Dua Remaja Inggris Ajak Anak-Anak Pelihara Tikus Panen untuk Dilepas ke Alam Liar
Baca dalam 60 detik
- Eva Wishart dan Emily Smith, dua remaja 14 tahun asal Devon, meluncurkan proyek Wild Pets yang merekrut 20 anak untuk beternak tikus panen di rumah.
- Tikus panen, mamalia terkecil di Inggris dengan ekor prehensil, terancam akibat intensifikasi pertanian yang merusak habitat padang rumput.
- Keberhasilan pelepasan perdana tahun lalu memicu target ambisius: 250 ekor dilepas September mendatang, dengan dukungan ekolog Derek Gow dan Chris Packham.

Dua sahabat berusia 14 tahun dari Devon, Inggris, membuka pintu partisipasi publik bagi anak-anak untuk menjadi “peternak penangkaran warga” dengan memelihara tikus panen di rumah. Proyek bernama Wild Pets ini menargetkan pelepasan 250 ekor tikus panen ke alam liar pada September mendatang, setelah upaya perdana mereka tahun lalu membuahkan hasil.
Eva Wishart dan Emily Smith, pendiri Wild Pets, sebelumnya membiakkan ratusan tikus panen di tangki garasi rumah mereka. Hewan-hewan itu kemudian dilepas ke sebuah cagar alam di Devon, dan populasi baru tersebut dilaporkan bertahan serta mulai berkembang biak secara alami. Keberhasilan ini menjadi dasar perluasan proyek: kini mereka mencari 20 anak berusia 8 hingga 13 tahun yang berdomisili di Devon untuk mengikuti jejak mereka.
Tikus panen (harvest mouse) adalah mamalia asli terkecil di Inggris dan satu-satunya mamalia Inggris yang memiliki ekor prehensil—mampu menggenggam atau memegang objek. Ekor itu digunakan untuk memanjat batang rumput, yang dulu umum ditemukan di ladang, padang rumput, dan semak belukar. Namun, intensifikasi pertanian telah menyusutkan habitat tersebut secara drastis, membuat populasi tikus panen tertekan.
Eva mulai menangkarkan tikus panen pada usia 10 tahun. Ia mengaku prihatin melihat hewan peliharaan konvensional seperti hamster dan ikan mas yang terkurung di kandang sempit, sekaligus cemas terhadap krisis kepunahan dan keruntuhan ekologis. “Saya membawanya ke sekolah untuk presentasi saat berusia 10 tahun,” kenangnya. “Itu momen paling populer yang pernah saya alami, dan semua orang memilih agar kami memeliharanya. Kami simpan di tangki besar di sudut kelas selama enam minggu. Mereka berkembang biak dengan banyak.”
Pada 2025, proyek Wild Pets menjadi runner-up dalam kompetisi Earthshot junior yang digagas Pangeran William. Crowdfunding yang terkumpul membantu pembiayaan pelepasan tikus panen pertama. Eva dan Emily dibimbing oleh Derek Gow, ekolog dan rewilder yang berpengalaman menangani program penangkaran jangka panjang untuk vole air, berang-berang, bangau, serta satwa lain. Tahun lalu, mereka melepas ratusan tikus hasil penangkaran ke cagar alam. Populasi baru itu bertahan, dan tahun ini ditemukan sarang maternal—bola rumput anyaman betina yang digantung di padang rumput rumpun atau semak—di kawasan tersebut. Chris Packham, presenter BBC Springwatch, menyebut konsep Wild Pets “benar-benar sensasional”.
Proyek yang diperluas ini didukung oleh Gow, Devon Environment Foundation, Mid Devon District Council, dan Naturesave Trust. Anak-anak yang terpilih akan menerima sepasang tikus panen beserta seluruh peralatan setelah mengikuti hari pelatihan musim semi mendatang di pusat Rewilding Coombeshead milik Gow di Devon. Mereka akan membiakkan tikus-tikus itu—yang dapat menghasilkan beberapa kelahiran sepanjang musim panas—dengan target pelepasan 250 ekor pada September.
“Ini sangat menginspirasi ketika anak muda punya ide lalu mewujudkannya. Sungguh, sangat penting. Yang saya suka dari anak muda adalah mereka berpikir jernih, berbicara jelas, dan menyelesaikan pekerjaan. Kerja bagus, Eva dan Emily. Ini proyek yang benar-benar brilian.”
— Chris Packham, naturalis dan presenter BBC
Bagi Emily, mengambil tindakan nyata—sekecil apa pun—membantu meredakan kecemasan terhadap kerusakan lingkungan. “Itu membuat Anda merasa jauh lebih baik dalam jangka panjang. Anda merasa benar-benar melakukan sesuatu, bukan sekadar menonton semuanya terjadi,” ujarnya. Eva menambahkan, “Segalanya sangat menakutkan saat ini, di berita dan di sekolah. Semuanya gelap. Jadi melakukan sesuatu, meski hanya hal kecil di sudut kecil Devon, membantu kami merasa sedikit lebih baik.”
Kedua pendiri Wild Pets berharap dapat memperluas program penangkaran liar ke spesies asli kecil lain yang seharusnya lebih umum di Inggris, seperti kadal umum, kumbang rusa, jangkrik mol, dan cacing cahaya. “Di tahun pertama kami hanya menginspirasi 20 anak, tapi tahun depan kami akan menginspirasi seluruh negeri untuk menjadi konservasionis dan peduli pada alam,” kata Eva.
Pertanyaannya kini: mampukah model partisipasi anak-anak ini direplikasi di wilayah lain, atau bahkan di Indonesia yang memiliki kekayaan satwa endemik terancam? Jika berhasil, Wild Pets bisa menjadi cetak biru bagi gerakan konservasi berbasis rumah tangga yang melibatkan generasi muda secara langsung—bukan sekadar kampanye digital.



