Rocky Gerung di Wantimpres: Kritik Tajam atau Nasihat Strategis?
Baca dalam 60 detik
- Pengangkatan Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres memicu perdebatan soal peran kritikus di lingkaran kekuasaan.
- Perbedaan mendasar antara kritik yang menilai dan nasihat yang memperbaiki menjadi inti diskursus publik.
- Publik menanti apakah Rocky akan mempertahankan gaya kritisnya atau bertransformasi menjadi pemberi saran konstruktif.

JAKARTA โ Pengangkatan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) mengejutkan banyak pihak. Figur yang dikenal vokal mengkritik pemerintah itu kini berada di lingkaran dalam kekuasaan. Pertanyaan pun muncul: mungkinkah seorang kritikus tajam berubah menjadi pemberi nasihat yang konstruktif, atau justru sebaliknya?
Secara etimologis, kritik dan nasihat berasal dari akar yang berbeda. Kritik berakar dari kata Yunani kritikos, yang berarti kemampuan menilai dan membedakan. Sementara nasihat berasal dari bahasa Arab al-nushu, yang bermakna memurnikan sesuatu dari campuran yang mengganggu keasliannya. Perbedaan filosofis ini bukan sekadar semantik, melainkan menentukan arah komunikasi politik.
Kritik bekerja dengan cara mengidentifikasi kesalahan, menunjukkan kontradiksi, dan mengungkap inkonsistensi. Seorang kritikus pada dasarnya adalah pembuat daftar kekeliruan. Semakin tajam kritiknya, semakin panjang daftar kesalahan yang ia ungkap. Namun, kritik sering berhenti pada penilaian, tanpa menawarkan jalan keluar.
Sebaliknya, nasihat memiliki orientasi masa depan. Ia tidak hanya memotret kegagalan, tetapi berusaha membuka jalan menuju perbaikan. Seorang pemberi nasihat mungkin melihat kesalahan yang sama, tetapi ia bergerak lebih jauh dengan menunjukkan solusi. Inilah perbedaan esensial yang kini menjadi sorotan publik menyusul masuknya Rocky ke Wantimpres.
Pengangkatan Rocky ke Wantimpres memunculkan spekulasi tentang peran yang akan ia mainkan. Sebagai kritikus yang kerap melontarkan pernyataan tajam terhadap kebijakan pemerintah, apakah ia akan tetap konsisten dengan gaya kritisnya, atau justru menyesuaikan diri dengan etika birokrasi? Sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai upaya pemerintah merangkul suara kritis, namun ada pula yang melihatnya sebagai strategi meredam oposisi.
"Nasihat selalu memiliki orientasi masa depan. Ia tidak sekadar memotret kegagalan masa lalu, tetapi berusaha membuka jalan menuju keadaan yang lebih baik," tulis Ija Suntana, dosen dan penulis kolom di Kompas.com.
Dalam konteks Indonesia, Wantimpres bukanlah lembaga eksekutif yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Tugasnya memberikan pertimbangan kepada Presiden. Namun, posisi ini strategis karena akses langsung ke kepala negara. Jika Rocky mampu mengubah gaya kritiknya menjadi nasihat yang solutif, ia berpotensi memberikan kontribusi signifikan. Sebaliknya, jika ia tetap pada mode kritik, bisa jadi ia hanya menjadi suara minoritas di dalam lingkaran kekuasaan.
Perdebatan publik pun berkembang. Sebagian berharap Rocky dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat sipil, menyuarakan aspirasi kritis dengan cara yang lebih konstruktif. Sebagian lain skeptis, mengingat rekam jejaknya sebagai pengkritik keras. Mereka khawatir ia akan kehilangan independensi atau justru dimanfaatkan untuk melegitimasi kebijakan yang sebelumnya ia tentang.
Terlepas dari itu, fenomena ini mencerminkan dinamika politik yang lebih luas: bagaimana negara mengelola perbedaan pendapat. Apakah kritik selalu harus berseberangan, atau bisa diintegrasikan ke dalam sistem? Kehadiran Rocky di Wantimpres menjadi uji coba menarik. Jika berhasil, model ini bisa menjadi preseden bagi pemerintah dalam merangkul kritikus. Jika gagal, ia hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah politik.
Ke depan, publik akan menyoroti langkah konkret Rocky. Apakah ia akan menyampaikan nasihat yang mengguncang, atau justru memilih jalur aman? Yang jelas, perbedaan antara kritik dan nasihat bukan sekadar teori, melainkan praktik yang akan diuji dalam waktu dekat.



