Final FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia vs Thailand, Pelatih Filipina Ramal Duel Penuh Dinamika
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia akan menjamu Thailand di partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026 pada Senin (5/10/2026) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
- Pelatih Filipina Carles Cuadrat menilai laga ini berpotensi menyajikan pertarungan taktis yang ketat, mengingat kualitas kedua tim yang relatif berimbang.
- Kemenangan atas Thailand di fase grup tidak membuat Cuadrat menganggap enteng, ia justru menyoroti soliditas pertahanan dan organisasi permainan Gajah Putih.

Timnas Indonesia akan menghadapi Thailand pada laga final FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026). Duel ini menjadi puncak turnamen yang mempertemukan dua tim dengan catatan fase grup paling konsisten.
Indonesia melaju ke final setelah menguasai Grup A dengan koleksi tujuh poin dari tiga pertandingan—dua kemenangan dan satu hasil imbang. Sementara Thailand memuncaki Grup B dengan enam poin, hasil dari dua kemenangan dan satu kekalahan. Kedua tim sama-sama menunjukkan performa impresif sejak awal turnamen, menjadikan partai final ini sebagai pertemuan yang paling dinanti.
Pelatih Timnas Filipina, Carles Cuadrat, yang sempat merasakan langsung bersua Thailand di fase grup, memberikan pandangannya tentang laga puncak tersebut. Menurutnya, pertemuan Indonesia dan Thailand berpotensi menyuguhkan pertandingan berkualitas tinggi dengan dinamika yang menarik.
"Saya pikir ini bisa menjadi pertandingan yang sangat bagus dengan banyak dinamika," ujar Carles Cuadrat.
Cuadrat bukan tanpa alasan berbicara demikian. Bersama Filipina, ia berhasil mengalahkan Thailand 2-1 pada laga Grup A di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jumat (2/10/2026). Meski meraih kemenangan, ia tetap menilai Thailand sebagai lawan yang sulit ditaklukkan.
"Thailand adalah tim yang sangat kompak dan bertahan dengan baik, sangat sulit untuk mengalahkan mereka," ungkapnya.
Di sisi lain, kekuatan Indonesia juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Tim asuhan John Herdman tersebut memiliki materi pemain berkualitas yang mampu memberikan ancaman serius di lini depan. Selama fase grup, Ole Romeny dan kolega sukses mencetak 11 gol dan hanya kebobolan dua kali—sebuah catatan produktivitas yang mengesankan.
Cuadrat pun mengakui hal itu. Ia menyebut Indonesia memiliki banyak pemain berkualitas dan produktif dalam mencetak gol, sehingga final diprediksi berjalan seru.
"Tetapi di saat yang sama, saya melihat Indonesia memiliki banyak pemain berkualitas dan mencetak banyak gol di turnamen ini, jadi saya pikir ini akan menjadi pertandingan yang sangat seru untuk ditonton," kata Carles.
Bagi Indonesia, laga ini bukan sekadar perebutan trofi. Dukungan penuh dari suporter di Gelora Bung Karno bisa menjadi faktor psikologis yang menguntungkan, terlebih Thailand harus tampil di hadapan puluhan ribu pendukung tuan rumah. Namun, tekanan ekspektasi juga bisa menjadi bumerang jika skuad Garuda tidak mampu mengelola emosi.
Thailand, dengan pengalaman dan organisasi permainan yang solid, diprediksi akan menerapkan strategi disiplin untuk meredam agresivitas Indonesia. Pertahanan rapat dan serangan balik cepat menjadi senjata andalan Gajah Putih.
Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia memanfaatkan momentum sebagai tuan rumah untuk mengakhiri turnamen dengan gelar juara, atau Thailand kembali menunjukkan kelasnya sebagai raja sepak bola Asia Tenggara? Jawabannya akan terungkap di atas lapangan.



