Russell T Davies Akui Doctor Who di Persimpangan: 'Saya Cinta, Tapi Masa Depan Tak Pasti'
Baca dalam 60 detik
- Russell T Davies mengakui penurunan rating Doctor Who dan menyebut keputusannya sebagai showrunner mungkin perlu dievaluasi, namun ia tetap bangga dengan hasil kerjanya.
- Davies menilai absennya sosok yang memperjuangkan acara di BBC menjadi masalah utama, dan format Doctor Who harus beradaptasi dengan kebiasaan menonton generasi muda.
- Masa depan Doctor Who kini dilelang ke pihak eksternal, memicu spekulasi tentang arah baru serial fiksi ilmiah legendaris tersebut.

Russell T Davies, arsitek kebangkitan Doctor Who pada 2005, tidak menampik bahwa dua musim terakhir di bawah kendalinya menerima respons beragam. Ia mengaku sempat bertanya-tanya apakah ada yang seharusnya ia lakukan secara berbeda, tetapi pada saat yang sama ia menegaskan tidak menyesali keputusan kreatifnya. “Saya tidak terluka secara pribadi. Saya pikir itu memalukan. Mungkin saya bertanya-tanya apakah seharusnya melakukan sesuatu yang berbeda. Tapi saya sangat mencintai apa yang saya kerjakan!” ujarnya kepada The Guardian.
Pernyataan itu muncul setelah BBC menempatkan Doctor Who dalam skema tender kompetitif—sebuah langkah tak biasa yang menandakan rating dua musim terakhir tidak memenuhi ekspektasi. Davies yang kembali memegang kendali pada 2023 setelah absen sejak 2010, menyadari gelombang kritik yang datang. Namun ia memilih melihatnya sebagai siklus yang wajar dalam industri hiburan. “Saya bekerja keras untuk acara saya, dan saya benar-benar mencintainya. Saya pikir ada gelombang kebencian, dan mungkin dalam beberapa tahun akan lebih dihargai. Tapi setidaknya dihargai oleh SAYA!” tambahnya.
Yang lebih mengkhawatirkan bagi Davies bukanlah reaksi penonton, melainkan hilangnya sosok yang memperjuangkan acara di dalam tubuh BBC. Menurutnya, tanpa produser yang setiap hari menyuarakan “Bagaimana dengan Doctor Who?” di ruang rapat, serial ini kehilangan pendorong utama. “Bagian dari masalahnya adalah ada kejang, ruptur, dan pemotongan di BBC. Kekhawatiran saya adalah tidak ada yang memperjuangkannya,” tegasnya. Ia menyebut bahwa pada 2005 ia membangun Doctor Who seperti drama ITV pukul 9 malam dengan ritme kehidupan sehari-hari. Kini, konsep itu usang. Davies membayangkan format vertikal—klip pendek untuk ponsel dengan cliffhanger tiap dua menit—sebagai kemungkinan arah baru. “Saat kembali, acara ini harus menjadi bagian dari apa pun yang sedang dilakukan televisi lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, Davies enggan menyebut nama aktor yang cocok memerankan Doctor berikutnya. Ia mengaku pernah membuat kesalahan dengan menyebut nama seseorang, yang berujung pada pengejaran wartawan ke rumah aktor tersebut. “Saya sudah pernah membuat kesalahan dengan mengatakan si anu bagus, dan tiba-tiba wartawan sudah ada di depan pintu mereka,” kenangnya. Sikap hati-hati ini menunjukkan betapa sensitifnya posisi Doctor Who di mata publik dan media.
Davies juga berbicara tentang kehidupan pribadinya. Kini berusia 63 tahun, ia menjalin hubungan dengan model berusia 27 tahun, Oliver Cole, yang ia kenal melalui Instagram. Karena Cole adalah penggemar Doctor Who, Davies merasa perlu melaporkan hubungan tersebut kepada petinggi acara. “Saat hubungan itu menjadi serius, saya melaporkannya ke bos Doctor Who, kalau-kalau ada yang menuduh saya menyalahgunakan posisi karena berkencan dengan penggemar,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa obrolan tentang acara bersama pasangannya tidak mendominasi—hanya sekitar lima menit—dan tidak seperti membahas karakter Rani secara mendalam.
Kisah Davies ini bukan sekadar tentang satu acara yang goyah. Ini adalah cerminan bagaimana industri televisi global bergeser: penonton terpecah, model distribusi berubah, dan acara ikonik pun harus berjuang untuk relevan. Di Indonesia, fenomena serupa terlihat pada serial legendaris yang harus beradaptasi dengan platform streaming dan durasi pendek. Pertanyaannya, akankah Doctor Who menemukan rumah baru yang mampu mengangkatnya kembali, atau justru menjadi korban dari perubahan lanskap media yang tak terelakkan?



