Dante Mayfair di Claridge's: Restoran Baru dengan Koktail Foto Diri dan Harga Pasta £27
Baca dalam 60 detik
- Dante Mayfair hadir di dalam Hotel Claridge's London, menggantikan restoran sebelumnya dengan konsep ruang tamu mewah yang santai.
- Menu andalan mencakup koktail dessert dengan foto tamu tercetak di atas busa, serta pasta seharga £27 yang dinilai wajar untuk kawasan Mayfair.
- Meski tidak berambisi menjadi destinasi makan malam utama, tempat ini dinilai cocok untuk pertemuan bisnis dan sarapan di lingkungan elite London.

Dante Mayfair, restoran terbaru di dalam Hotel Claridge's di Brook Street, London, resmi dibuka dengan ambisi menjadi "ruang tamu Mayfair" — sebuah konsep yang menggabungkan kemewahan hotel bintang lima dengan suasana santai khas kafe lingkungan. Dikelola oleh pasangan suami-istri asal Sydney, Linden Pride dan Nathalie Hudson, tempat ini menempati ruang yang sebelumnya dihuni sejumlah restoran bergengsi seperti Fera, Davies and Brook, dan brasserie internal Claridge's.
Pride dan Hudson bukan nama baru di industri kuliner. Keduanya membeli Caffe Dante, kafe legendaris di Greenwich Village, New York, pada 2015. Kafe yang telah beroperasi sejak 1915 itu dinobatkan sebagai bar terbaik dunia pada 2019. Kini, mereka membawa DNA New York ke jantung London, dengan menu yang mencakup caviar tart dengan mutiara champagne, shrimp cocktail, lobster linguine, serta caviar martini dan negroni vintage atau cokelat.
Yang membedakan Dante dari restoran hotel mewah lainnya adalah pendekatan harga yang dinilai relatif kompetitif untuk kawasan Mayfair. Sebagai perbandingan, restoran Bacchanalia di dekatnya mengenakan tarif pasta yang jauh lebih tinggi. Namun, bukan berarti Dante murah: seporsi keripik kentang dihargai £11 — sebuah angka yang mungkin sulit diterima di luar konteks Claridge's.
Daya tarik utama Dante justru terletak pada daftar koktail dessert-nya. Minuman seperti honey bee — campuran tequila, kopi liqueur, amontillado, raspberry, dan salted honey cream — disajikan dengan foto tamu tercetak di atas busa menggunakan tinta edible. Inovasi ini menyasar momen setelah hidangan utama, ketika pelanggan enggan memesan makanan penutup tetapi tetap ingin menikmati minuman. Tersedia pula sticky toffee doughnut dengan whisky flambé yang disajikan dengan efek api menyala.
"Dante bukanlah destinasi makan malam, tetapi benar-benar seperti ruang tamu. Tempat ini tidak akan memenangkan penghargaan untuk makanannya, tetapi ramah dan sangat praktis — sesuatu yang kini jarang ditemukan di Mayfair."
Dari sisi kuliner, ulasan menunjukkan kualitas yang bervariasi. Salad tomat dan persik dengan feta marinasi dan freekeh dinilai segar dan tersaji rapi, meski lebih terasa California daripada Italia. Pappardelle al ragu atau bolognese rumahan kurang memiliki kedalaman rasa dan pasta sedikit terlalu matang. Namun, chicken alla diavola dengan green goddess dressing dipuji sebagai hidangan yang bersahaja dan segar.
Pada kunjungan makan siang hari Selasa, Dante tercatat sebagai salah satu tempat paling sepi di Mayfair. Sebuah pernikahan kecil menempati ruang samping, sementara beberapa tamu hotel menikmati burger di ruang utama. Layanan dinilai hangat, cekatan, dan kasual — meski keberadaan restoran semi-kasual di dalam Claridge's justru membuat sebagian masyarakat umum enggan masuk karena nama besar hotel tersebut.
Bagi pasar Indonesia, fenomena Dante Mayfair mencerminkan tren global di mana hotel mewah dan restoran fine dining mulai mengadopsi konsep yang lebih santai dan personal untuk menarik generasi muda. Di Jakarta dan Bali, sejumlah hotel bintang lima juga mulai menghadirkan restoran dengan suasana lebih informal, meski dengan harga yang tetap premium. Strategi ini menjadi relevan ketika industri hospitality global bersaing untuk menciptakan pengalaman yang Instagramable dan berbagi ruang dengan komunitas lokal.
Ke depan, tantangan bagi Dante adalah membuktikan bahwa konsep "ruang tamu" dapat bertahan di tengah tekanan biaya operasional kawasan Mayfair yang tinggi. Apakah inovasi koktail berfoto dan harga pasta £27 cukup untuk membangun loyalitas pelanggan, atau justru menjadi keunikan sesaat? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Pride dan Hudson menunjukkan bahwa batas antara kemewahan dan kesantaian semakin kabur di dunia kuliner global.



