Philips Hue Tinggalkan Zona Nyaman: Fokus Baru pada Pengalaman, Bukan Sekadar Ekosistem
Baca dalam 60 detik
- Signify mengubah strategi Philips Hue dari penjualan sistem tertutup menjadi penyedia pengalaman pencahayaan yang mudah dipahami dan langsung pakai.
- Peluncuran besar di IFA 2026 mencakup sinkronisasi TV berbasis kamera, integrasi AI, kemitraan dengan Sonos dan Nanoleaf, serta produk desain premium.
- Pendiri Hue, George Yianni, menegaskan bahwa kepuasan pengguna dan adopsi use case sederhana lebih penting daripada memperbanyak perangkat dalam ekosistem.

Philips Hue, merek pencahayaan pintar di bawah naungan Signify, secara resmi mengumumkan pergeseran strategi besar: tidak lagi hanya menjual sistem pencahayaan pintar, tetapi menjual pengalaman yang langsung dapat dinikmati oleh konsumen awam. Langkah ini diungkapkan dalam peluncuran besar di ajang IFA 2026 di Berlin, Jerman, bulan lalu, di mana perusahaan memperkenalkan berbagai produk dan fitur baru yang menyentuh area AI, hiburan TV, audio, pencahayaan pihak ketiga, hingga desain lampu yang estetis.
Selama hampir 15 tahun, Hue membangun reputasi sebagai pemimpin pasar dengan ekosistem yang terpusat pada Bridge—perangkat penghubung yang memungkinkan pengguna mengontrol lampu melalui aplikasi. Namun, lanskap persaingan berubah drastis sejak 2012. Merek-merek seperti Govee dan Nanoleaf menawarkan produk lebih murah dengan fitur melimpah, menciptakan ceruk pasar sendiri. Tantangan Hue kini bukan lagi memperkenalkan konsep pencahayaan pintar, melainkan meyakinkan masyarakat mengapa mereka membutuhkannya.
"Tantangan pencahayaan pintar telah berkembang melampaui sekadar menjelaskan apa itu," ujar pendiri Philips Hue, George Yianni, dalam wawancara dengan Forbes di IFA. "Ini bukan tentang menjelaskan bahwa produk ini ada, tetapi menjelaskan bagaimana hal-hal yang bisa dilakukannya menjadi bermakna bagi populasi pengguna yang lebih luas."
Pergeseran filosofi ini terlihat jelas pada produk anyar Philips Hue Play Screen Sync. Perangkat berbasis kamera dengan lensa fisheye dan kalibrasi otomatis ini mampu memantau layar TV secara real-time dan menerjemahkan gambar menjadi pencahayaan dinamis. Sistem ini kompatibel dengan aplikasi smart-TV bawaan, siaran televisi, maupun perangkat HDMI tanpa memerlukan sync box. Selain itu, ada Philips Hue Play HDMI sync box 4K yang lebih terjangkau untuk pengaturan HDMI sederhana, dan strip gradien Hue Play yang dapat terhubung langsung via Bluetooth tanpa Bridge.
"Itu adalah pergeseran fokus yang kami butuhkan," kata Yianni. "Kami tetap perlu membuat penggemar yang ingin sistem dan terus menambah serta memperluasnya tetap senang, dan ada inovasi untuk mereka juga, tetapi semakin banyak fokus kami diarahkan pada pengalaman pertama yang lebih sederhana dan terarah, yang saya pikir dibutuhkan oleh orang-orang yang belum mengadopsi pencahayaan pintar untuk melangkah masuk."
Pendekatan serupa juga diterapkan pada Liane 360° rope light, lampu tali dengan harga hampir $400. Meski bukan pembelian impulsif, Yianni menekankan bahwa konsumen tidak perlu memahami atau tertarik pada ekosistem Hue yang lebih luas untuk menginginkannya. "Ini bukan tentang menjadi murah. Ini tentang menjadi mudah dipahami. Ini hanyalah objek cahaya yang indah untuk mendekorasi rumah Anda," ujarnya. Ia menambahkan bahwa model bisnis perusahaan didasarkan pada kepuasan, bukan pada misi agar setiap orang membeli 50 lampu tambahan.
