memperluas cengkeraman politik: Eduardo dan Michelle Bolsonaro terpilih sebagai senator, sementara paman dan saudara Flávio masuk ke Dewan Perwakilan. Dengan komposisi ini, bahkan jika Lula memenangkan putaran kedua, ia akan kesulitan menjalankan agenda pro-lingkungan.
"Kemenangan Flávio bukan hanya akhir bagi Lula, tetapi juga bagi Amazon dan demokrasi Brasil," demikian peringatan yang muncul dari kalangan aktivis lingkungan.
Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa isu lingkungan tidak menjadi prioritas pemilih. Pertama, dominasi media sosial oleh kelompok kanan yang menyebarkan disinformasi dan ketakutan, terutama melalui grup WhatsApp. Kedua, perluasan aliran Pentakostalisme gaya AS yang menekankan pencarian kekayaan duniawi, yang bertentangan dengan ajaran lingkungan. Ketiga, Lula yang kini berusia 80 tahun dianggap lambat beradaptasi dengan lanskap politik baru, sementara Partai Pekerja terjebak dalam kejayaan masa lalu dan kehilangan basis serikat pekerja yang kuat.
Dalam konteks global, pemilu Brasil adalah bagian dari pola kebangkitan kanan ekstrem yang mendukung eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Di bawah pengaruh Trumpisme, Amerika Serikat telah membongkar regulasi lingkungan dan memperlakukan Amerika Latin sebagai wilayah pengaruhnya. Argentina, Venezuela, Kolombia, Peru, dan Chile semuanya mengalami pergeseran ke kanan. Brasil berpotensi menjadi domino berikutnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin penting. Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia menghadapi tantangan serupa: bagaimana menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan perlindungan lingkungan. Kebijakan deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam sering kali menjadi taruhan politik, dan tekanan dari industri ekstraktif kerap mengalahkan kepentingan jangka panjang. Jika Brasil jatuh ke tangan Bolsonarisme, tekanan terhadap negara-negara penghasil komoditas seperti Indonesia untuk mengikuti jejak serupa akan meningkat, terutama dalam menghadapi persaingan global yang semakin tajam.
Putaran kedua pemilu Brasil pada 25 Oktober akan menjadi penentu. Lula masih memiliki peluang kecil jika mampu merangkul jutaan pemilih yang golput, namun sejarah menunjukkan bahwa pemimpin putaran pertama selalu menang di putaran kedua. Jika Flávio menang, bukan hanya Amazon yang terancam, tetapi juga stabilitas iklim global dan demokrasi itu sendiri. Akankah Brasil menjadi contoh lain dari kemenangan ekstraktivisme atas keberlanjutan? Dunia menunggu jawabannya.



