Penerbangan Flydubai Nyaris Celaka, Australia Selidiki Jejak Ko-Pilot di Negeri Kanguru
Baca dalam 60 detik
- Ko-pilot Flydubai yang diduga mencoba membajak pesawat tujuan Tel Aviv pernah tinggal di Australia selama dua tahun sebagai mahasiswa.
- Badan intelijen dan kepolisian Australia kini memburu jejak koneksi pria asal Oman tersebut, termasuk masa studinya yang berakhir dengan pembatalan visa.
- Insiden ini memicu pertanyaan besar tentang celah pengawasan penerbangan global dan prosedur rekrutmen maskapai di kawasan Teluk.

Otoritas keamanan Australia membuka penyelidikan menyeluruh terhadap latar belakang seorang ko-pilot Flydubai yang diduga berupaya membajak pesawat menuju Tel Aviv. Pria berkewarganegaraan Oman itu dilaporkan pernah menghabiskan sekitar dua tahun di Australia sebagai mahasiswa, sebelum akhirnya meninggalkan negara tersebut dan visanya dibatalkan pada 2019.
Insiden yang hampir berujung bencana terjadi pada Rabu pekan lalu. Pesawat Flydubai dengan 182 orang di dalamnya tiba-tiba kehilangan ketinggian hingga 16.625 kaki (5.067 meter) hanya dalam tempo lebih dari 30 detik. Penumpang dan awak kabin bergerak cepat melumpuhkan ko-pilot yang diduga berusaha mengambil alih kendali pesawat. Jaksa Agung Uni Emirat Arab menyebut aksi tersebut sebagai upaya serangan teroris, dengan senjata pemecah kaca (crash axe) yang digunakan dan sang pilot utama mengalami luka tusuk di udara.
Sejumlah media internasional mengidentifikasi ko-pilot tersebut sebagai Hammam al-Hammami. Juru bicara Kepolisian Federal Australia (AFP) pada Minggu menyatakan bahwa tim gabungan antiterorisme Victoria—terdiri dari AFP, Kepolisian Victoria, dan Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO)—sedang mendalami keterkaitan pria itu dengan Australia. "Pembaruan akan diberikan pada waktu yang tepat," ujar juru bicara tersebut, seperti dikutip dari pernyataan resmi.
Berdasarkan sumber yang mengetahui kasus ini, al-Hammami memperoleh visa pelajar Australia pada 2014 dan tiba setahun kemudian untuk memulai kuliah. Ia meninggalkan Australia pada 2017, lalu otoritas mencabut visanya dua tahun berselang setelah terkonfirmasi tidak lagi terdaftar dalam program studi. Media Amerika Serikat seperti CNN melaporkan bahwa profil LinkedIn yang kini telah dihapus menyebut al-Hammami menempuh studi teknik di salah satu universitas Australia. Namun, Guardian Australia belum dapat memverifikasi kampus mana yang dimaksud.
Sebelumnya, Buckinghamshire New University di Inggris mengonfirmasi bahwa seorang mahasiswa bernama Hamam al-Hammami pernah menyelesaikan kursus jarak jauh di bidang manajemen penerbangan. Pihak universitas menegaskan yang bersangkutan tidak menjalani pelatihan pilot di institusi tersebut. Jejak pendidikan ini menjadi salah satu fokus penyelidikan karena menunjukkan bagaimana seseorang dengan latar belakang teknis bisa masuk ke industri penerbangan komersial.
"Kami dapat mengonfirmasi bahwa tim antiterorisme gabungan sedang menyelidiki keterkaitan pria tersebut dengan Australia. Pembaruan akan diberikan pada waktu yang tepat." — Juru bicara Kepolisian Federal Australia
Yang memperumit situasi, Wall Street Journal melaporkan bahwa al-Hammami pernah dilarang terbang oleh otoritas Oman karena kekhawatiran ia mengadopsi pandangan ekstremis. Ia kemudian dipindahkan ke posisi administratif di Oman Air sebelum akhirnya direkrut oleh Flydubai, maskapai bertarif rendah berbasis di Uni Emirat Arab. Fakta ini memunculkan pertanyaan serius tentang seberapa ketat proses seleksi dan pemantauan latar belakang awak pesawat di maskapai kawasan Teluk.
Flydubai sendiri menolak berkomentar lebih jauh. Juru bicaranya menyatakan bahwa situasi masih dalam penyelidikan dan maskapai tidak dalam posisi memberikan keterangan tambahan. Penerbangan antara Dubai dan Tel Aviv telah ditangguhkan sampai waktu yang belum ditentukan. Ko-pilot asal Oman dan kapten penerbangan asal India, Smit Machchhar, dibawa ke UEA yang memimpin investigasi. Sejumlah negara, termasuk Israel, disebut turut berpartisipasi dalam penyelidikan ini.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap tenaga kerja asing di sektor penerbangan—termasuk yang pernah menempuh pendidikan di dalam negeri—perlu diperkuat. Indonesia memiliki sejumlah sekolah penerbangan dan program studi teknik yang menarik minat mahasiswa asing. Tanpa sistem pelacakan yang ketat, celah serupa bisa saja terjadi. Otoritas penerbangan sipil dan imigrasi dituntut untuk tidak hanya fokus pada aspek administratif, tetapi juga pada pemantauan perilaku dan ideologi selama masa studi.
Ke depan, penyelidikan Australia akan menjadi ujian bagi kerja sama intelijen lintas negara dalam menghadapi ancaman terorisme di sektor aviasi. Apakah pengungkapan jejak al-Hammami akan mendorong reformasi kebijakan visa pelajar dan prosedur rekrutmen maskapai secara global? Ataukah insiden ini hanya akan menjadi catatan kelam yang perlahan terlupakan tanpa perubahan berarti?



