Google DeepMind: AI Bisa Dikendalikan, Tapi Pekerja dan Sekolah Harus Mulai Bergerak
Baca dalam 60 detik
- Lila Ibrahim, Chief AI Readiness Officer Google DeepMind, menegaskan bahwa manfaat AI akan melampaui risikonya asalkan ada keterlibatan komunitas.
- Ia mendorong pekerja untuk segera menguasai alat AI dan sekolah lebih proaktif membekali siswa dengan pemahaman kritis tentang teknologi ini.
- Reorganisasi internal Google yang memindahkan unit tanggung jawab AI ke divisi kebijakan global memicu kekhawatiran independensi di kalangan karyawan.

Lila Ibrahim, Chief AI Readiness Officer Google DeepMind, menyatakan bahwa ia tidak akan menerima posisinya jika tidak yakin bahwa manfaat kecerdasan buatan akan melebihi risikonya. Pernyataan itu disampaikannya dalam podcast "CNBC Changemakers" bersama Julia Boorstin, seperti dikutip CNBC. Ibrahim beralih ke peran tersebut awal tahun ini setelah sebelumnya menjabat sebagai chief operating officer di Google DeepMind.
Menurut Ibrahim, tugasnya bukanlah kesiapan internal DeepMind semata, melainkan membantu pekerja, sekolah, dan komunitas memahami serta bersiap menghadapi AI yang kian merambah riset ilmiah, prakiraan cuaca, pendidikan, dan produktivitas kerja. Fokus utamanya adalah memastikan masyarakat memiliki suara dalam cara teknologi ini diterapkan. "Meski saya tidak tahu apa yang akan dilakukan AI, saya tahu kita masih punya agensi untuk membentuk arahnya," ujarnya. "Anda tidak bisa membentuk masa depan yang tepat tanpa melibatkan komunitas yang akan terdampak."
Bagi pekerja yang cemas akan kehilangan pekerjaan akibat AI, Ibrahim menyarankan langkah konkret: mulai gunakan teknologi itu. "Anda harus mulai memakai AI sendiri dan menyediakan waktu untuk itu," katanya. "Tidak perlu menjadi yang paling pintar di ruangan." Ia menambahkan bahwa penggunaan AI paling signifikan dalam pekerjaannya sehari-hari adalah untuk mencerna dan menyintesis dokumen-dokumen briefing.
Ibrahim juga menyoroti pentingnya pendidikan. Ia berpendapat sekolah perlu lebih aktif membekali siswa dengan pemahaman jernih tentang kemampuan dan batasan AI, serta kapan penggunaannya tepat. "Saya ingin sekolah lebih terlibat bekerja sama dengan guru," tuturnya. Ia mengingat pengalaman putrinya sendiri sebagai cerminan betapa pentingnya generasi muda memasuki usia dewasa dengan literasi AI yang mumpuni.
"AI dapat membantu mengotomatiskan semua tugas saya, tetapi tidak bisa mengotomatiskan hari Selasa saya." — Lila Ibrahim
Di sisi lain, Google tengah melakukan serangkaian perubahan organisasi yang memengaruhi tim AI-nya. Perusahaan memindahkan unit tanggung jawab AI yang berisi sekitar 90 orang dari Google DeepMind ke divisi urusan global, bagian yang menangani lobi dan kebijakan publik. Sejumlah karyawan mengkhawatirkan langkah ini akan mengurangi independensi mereka dan membatasi akses ke para peneliti yang mengembangkan model Gemini. Reorganisasi ini juga menyusul pergantian pimpinan: salah satu pendiri DeepMind, Demis Hassabis, beralih dari CEO menjadi chairman yang fokus pada keterlibatan eksternal, sementara Koray Kavukcuoglu mengambil alih kemudi DeepMind.
Perubahan struktur itu memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar komitmen Google terhadap tata kelola AI yang bertanggung jawab. Di tengah persaingan global yang makin ketat, langkah tersebut dapat memengaruhi persepsi publik dan regulator, terutama di pasar seperti Indonesia yang sedang menyusun kerangka regulasi AI. Ibrahim menekankan bahwa pertanyaan ketiga dalam panduan timnya—di mana AI tidak digunakan sama sekali—justru memunculkan kemampuan khas manusia seperti penilaian, kreativitas, dan intuisi yang harus terus dipupuk organisasi.
Ke depan, apakah perusahaan teknologi lain akan mengikuti jejak Google dalam menempatkan kesiapan AI sebagai fungsi tersendiri, atau justru memisahkan tanggung jawab etis dari unit bisnis? Jawabannya akan menentukan arah adopsi AI di dunia kerja dan ruang kelas, termasuk di Indonesia yang tengah menyiapkan generasi talenta digital.



