John Glenn: Dari Friendship 7 ke Discovery, Astronaut Tertua yang Mengorbit Bumi
Baca dalam 60 detik
- John Glenn mencetak sejarah ganda sebagai astronaut AS pertama yang mengorbit Bumi dan orang tertua yang mencapai orbit pada usia 77 tahun.
- Misi Friendship 7 tahun 1962 dan penerbangan Discovery 1998 menunjukkan ketangguhan fisik serta semangat eksplorasi yang tak lekang oleh waktu.
- Kisah Glenn menginspirasi diskusi tentang batas usia dalam eksplorasi antariksa dan potensi partisipasi Indonesia di sektor ini.

John Glenn, astronaut legendaris NASA yang juga menjabat sebagai senator Amerika Serikat, menorehkan dua tonggak sejarah luar biasa: sebagai warga AS pertama yang mengorbit Bumi dan sebagai manusia tertua yang mencapai orbit pada usia 77 tahun. Pada 1998, ia kembali ke antariksa dengan pesawat ulang-alik Discovery, 36 tahun setelah misi bersejarahnya.
Glenn pertama kali mencuri perhatian dunia pada 1962 melalui misi Friendship 7. Dalam proyek Mercury, ia menjadi satu-satunya astronaut yang berhasil menyelesaikan tiga orbit Bumi, menghabiskan waktu 4 jam 55 menit 23 detik sebelum mendarat aman di Samudra Atlantik. Prestasi ini mengukuhkannya sebagai pahlawan nasional dan mendapat pujian langsung dari Presiden John F. Kennedy.
Nama "Friendship" dipilih oleh anak-anak Glenn, yang menurutnya harus mencerminkan harapan dan persahabatan dengan dunia internasional. Sementara angka tujuh merujuk pada tujuh astronaut Mercury yang diperkenalkan NASA pada 1959. Keputusan Glenn untuk kembali ke antariksa pada usia senja bukan sekadar nostalgia, melainkan bukti bahwa penuaan tidak menghalangi kontribusi ilmiah. Selama misi Discovery, ia bertugas sebagai spesialis muatan bersama enam kru lainnya, menghabiskan 8 hari 21 jam 44 menit dan mengorbit Bumi sebanyak 134 kali.
Pencapaian Glenn pada 1998 memicu diskusi tentang batas usia dalam eksplorasi antariksa. Meskipun teknologi telah maju, faktor manusia tetap menjadi pertimbangan utama. Kisahnya membuktikan bahwa pengalaman dan ketekunan dapat mengalahkan keterbatasan fisik, sebuah pelajaran berharga bagi program antariksa modern yang semakin melibatkan astronaut dari berbagai latar belakang.
"Saya bertanya kepada mereka apakah mereka bersedia memikirkan beberapa nama. Saya katakan, 'Hanya ada satu aturan dasar: dunia akan menyaksikan, jadi nama itu harus mewakili negara kita dan perasaan kita terhadap dunia luar.' Mereka memilih Friendship sebagai yang teratas. Saya sangat bangga." - John Glenn, dalam memoirnya.
Bagi Indonesia, kisah Glenn dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan program antariksa nasional. Meskipun saat ini fokus Indonesia lebih pada teknologi satelit dan pemantauan bumi, semangat Glenn menunjukkan bahwa partisipasi dalam eksplorasi ruang angkasa tidak terbatas pada negara maju. Dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, Indonesia berpotensi berkontribusi lebih besar di masa depan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah generasi mendatang akan melihat lebih banyak astronaut senior seperti Glenn, atau apakah eksplorasi antariksa akan didominasi oleh usia muda seiring kemajuan teknologi. Yang jelas, warisan Glenn akan terus menginspirasi siapa pun yang bermimpi menembus batas, termasuk batas usia.



