Russell Tertawa Pahit: Gelar F1 2025 Makin Jauh Setelah Power Unit Mercedes Meledak di Sepang
Baca dalam 60 detik
- George Russell gagal finis di GP Bahrain-Malaysia akibat kegagalan power unit, memperlebar jarak menjadi 84 poin dari rekan setimnya, Kimi Antonelli.
- Toto Wolff menyebut balapan di Sepang sebagai salah satu pengalaman terburuknya, dengan Mercedes kehilangan poin besar di kejuaraan konstruktor.
- Dengan tujuh balapan tersisa, Mercedes harus segera mengatasi masalah keandalan jika ingin menjaga peluang juara.

Kegagalan power unit yang menimpa George Russell beberapa lap sebelum finis di Sirkuit Sepang, Malaysia, tidak hanya merenggut podium, tetapi juga mengubur asa juara dunia Formula 1 2025. Pembalap Mercedes itu tertinggal 84 poin dari rekan setimnya, Kimi Antonelli, dengan tujuh balapan tersisa.
Russell memulai balapan dari posisi ketujuh, namun keputusan menggunakan ban intermediate di lintasan basah dan start kilat membawanya ke posisi kedua di Tikungan 1, di belakang Antonelli. Ia sempat disalip Max Verstappen pada lap keenam, tetapi periode safety car pertama memberinya peluang menyalip Antonelli di sisi luar Tikungan 5 saat restart. Sayangnya, delapan lap kemudian, Antonelli kembali merebut posisi kedua.
Balapan berjalan ketat di tiga besar, hingga safety car kedua muncul di akhir lomba. Russell berpeluang menantang kemenangan, tetapi kegagalan power unit memaksanya mundur sebelum restart terakhir. Ini menjadi pensiun ketiganya musim ini, dan yang kedua murni karena masalah teknis.
"Anda hampir harus tertawa," ujar Russell kepada Sky Sports F1. "Ini di luar kekecewaan. Sudah sering terjadi musim ini. Tentu saja sangat disayangkan, tapi teruslah berjuang. Teruslah mencoba. Podium memang terlihat pasti. Balapan yang solid, bukan luar biasa, tapi solid. Bukan pertama kali, jadi saya cukup terbiasa dengan perasaan dan pertanyaan seperti ini."
Meski enggan menyatakan gelar sudah hilang, Russell mengakui peluangnya sangat kecil. "Saya tidak perlu mengatakan itu sudah hilang atau apa pun. Tapi tentu saja sangat tidak mungkin, dan itulah kenyataannya. Saya tahu jika ingin bangkit, saya butuh keberuntungan. Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada saya. Kehilangan tiga poin hari ini menjadi kehilangan 18 poin. Jika masalahnya terjadi pada sisi lain, itu akan menjadi keuntungan 18 poin. Sangat disayangkan, tapi begitulah adanya."
Kepala tim Mercedes, Toto Wolff, menyebut balapan di Sepang sebagai salah satu pengalaman terburuknya secara pribadi. Red Bull meraih kemenangan pertama tahun ini, sementara Russell mengalami kemunduran. "Saya sangat kesal," kata Wolff. "Saya tidak dalam posisi bahagia. Kami tidak memiliki kecepatan yang diharapkan sebelum akhir pekan, jadi banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Balapan benar-benar berjalan tidak menguntungkan, dengan satu VSC dan dua safety car. Lalu kegagalan power unit beberapa lap sebelum finis, yang buruk untuk kejuaraan Russell dan poin konstruktor kami."
Wolff menambahkan bahwa masalah DNF (did not finish) tidak boleh berlanjut. "Ini topik utama, DNF yang bisa merugikan kami di tujuh balapan tersisa. Kejuaraan bisa berbalik arah dengan cepat jika Anda mengalami DNF, dan itu tidak boleh terus terjadi." Meski demikian, ia optimistis dengan rencana aksi yang disusun direktur teknis James Allison. "Saya lega mengetahui mereka adalah yang terbaik dan akan menemukan solusi. Kami akan kembali kuat."
Bagi penggemar F1 di Indonesia, drama di Sepang ini menjadi pengingat bahwa keandalan mesin sama pentingnya dengan kecepatan. Mercedes, yang mendominasi era hybrid awal, kini harus berjuang keras menghadapi rival seperti Red Bull dan Ferrari. Kegagalan power unit tidak hanya menghancurkan peluang Russell, tetapi juga mengancam posisi konstruktor yang selama ini menjadi tolok ukur superioritas tim.
Dengan tujuh balapan tersisa, akankah Mercedes mampu membalikkan keadaan, atau justru semakin terpuruk dan membuka jalan bagi Antonelli untuk mengunci gelar? Yang jelas, Russell dan Wolff tidak akan menyerah tanpa perlawanan.



