RTX 5090 Rp85 Juta Meleleh Usai Setahun Dikardus, PNY dan Digital Storm Saling Lempar Tanggung Jawab
Baca dalam 60 detik
- Konektor daya RTX 5090 pada PC rakitan Digital Storm senilai $5.245 meleleh meski baru dua minggu digunakan, memicu sengketa klaim garansi antara PNY dan Digital Storm.
- PNY menolak RMA karena kabel yang dipakai bukan bawaan pabrik, sementara Digital Storm menyatakan masa garansi suku cadang telah berakhir.
- Kasus ini membuka celah abu-abu dalam ekosistem PC prebuilt: konsumen terjepit di antara kebijakan garansi yang saling bertentangan.

Seorang pengguna PC prebuilt harus menelan pil pahit setelah kartu grafis Nvidia GeForce RTX 5090 seharga $5.245 (sekitar Rp85 juta) meleleh, hanya dua minggu setelah mulai digunakan. Insiden ini menyeret dua perusahaan—Digital Storm selaku perakit dan PNY selaku produsen GPU—ke dalam perdebatan soal siapa yang bertanggung jawab, sementara konsumen terjebak tanpa jalan keluar.
Anthony DeMarco, pemilik sistem tersebut, menerima komputer dari ayahnya pada Agustus 2026 sebagai hadiah atas pekerjaan pertamanya setelah lulus kuliah. Sang ayah membelinya lebih awal, tepatnya Mei 2025, untuk menghindari lonjakan harga RAM. Setelah diuji sekilas, sistem itu dikardus rapi menunggu momen yang tepat. Namun, ketika akhirnya dinyalakan secara rutin, bau terbakar dan layar berkedip menjadi pertanda malapetaka.
Insiden ini bukan sekadar cerita apes satu orang. Ia menyoroti titik lemah dalam rantai pasok PC rakitan: konektor 12VHPWR/12V-2x6 yang seharusnya menjadi standar industri justru menjadi sumber masalah yang berulang. Sejak 2022, PCI-SIG telah mengingatkan anggotanya soal risiko ini, tetapi implementasi di lapangan masih jauh dari aman—terutama ketika perakit menggunakan kabel pihak ketiga.
DeMarco mengaku telah memeriksa semua koneksi setelah menerima PC. Namun, dua minggu kemudian, ia mencium bau aneh dari dekat komputernya. Keesokan harinya, layar monitor berkedip-kedip. Setelah mencoba mencari tahu lewat asisten AI Claude, ia diarahkan untuk memeriksa GPU. Betapa terkejutnya ia saat melihat kabel daya meleleh dan menghitam. Kabel itu bahkan menyatu dengan konektor, dan sebagian masih sulit dipisahkan.
Kerusakan tidak hanya pada GPU. Titik terparah justru di power supply—unit semi-modular 1.000 watt bawaan Digital Storm. Kabel menuju PSU meleleh total, kepala kabel menyatu dengan unit, dan kawat telanjang terlihat di kedua ujung. DeMarco segera mematikan sistem dan berharap GPU-nya masih bisa diselamatkan.
Langkah pertama yang diambilnya adalah menghubungi Digital Storm pada 26 Agustus 2026. Tiket dukungan dibuka atas nama ayahnya. Setelah mengunggah foto-foto kerusakan, tiket ditutup pada 31 Agustus. Dalam ringkasan panggilan, Digital Storm menyatakan bahwa kabel 12VHPWR yang rusak harus diklaim ke PNY karena masa garansi suku cadang telah berakhir. DeMarco juga disebut menyampaikan bahwa ia bisa memperbaiki konektor GPU di pusat reparasi.
Pada 8 September, DeMarco beralih ke PNY. Ia mengajukan RMA dengan menekankan garansi tiga tahun. Namun, perwakilan PNY menolak dengan alasan kabel yang digunakan bukan bawaan PNY. "Semua GPU PNY yang memerlukan input 16-pin (12VHPWR/12V-2x6) menyertakan kabel atau adaptor yang disetujui PNY di dalam kotak. Kabel ini adalah satu-satunya konfigurasi yang tercakup garansi," tulis perwakilan tersebut. "Jika kabel pihak ketiga digunakan dan terjadi kerusakan—termasuk meleleh, terbakar, atau deformasi konektor—PNY tidak dapat menerima produk dalam garansi."
"Dalam situasi ideal, saya ingin pengembalian dana untuk RTX 5090 PNY saya, bukan penggantian, karena saya tidak merasa aman membiarkan komputer menyala tanpa pengawasan jika masih memakai PNY RTX 5090." — Anthony DeMarco
DeMarco kemudian mengajukan pertanyaan lanjutan: apakah PNY memiliki daftar kabel yang disetujui? Apakah adaptor bawaan satu-satunya konfigurasi yang didukung? Bagaimana dengan perakit sistem yang menggunakan kabel PNY? Jawabannya: tidak ada daftar resmi, adaptor bawaan bukan satu-satunya, dan perakit resmi memang diakui, tetapi kabel yang mereka pilih tidak otomatis dijamin.
Merasa buntu, DeMarco melaporkan kasus ini ke database Consumer Product Safety Commission (CPSC) pada 16 September. PNY kemudian memberikan pernyataan resmi: "PNY mendukung kartu grafis GeForce RTX-nya, termasuk yang dijual melalui mitra perakit sistem resmi. Kami sedang meninjau kasus ini dan akan menghubungi pelanggan secara langsung." Sementara itu, Digital Storm tidak menanggapi permintaan komentar.
Kasus ini mencuatkan pertanyaan lebih besar: seberapa adil kebijakan garansi di industri PC rakitan? Ketika konsumen membeli sistem prebuilt, mereka sering kali tidak mengetahui merek komponen di dalamnya—DeMarco bahkan tidak tahu GPU apa yang akan ia dapat. Kebijakan garansi yang kaku dan saling bertentangan membuat konsumen berada di posisi rentan. Di sisi lain, perakit seperti Digital Storm berhak merujuk pada ketentuan produsen, tetapi mereka juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan sistem yang mereka jual aman.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini relevan. PC prebuilt dengan GPU kelas atas semakin diminati, tetapi kesadaran akan pentingnya memeriksa garansi komponen dan kualitas kabel masih rendah. Banyak perakit lokal menggunakan kabel pihak ketiga untuk menekan biaya, tanpa memberi tahu konsumen secara eksplisit. Jika terjadi hal serupa, konsumen Indonesia bisa menghadapi jalan buntu yang sama, bahkan lebih rumit karena tidak semua merek memiliki layanan purna jual resmi di sini.
Ke depan, industri perlu memikirkan ulang pendekatan terhadap konektor 16-pin. Memasukkan adaptor dan kabel ATX 16-pin penuh dalam kotak penjualan GPU mahal bisa menjadi langkah awal. Namun, yang lebih mendesak adalah transparansi: konsumen berhak tahu kabel apa yang digunakan, siapa yang menjaminnya, dan apa konsekuensinya jika terjadi kegagalan. Tanpa itu, insiden seperti yang dialami DeMarco akan terus terulang, menggerus kepercayaan pada teknologi yang seharusnya menjadi tulang punggung komputasi berperforma tinggi.



