Amelia Dimoldenberg dan Gaya 'Playful' yang Menantang Konvensi Mode Paris
Baca dalam 60 detik
- Amelia Dimoldenberg menegaskan gaya pribadinya yang playful dan unik, menolak dominasi warna netral dalam mode.
- Koleksi pre-loved dari eBay dan bimbingan stylist selama lima tahun menjadi pilar evolusi gaya sang presenter.
- Pendekatan anti-mainstream ini berpotensi menggeser standar kecantikan industri mode yang selama ini kaku.

Presenter Chicken Shop Date, Amelia Dimoldenberg, kembali mencuri perhatian bukan karena wawancara selebritasnya, melainkan karena pernyataannya tentang gaya busana yang dinilainya "playful" dan "unik". Dalam wawancara dengan ELLE UK, ia mengungkapkan bahwa meskipun sering tampil di pekan mode bergengsi seperti Paris Fashion Week, ia tetap setia pada warna-warna cerah dan siluet eksperimental, alih-alih mengikuti arus netral ala Paris.
Pernyataan ini muncul di tengah lanskap mode global yang perlahan bergeser dari estetika minimalis menuju individualisme yang lebih berani. Dimoldenberg, yang juga berlatar pendidikan jurnalisme mode di Central Saint Martins, mengaku sempat mencoba tampil lebih "Parisian" dengan balutan hitam, namun selalu gagal. "Saya tidak takut warna, dan saya tidak takut memakai siluet yang berbeda," ujarnya, menggambarkan pendekatan yang kontras dengan standar industri yang sering kali menuntut keseragaman.
Bagi Dimoldenberg, mode bukan sekadar pakaian, melainkan alat ekspresi yang terus berevolusi. Ia bercerita bahwa keputusan menindik telinga selama pandemi menjadi titik balik yang mengubah cara ia memandang aksesori sebagai elemen pengangkat penampilan. "Sebuah anting bisa benar-benar meningkatkan atau mengubah seluruh outfit," tambahnya, menyoroti detail kecil yang sering diabaikan dalam gaya sehari-hari.
"Saya rasa mode pre-loved adalah tentang memanfaatkan kreativitas orang lain. Anda bisa menemukan sesuatu yang Anda sukai atau menggali era tertentu dari pakaian. Itulah yang membuatnya menarik."
Kecintaan pada mode pre-loved juga tercermin dari kebiasaannya berburu di eBay. Ia mengaku pernah mendapatkan kaus CSI yang menjadi salah satu favoritnya, sebuah penghormatan pada serial televisi yang ia gemari sejak remaja. Menurutnya, platform seperti eBay membuka peluang untuk mengeksplorasi desainer favorit atau periode mode tertentu tanpa harus terikat pada tren musiman.
Pendekatan Dimoldenberg ini sejalan dengan tren yang lebih luas di kalangan generasi muda, di mana keberlanjutan dan orisinalitas menjadi nilai jual. Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat dengan menjamurnya toko thrift dan komunitas barter pakaian, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Kesadaran akan dampak lingkungan dari fast fashion mendorong konsumen untuk beralih ke pakaian bekas layak pakai, sekaligus mengekspresikan gaya yang tidak pasaran.
Namun, tantangan tetap ada. Industri mode arus utama masih sering memandang pre-loved sebagai pilihan sekunder, bukan sebagai pernyataan gaya yang setara. Keberanian Dimoldenberg untuk tampil beda di panggung global bisa menjadi sinyal bahwa batas antara mode tinggi dan gaya jalanan semakin kabur. Ia membuktikan bahwa warna cerah dan potongan tak biasa dapat diterima di lingkaran mode paling eksklusif sekalipun.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pendekatan individualistis seperti ini akan diadopsi lebih luas oleh industri, atau justru tetap menjadi ceruk bagi mereka yang berani melawan arus. Jika semakin banyak figur publik seperti Dimoldenberg yang mengangkat mode pre-loved dan eksperimen warna, bukan tidak mungkin standar kecantikan yang kaku perlahan akan tergantikan oleh definisi yang lebih personal dan inklusif.



