Kalah Adu Penalti dari Indonesia, Hudson Tanggung Jawab dan Luruskan Narasi
Baca dalam 60 detik
- Thailand takluk 2-4 dalam drama tos-tosan melawan Indonesia di final FIFA ASEAN Cup 2026, meski sempat bermain imbang 2-2 selama 120 menit.
- Pelatih Anthony Hudson menolak menyalahkan individu atas kegagalan penalti dan menyoroti faktor kelelahan serta kartu merah yang mengubah dinamika laga.
- Hudson menyebut sepak bola Asia Tenggara berkembang pesat dan mengonfirmasi evaluasi menyeluruh sebelum menghadapi Piala Asia 2027.

Thailand harus menerima kenyataan pahit di partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026. Bermain imbang 2-2 hingga perpanjangan waktu, skuad asuhan Anthony Hudson akhirnya menyerah 2-4 dari Indonesia melalui adu penalti di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026) malam.
Kekalahan tersebut tidak serta-merta membuat Hudson menuding anak asuhnya. Dalam konferensi pers usai laga, pelatih berkebangsaan Inggris itu justru mengambil tanggung jawab dan menegaskan bahwa kegagalan eksekusi penalti bukan kesalahan satu atau dua pemain. "Adu penalti itu seperti bermain lotre," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia tetap bangga atas perjuangan para pemain, terutama kiper Saranon.
Dua algojo Thailand, Sarach Yooyen dan Natthapong, gagal menjalankan tugasnya. Namun Hudson menjelaskan bahwa penunjukan eksekutor didasarkan pada kesiapan mental dan fisik setelah pertandingan yang menguras tenaga. Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar pergantian pemain dilakukan karena cedera dan kram, bukan pilihan taktis semata.
Faktor kartu merah yang diterima Nicholas Mickelson pada menit ke-81 menjadi titik balik. Bermain dengan sepuluh orang sejak saat itu, Thailand dipaksa bertahan lebih dalam dan kehilangan momentum. Meski demikian, Hudson memuji mentalitas pantang menyerah yang ditunjukkan pemainnya hingga akhir perpanjangan waktu.
Hudson juga menyoroti perkembangan sepak bola Asia Tenggara yang semakin kompetitif, terutama dengan hadirnya pemain keturunan di skuad Indonesia. Ia secara khusus memberi selamat kepada pelatih Indonesia, John Herdman, dan mengakui bahwa timnya kalah dari lawan yang berada di jalur yang tepat. "Mereka memiliki pemain-pemain yang bagus dan kuat," tambahnya.
"Secara pribadi, saya merasa sedih, dan jujur, tidak tahu harus berkata apa. Tetapi saya sangat bangga dengan perjuangan para pemain." โ Anthony Hudson
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Thailand yang menargetkan gelar juara. Namun, Hudson melihatnya sebagai pelajaran berharga. Ia mengonfirmasi akan mengambil jeda istirahat sejenak sebelum mempersiapkan tim menghadapi Piala Asia 2027. Fondasi pemain inti sudah ia identifikasi, dan ia optimistis terhadap potensi pemain muda seperti Khakhana Khamyok dan Yotsakorn Burapha.
Setibanya di Bandara Suvarnabhumi, Selasa sore (6/10/2026), jajaran pelatih Thailand dijadwalkan langsung melakukan evaluasi menyeluruh. Agenda terdekat adalah Kings Cup ke-52 di Provinsi Sisaket pada November 2026, yang akan menjadi ajang pembuktian bagi regenerasi Skuad Gajah Perang.
Bagi Indonesia, kemenangan ini menegaskan dominasi di kawasan dan memperkuat posisi John Herdman sebagai arsitek tim yang mampu memadukan pemain senior dan keturunan. Sementara Thailand, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat mereka bisa bangkit dan mengubah kekecewaan menjadi motivasi di Piala Asia 2027.



