Merz Kunjungi Kyiv, Bawa Bantuan Rp17 Triliun dan Kesepakatan Drone
Baca dalam 60 detik
- Kanselir Jerman Friedrich Merz tiba di Kyiv untuk merilis dana bantuan militer €1 miliar dan €350 juta untuk perbaikan energi.
- Kunjungan ini juga memfinalisasi kerja sama produksi drone antara perusahaan pertahanan Jerman dan Ukraina.
- Langkah Jerman ini memperkuat posisi Eropa dalam menghadapi eskalasi serangan Rusia, dengan implikasi bagi stabilitas kawasan dan pasar energi global.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengunjungi Kyiv pada Minggu (4/10/2026) untuk merilis paket bantuan militer senilai €1 miliar (sekitar Rp17 triliun) dan €350 juta untuk perbaikan infrastruktur energi Ukraina. Kunjungan ini juga menandai finalisasi kesepakatan produksi bersama berbagai jenis drone antara perusahaan pertahanan Jerman dan Ukraina, di tengah meningkatnya serangan Rusia terhadap kota-kota Ukraina.
Merz tiba di stasiun kereta utama Kyiv pagi-pagi sekali, disambut oleh Duta Besar Jerman untuk Ukraina Boris Ruge. Ia didampingi oleh Menteri Ekonomi Katherina Reiche dan delegasi ekonomi yang mencakup eksekutif dari Siemens Energy, Hensoldt, Diehl Defence, Quantum Systems, dan perusahaan lainnya. Menurut pejabat pemerintah Jerman, kunjungan ini bertujuan menunjukkan dukungan kuat bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di tengah serangan Rusia yang terus meningkat.
Dalam pernyataannya, Merz menegaskan bahwa Ukraina membutuhkan dukungan penuh dalam beberapa pekan mendatang. Ia menyebut pasukan Rusia membombardir kota, bangunan hunian, dan pembangkit pemanas. "Jika Rusia tidak dihentikan, cepat atau lambat mesin perangnya akan berbalik melawan kita," ujarnya. Merz juga berjanji akan menyampaikan kepada Zelenskyy bahwa Ukraina dapat terus mengandalkan bantuan Jerman.
Kesepakatan drone menjadi sorotan utama. Perusahaan teknologi pertahanan Jerman, Quantum, telah berhasil menguji drone anti-jet yang dirancang untuk melawan serangan drone jet cepat Rusia. Sejak musim panas, Rusia dilaporkan menggunakan puluhan drone serang jet berkecepatan tinggi setiap hari untuk menargetkan infrastruktur sipil dan militer Ukraina. Pada April lalu, Quantum dan produsen Ukraina WIY Drones mengumumkan pembentukan Quantum WIY Industries, sebuah perusahaan patungan untuk memproduksi drone pencegat Strila dan teknologi pertahanan udara terkait.
Kerja sama ini juga mencakup pengembangan dan produksi bersama senjata dengan jangkauan lebih dari 1.000 km (600 mil) yang dapat digunakan Ukraina untuk menyerang target di dalam wilayah Rusia. Pejabat pemerintah Jerman menyatakan bahwa peningkatan kerja sama ini akan memungkinkan aliran uang dan teknologi kembali ke Jerman, di mana senjata diproduksi dan pertahanan terhadap drone yang menargetkan infrastruktur kritis dapat diperkuat.
"Saya bepergian ke Kyiv hari ini karena Ukraina membutuhkan semua dukungan kita dalam beberapa pekan mendatang," kata Merz. "Jika Rusia tidak dihentikan, cepat atau lambat mesin perangnya akan berbalik melawan kita."
Selain itu, Merz diperkirakan akan mendesak pemerintah Ukraina untuk mempercepat reformasi yang diminta mitra Uni Eropa, termasuk pemberantasan korupsi. Zelenskyy sebelumnya mengatakan setelah berbicara melalui telepon dengan Merz pada Rabu bahwa Ukraina akan segera menyelesaikan kesepakatan dengan Jerman untuk produksi drone, rudal, dan perangkat lunak terkait.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia pada Sabtu menyatakan bahwa Moskow akan terus menghantam target di Ukraina sebagai balasan atas serangan Ukraina ke Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Mereka memperingatkan warga asing dan staf diplomatik agar tidak tinggal atau bepergian ke Ukraina. Zelenskyy kepada Reuters pada Sabtu mengatakan bahwa angkatan bersenjata Ukraina akan menggandakan serangan mereka terhadap kilang minyak di Rusia sebagai respons terhadap "doktrin baru" Moskow yang meningkatkan serangan terhadap infrastruktur sipil, yang menurutnya bertujuan memaksa penduduk Kyiv dan kota-kota lain mengungsi.
Bagi Indonesia, kunjungan Merz dan kesepakatan drone ini dapat menjadi sinyal penting mengenai arah kebijakan pertahanan Eropa yang semakin terlibat langsung dalam konflik Ukraina. Dampaknya terasa pada pasar energi global, di mana ketegangan yang berlanjut dapat mempengaruhi harga minyak dan gas. Indonesia sebagai importir energi perlu mencermati perkembangan ini karena dapat mempengaruhi anggaran subsidi dan stabilitas ekonomi domestik. Selain itu, kerja sama pertahanan semacam ini dapat mendorong negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kemitraan strategis di bidang teknologi pertahanan.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh Jerman dan Eropa akan terlibat dalam konflik ini, dan apakah langkah ini akan memicu eskalasi lebih lanjut dari Rusia. Sementara itu, Ukraina terus mendesak dukungan lebih besar, dan dunia menyaksikan apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah meningkatnya ketegangan.