Hue juga tidak meninggalkan posisi premiumnya. "Kami melihat diri kami sebagai pemimpin pasar. Kami harus mendorong batas-batas kategori ini," tegas Yianni. Inovasi biasanya dimulai dari lini premium, meskipun perusahaan tetap menawarkan produk yang lebih terjangkau.
Integrasi AI menjadi bagian penting dari evolusi ini. Fitur utama dari IFA adalah Custom AI Behaviors, yang memungkinkan pemilik Bridge Pro mendeskripsikan otomatisasi dalam bahasa alami alih-alih merangkai pemicu, kondisi, dan aksi secara manual. Pengguna dapat meminta Hue mengubah perilaku sakelar dan sensor pada akhir pekan, memicu adegan saat gelap, atau mengubah pencahayaan saat pengaturan hiburan mulai tersinkronisasi. Namun, Yianni enggan sekadar menempelkan AI karena tren. "Saya melihat AI sebagai alat. Dan seperti alat lainnya, dalam banyak kasus ia diterapkan meskipun itu alat yang salah," katanya. Menurutnya, bahasa alami masuk akal ketika jumlah kemungkinan hasil terlalu besar untuk antarmuka konvensional, tetapi untuk tugas sehari-hari, tombol fisik tetap lebih baik.
Visi ke depan Hue adalah rumah pintar yang lebih otonom, di mana sistem dapat merekomendasikan otomatisasi berdasarkan produk yang dimiliki dan cara penggunaannya. "Saya pikir itu akan menjadi rekomendasi, dan kemudian Anda memilih bagaimana menerapkannya, sehingga Anda tetap memegang kendali, bukan AI yang mengambil alih," jelas Yianni.
Hue juga memperluas jangkauan melalui kemitraan strategis. Mulai November, sakelar Hue tertentu termasuk Tap Dial dapat mengontrol speaker Sonos—memutar dan menjeda musik, mengatur volume, melewati trek, dan mengakses Sonos Favorites. Yianni melihat hubungan kuat antara suara dan pencahayaan. "Suara dan pencahayaan... dalam beberapa hal, adalah dua komponen yang menciptakan ambiens, atmosfer di dalam rumah. Pencahayaan surround dan suara surround. Keduanya mencoba mencapai hal yang sama," ujarnya. Selain itu, Hue dan Nanoleaf—yang dulunya rival—kini bekerja sama menghadirkan panel Nanoleaf Shapes yang kompatibel ke ekosistem Hue melalui Philips Hue Wall Light Module. Panel Hexagons, Triangles, dan Mini Triangles dapat menjadi bagian dari adegan, otomatisasi, dan pengalaman hiburan Hue.
Meskipun standar Matter seharusnya memungkinkan interoperabilitas semacam itu, Yianni berargumen bahwa standar saja tidak selalu memberikan pengalaman konsumen yang baik. "Dengan melakukan koneksi langsung ini, dengan membuat modul ini, yang mengubah panel Nanoleaf menjadi produk Hue yang konsisten, Anda dapat mengekspos semua fungsionalitas yang jauh melampaui apa yang menjadi bagian dari standar tersebut," katanya.
Signify tetap ingin menjual sistem pencahayaan pintar premium, tetapi semakin ingin menjual pengalaman TV yang lebih baik, ruangan yang lebih atmosferik, otomatisasi yang lebih mudah, atau cara menggabungkan musik dan pencahayaan. Ekosistem Hue masih ada di latar belakang, tetapi perusahaan tampaknya ingin memastikan Anda tidak perlu peduli pada ekosistem sebelum menemukan alasan untuk bergabung.
Bagi pasar Indonesia, pergeseran ini bisa menjadi sinyal bahwa adopsi smart home tidak lagi menuntut konsumen memahami teknologi rumit. Dengan penetrasi internet dan smartphone yang tinggi, produk seperti Hue Play Screen Sync atau integrasi Sonos berpotensi menarik segmen menengah atas yang menginginkan pengalaman hiburan rumah yang sinematik. Namun, harga premium dan ketersediaan resmi di Indonesia masih menjadi tantangan. Apakah pendekatan "use case first" ini akan mempercepat adopsi smart lighting di tanah air, atau justru tetap menjadi barang mewah bagi segmen terbatas? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Hue menunjukkan bahwa masa depan pencahayaan pintar bukan tentang perangkat, melainkan tentang momen yang diciptakannya.



