Kapolri Pimpin Korps Raport: 7 Pati Polri Naik Pangkat Komjen, 88 Personel Dimutasi
Baca dalam 60 detik
- Tujuh perwira tinggi Polri resmi menyandang pangkat Komisaris Jenderal dalam upacara korps raport yang digelar di Mabes Polri, Jakarta.
- Mutasi besar-besaran mencakup 88 personel, dengan 70 di antaranya mengisi jabatan baru, termasuk posisi strategis seperti Kabareskrim dan Kabaintelkam.
- Langkah ini disebut sebagai penyegaran organisasi sekaligus persiapan menghadapi tantangan keamanan dan penegakan hukum ke depan.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memimpin upacara Korps Raport kenaikan pangkat di Rupattama Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (3/10) malam. Dalam prosesi itu, tujuh perwira tinggi (Pati) Polri resmi menyandang pangkat Komisaris Jenderal (Komjen), menandai salah satu rotasi terbesar di tubuh korps Bhayangkara sepanjang tahun ini.
Ketujuh Pati yang naik pangkat menjadi Komjen adalah Sandi Nugroho, Dadang Hartanto, Dedy Kusuma Bakti, Asep Safrudin, Hery Herjawan, Andik Setiyono, dan Rudi Darmoko. Kenaikan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari restrukturisasi yang menyentuh sejumlah posisi kunci di Mabes Polri dan kewilayahan.
Selain tujuh Komjen, sebanyak 14 Pati naik pangkat menjadi Inspektur Jenderal (Irjen), dan dua Pati lainnya menyandang Brigadir Jenderal (Brigjen). Nama-nama yang naik ke Irjen antara lain Agus Dwi Hermawan, Putu Putera Sadana, Hendra Kurniawan, Tubagus Ami Prindani, Pasma Royce, Yosi Muhamartha, Deni Dharmapala, Sonny Irawan, Rony Samtana, Adi Vivid Agustiadi Bachtiar, Adrianto Jossy Kusumo, Roy Hardi Siahaan, dan Adex Yudiswan. Adapun dua Pati yang menjadi Brigjen adalah Anwar Haidar dan M. Darwis Debby Hermawan.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir menegaskan bahwa mutasi dan rotasi merupakan keniscayaan organisasi. Menurutnya, langkah ini tidak hanya untuk menjaga kesinambungan tugas, tetapi juga membuka ruang pengembangan karier bagi personel. "Mutasi dan rotasi jabatan merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri. Hal ini dilakukan sesuai kebutuhan organisasi sekaligus sebagai bagian dari pembinaan karier dan penyegaran dalam pelaksanaan tugas kepolisian," ujarnya.
Dalam surat telegram yang diterbitkan awal Oktober itu, sejumlah jabatan strategis di Mabes Polri mengalami pergantian. Komjen Asep Edi Suheri didapuk sebagai Irwasum Polri; Irjen Dedy Kusuma Bakti sebagai Kabaintelkam Polri; dan Irjen Asep Safrudin sebagai Kabareskrim Polri. Posisi Kadivpropam Polri dipercayakan kepada Irjen Mahmud Nazly Harahap, sementara Irjen Roberto G. M. Pasaribu mengisi Kadiv TIK Polri. Brigjen Tubagus Ami Prindani ditunjuk sebagai Kadensus 88 AT Polri.
Tak hanya di lingkup Mabes, rotasi juga merambah 19 jabatan Kapolda. Irjen Dadang Hartanto kembali dipercaya memimpin Polda Metro Jaya, sementara Irjen Suwondo Nainggoan mengisi Kapolda Maluku dan Irjen Suhendri menjadi Kapolda Kepri. Pergantian di tingkat kewilayahan ini dinilai krusial karena berkaitan langsung dengan pengelolaan keamanan di daerah, terutama menjelang agenda politik dan ekonomi nasional.
Pengamat kepolisian menilai pola mutasi kali ini menunjukkan upaya konsolidasi internal yang lebih terarah. Dengan menempatkan sejumlah nama di posisi strategis, Kapolri tampak ingin memastikan sinergi antara fungsi intelijen, penegakan hukum, dan pengawasan internal. Namun, publik tetap menanti apakah penyegaran ini akan berdampak pada percepatan penanganan kasus-kasus besar yang selama ini menjadi sorotan, seperti pemberantasan korupsi dan terorisme.
Sejumlah kalangan juga menyoroti pentingnya transparansi dalam proses promosi. Meski mekanisme korps raport telah diatur, ekspektasi publik terhadap akuntabilitas jabatan di Polri kian tinggi. Kinerja para pejabat baru akan menjadi ujian, terutama dalam merespons dinamika keamanan yang semakin kompleks.
Ke depan, susunan baru ini akan menentukan arah kebijakan Polri setidaknya hingga akhir tahun. Apakah rotasi ini mampu memperkuat soliditas institusi dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, atau justru memunculkan tantangan adaptasi di tubuh korps? Waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: peta kekuatan Polri telah berubah.



