Ledakan Tabung Gas 50 Kg di Surabaya: 5 Karyawan Luka Bakar, 41 Bangunan Rusak
Baca dalam 60 detik
- Lima pekerja Depot Nasi Tempong Sri Dewi di Ruko San Antonio, Pakuwon City, Surabaya, mengalami luka bakar pada wajah akibat ledakan tiga tabung LPG 50 kg yang bocor.
- Sebanyak 41 bangunan dan 16 kendaraan rusak; korban dirawat di dua rumah sakit berbeda, sementara pemerintah kota masih memvalidasi data kerugian.
- Insiden ini menyoroti pengawasan instalasi gas di kawasan komersial dan permukiman padat, serta potensi tuntutan ganti rugi bagi warga terdampak.

Ledakan keras yang bersumber dari tiga tabung gas LPG berkapasitas 50 kilogram mengguncang kompleks Ruko San Antonio, Pakuwon City, Mulyorejo, Surabaya, Selasa (6/10) pagi. Lima karyawan Depot Nasi Tempong Sri Dewi menjadi korban langsung dengan luka bakar yang sebagian besar mengenai area wajah. Seluruh korban kini menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit berbeda.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto, memastikan bahwa kelima korban merupakan pekerja di rumah makan tersebut. Tiga orang dirawat di RSUD Haji Surabaya, sedangkan dua lainnya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo karena membutuhkan penanganan medis lebih lanjut. "Untuk yang dua orang ini perlu penanganan lebih lanjut," ujar Irvan di lokasi kejadian.
Hingga berita ini diturunkan, BPBD belum dapat memastikan persentase tingkat keparahan luka bakar para korban. Namun, data sementara menunjukkan bahwa rata-rata luka terkonsentrasi di bagian wajah. Sementara itu, tim gabungan dari BPBD, aparat kecamatan, dan pengelola kawasan Pakuwon City tengah melakukan pendataan langsung ke permukiman warga yang terdampak getaran ledakan.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Luthfie Sulistiawan mengungkapkan bahwa indikasi kebocoran gas sebenarnya telah tercium oleh pekerja sesaat sebelum ledakan. Sekitar pukul 07.00 WIB, saat koki sedang memasak, bau gas menyengat muncul, lalu dalam sekejap terjadi ledakan. Temuan ini mengarah pada dugaan kelalaian dalam penanganan instalasi gas bertekanan tinggi di lingkungan komersial.
"Tadi sekitar pukul 07.00 WIB, ketika koki sedang masak, memang sempat mencium bau gas. Kemudian dalam sekejap terjadi semacam ledakan," kata Luthfie.
Dampak ledakan tidak hanya menghancurkan bangunan depot, tetapi juga merusak deretan toko di sekitarnya. Sebanyak 41 bangunan yang terdiri dari ruko dan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari retak hingga ambruk. Sejumlah kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi juga menjadi korban, termasuk 11 sepeda motor, empat mobil, dan satu truk.
Pemerintah Kota Surabaya masih membahas skema penggantian kerugian materiil bagi warga yang terdampak. Irvan menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memutuskan besaran kompensasi karena masih melakukan validasi data di lapangan. "Jangan sampai ketika kita melakukan pendataan ternyata data itu tidak valid," tuturnya. Proses pendataan melibatkan BPBD, camat setempat, dan perwakilan pengelola Pakuwon City.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap instalasi gas di kawasan padat aktivitas ekonomi dan permukiman perlu diperketat. Tabung LPG 50 kilogram yang bocor di pipa menunjukkan potensi risiko sistemik, terutama jika perawatan rutin diabaikan. Pemerintah kota dan pengelola kawasan dituntut tidak hanya responsif pascakejadian, tetapi juga preventif melalui audit keselamatan berkala.
Ke depan, publik akan menantikan hasil investigasi polisi dan kepastian ganti rugi bagi puluhan warga yang kehilangan tempat tinggal maupun kendaraan. Akankah insiden ini mendorong revisi regulasi penyimpanan gas di area komersial, atau kembali menguap sebagai tragedi rutin tanpa perbaikan tata kelola?



