Lava Worlds: Planet Super-Earth yang Suhunya Melebihi 4.000 Derajat Fahrenheit, Misteri Atmosfer yang Tetap Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Astronom menemukan fenomena aneh pada planet super-Earth yang mengorbit sangat dekat dengan bintangnya, namun tetap memiliki atmosfer tebal meski suhu permukaannya ekstrem.
- Podcast This Week In Space episode 230 menghadirkan Dr. Laura Schaefer untuk membahas bagaimana lava worlds bertahan dari radiasi bintang yang seharusnya mengupas atmosfernya.
- Penemuan ini membuka peluang baru dalam memahami evolusi planet dan kemungkinan hunian di luar tata surya, serta mendorong misi antariksa seperti Starship dan pusat data orbital.

Planet 55 Cancri-e, sebuah super-Earth yang mengorbit bintangnya pada jarak 20 kali lebih dekat daripada Merkurius ke Matahari, memiliki suhu siang hari yang melampaui 4.000 derajat Fahrenheit. Logikanya, atmosfer planet ini seharusnya sudah lama terkikis oleh radiasi bintang, menyisakan batuan kering tanpa udara. Namun, pengamatan justru menunjukkan sebaliknya: 55 Cancri-e masih memiliki selubung gas yang tebal. Fenomena inilah yang menjadi fokus diskusi dalam episode terbaru podcast This Week In Space.
Dalam episode ke-230, pembawa acara Rod Pyle dan Tariq Malik berbincang dengan Dr. Laura Schaefer, seorang ahli planetologi, untuk mengupas bagaimana lava worlds—planet dengan permukaan magma—mampu mempertahankan atmosfernya. Menurut Schaefer, sebagian planet super-Earth yang mengorbit dekat bintang induknya memang kehilangan atmosfer karena tekanan radiasi yang luar biasa. Akan tetapi, ada mekanisme internal yang memungkinkan planet seperti 55 Cancri-e untuk terus mengisi kembali gasnya, misalnya melalui aktivitas vulkanik atau outgassing dari mantel.
Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami interaksi antara bintang dan planet, terutama dalam konteks pencarian planet layak huni. Sebagian besar eksoplanet yang ditemukan mengorbit bintang katai merah dengan jarak sangat dekat, sehingga sering dianggap tidak ramah kehidupan. Namun, temuan bahwa beberapa di antaranya masih memiliki atmosfer tebal membuka kemungkinan baru: mungkin ada zona di sekitar bintang di mana planet dapat mempertahankan atmosfer meskipun suhunya ekstrem.
Episode ini juga membahas perkembangan terkini dalam industri antariksa, termasuk uji terbang Starship milik SpaceX yang berhasil mencapai orbit untuk pertama kalinya. Selain itu, ada topik tentang pusat data orbital pertama dan perayaan tahun baru di Mars. Perkembangan ini menunjukkan bahwa eksplorasi antariksa tidak hanya berfokus pada pencarian planet baru, tetapi juga pada infrastruktur pendukung di luar angkasa.
"Planet-planet ini seperti laboratorium alami untuk memahami batas antara planet yang bisa mempertahankan atmosfer dan yang tidak," ujar Dr. Laura Schaefer dalam podcast tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ilmu pengetahuan tentang eksoplanet dan teknologi antariksa ini memiliki implikasi jangka panjang. Meskipun program antariksa nasional masih dalam tahap awal, pemahaman tentang atmosfer planet dapat mendorong penelitian di bidang iklim dan vulkanologi. Selain itu, kemajuan teknologi peluncuran roket seperti Starship dapat membuka akses bagi negara berkembang untuk menempatkan satelit dengan biaya lebih murah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa banyak planet di alam semesta yang mampu bertahan dari kondisi ekstrem? Apakah atmosfer tebal pada lava worlds merupakan hal yang umum atau justru pengecualian? Misi antariksa mendatang, termasuk teleskop James Webb dan observatorium berbasis ruang angkasa lainnya, diharapkan dapat menjawab teka-teki ini. Jika semakin banyak planet yang terbukti memiliki atmosfer meski berada di zona panas, maka pemahaman kita tentang habitabilitas planet perlu direvisi total.



