Norris Terhambat Power Unit, McLaren Waspadai Balapan Sepang
Baca dalam 60 detik
- Lando Norris start keenam di GP Malaysia setelah terkendala kurangnya kecepatan di lintasan lurus akibat power unit Mercedes yang belum optimal.
- McLaren kesulitan memaksimalkan mesin sejak regulasi 2026, meski sudah ada perbaikan sejak Spa; Sepang kembali memperlihatkan kelemahan MCL40.
- Oscar Piastri tidak heran dengan hasil kualifikasi dan pesimistis menghadapi balapan, terutama soal degradasi ban dan strategi.

Lando Norris harus puas memulai balapan Formula 1 GP Malaysia dari posisi keenam setelah mobil McLaren-nya mengalami kendala power unit yang membuatnya kehilangan waktu di lintasan lurus Sirkuit Sepang, Sabtu (kualifikasi). Pembalap Inggris itu mencatat waktu 1 menit 35,757 detik, terpaut enam persepuluh detik dari Max Verstappen (Red Bull) yang merebut pole, dan hanya unggul 0,005 detik atas rekan setimnya, Oscar Piastri, di posisi ketujuh.
Norris mengungkapkan bahwa defisit kecepatan tersebut bersumber dari ketidakmampuan McLaren mengoptimalkan mesin Mercedes yang dipasok untuk tim pelanggan. "Saya merasa lap saya sangat kuat. Ini sulit. Saya senang karena saya masih kesulitan di lintasan lurus di mana-mana," ujarnya. "Saya tertinggal di setiap lintasan lurus, jadi setiap kali saya keluar dengan baik, saya justru lebih lambat di ujung lintasan. Itu menyakitkan setiap kali melihatnya. Saya seharusnya bisa lebih tinggi, bukan karena saya bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik, tetapi karena kami tidak mendapatkan semua yang kami butuhkan dari mobil."
Masalah ini sebenarnya sudah menghantui McLaren sejak awal era regulasi 2026, ketika tim pelanggan tidak memiliki pengetahuan awal tentang mesin yang jauh lebih kompleks. Butuh waktu bagi juara bertahan itu untuk mengatasinya. Perkembangan positif terjadi di Spa pada Juli lalu saat McLaren menerima komponen pembaruan, namun Sepang membuktikan masih ada ruang perbaikan. "Ini tidak hanya membuat hidup saya sulit hari ini, tetapi juga besok," tambah Norris.
Rekan setim Norris, Oscar Piastri, mengaku tidak terkejut dengan hasil kualifikasi. Menurutnya, karakter Sirkuit Sepang yang memiliki banyak tikungan cepat dan panjang "benar-benar memperlihatkan" kelemahan mobil MCL40. "Kami terlihat wajar dalam long run kemarin, tetapi jarak tempuh kami sedikit lebih pendek dari yang lain. Jadi untuk jumlah lap yang kami lakukan, itu terlihat cukup baik, tetapi tidak spektakuler dibandingkan yang lain," kata Piastri. "Jelas dirty air menjadi topik besar di sini karena ada kecepatan tinggi dan tikungan sangat panjang, jadi kita tunggu saja. Akan ada banyak strategi yang terlibat dengan degradasi yang ada, tapi saya tidak berharap gambaran besok akan jauh berbeda."
McLaren memang kesulitan sepanjang akhir pekan di Malaysia. Setelah hanya menempati posisi 11 dan 12 di sesi latihan pertama, mereka tidak pernah lagi menembus posisi tiga besar di sesi latihan berikutnya. Kondisi ini diperparah dengan sirkuit Sepang yang menuntut performa mesin di lintasan lurus, sesuatu yang belum bisa disediakan McLaren secara maksimal.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kisah McLaren ini menjadi pengingat bahwa dominasi tidak datang tanpa celah. Tim-tim pelanggan seperti McLaren harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan dari tim pabrikan, terutama dalam era regulasi mesin yang rumit. Sementara itu, Verstappen dan Red Bull tampaknya masih menjadi tolok ukur yang sulit dikejar.
Balapan GP Malaysia akan menjadi ujian sesungguhnya bagi McLaren. Mampukah Norris dan Piastri memanfaatkan strategi dan degradasi ban untuk memangkas defisit, atau justru semakin tertinggal? Jawabannya akan terlihat di lintasan.



