Solano Puji Indonesia, Tapi Soroti Nasib Sepak Bola Pakistan Tanpa Liga Profesional
Baca dalam 60 detik
- Nolberto Solano menilai penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia berjalan sangat profesional dan layak menjadi contoh.
- Pelatih Pakistan itu menyoroti ketiadaan kompetisi domestik di negaranya sejak 2021 sebagai akar keterpurukan sepak bola Pakistan.
- Pujian Solano menjadi cermin bahwa tuan rumah Indonesia telah naik kelas, sementara Pakistan masih berjuang membangun ekosistem sepak bola.

Pelatih Timnas Pakistan, Nolberto Solano, memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026 di Indonesia. Legenda Newcastle United itu menilai tuan rumah telah menampilkan standar organisasi yang jarang ditemui di kawasan Asia Selatan, terutama dari sisi fasilitas dan pelayanan kepada peserta.
Pernyataan tersebut disampaikan Solano usai laga terakhir Pakistan di Grup B melawan Vietnam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Meski timnya harus pulang lebih cepat setelah finis di dasar klasemen dengan satu poin dari tiga pertandingan, pelatih berusia 51 tahun itu tetap menyebut pengalaman bertanding di Indonesia sebagai sesuatu yang berharga.
Pakistan menjalani dua dari tiga laga grup di Bandung, dan menurut Solano, manajemen turnamen di kota tersebut berjalan tanpa hambatan berarti. Ia menyebut panitia mampu mengatur jadwal, transportasi, dan akomodasi tim dengan rapiโsebuah hal yang tidak selalu terjadi di turnamen internasional level Asia.
Bagi Indonesia, pujian Solano bukan sekadar basa-basi diplomatis. Sejak ditunjuk sebagai tuan rumah, Indonesia menghadapi ekspektasi tinggi untuk membuktikan bahwa infrastruktur dan manajemen turnamennya mampu bersaing di level internasional. Penilaian dari pelatih yang pernah malang-melintang di Premier League ini menjadi semacam validasi eksternal bahwa investasi tersebut tidak sia-sia.
"Penyelenggara mengatur semuanya dengan baik. Untuk Indonesia, saya sampaikan mereka sangat mengesankan," ujar Solano dalam konferensi pers.
Namun, di balik pujian itu, Solano menyoroti masalah struktural yang jauh lebih pelik: ketiadaan liga profesional di Pakistan. Sejak 2021, kompetisi domestik di negara tersebut tidak berjalan, membuat para pemain lokal kehilangan panggung untuk berkembang secara berkelanjutan. Kondisi ini kontras dengan Asia Tenggara, di mana liga seperti BRI Liga 1, Thai League, Liga Malaysia, dan V.League terus bergulir dan menjadi motor pengembangan talenta.
Solano membandingkan langsung jarak kompetitif antara Pakistan dan negara-negara ASEAN. Menurutnya, peringkat tim dan kualitas pemain tidak bisa dipisahkan dari keberadaan liga yang sehat. Tanpa kompetisi rutin, generasi muda Pakistan akan menghadapi rintangan yang jauh lebih berat dibandingkan rekan-rekan mereka di Asia Tenggara.
"Saya melihat kalian di Asia Tenggara lebih maju soal sepak bola. Liga Thailand, Liga Indonesia, Liga Malaysia, dan Liga Vietnam jadi contohnya," ungkap Solano.
Pernyataan ini seolah menjadi cermin bagi Indonesia. Meski penyelenggaraan turnamen mendapat apresiasi, tantangan sesungguhnya tetap pada pembinaan berkelanjutan. Indonesia memiliki liga yang bergulir, tetapi masih menghadapi persoalan klasik seperti kualitas wasit, stabilitas jadwal, dan pembinaan usia muda. Pujian dari tamu asing bisa menjadi energi positif, tetapi juga pengingat bahwa standar tuan rumah harus diikuti dengan prestasi di lapangan.
Solano menambahkan bahwa pengalaman bertanding di turnamen sekompetitif FIFA ASEAN Cup 2026 akan menjadi modal berharga bagi Pakistan untuk menata masa depan. Ia berharap para pemainnya dapat membawa pelajaran dari Indonesia, terutama soal profesionalisme dan disiplin bertanding.
"Ini adalah pengalaman menyenangkan. Sejujurnya kami sangat senang berada di turnamen sekompetitif ini. Pelan-pelan kami bisa menyusun masa depan setelah ini," kata Solano.
Ke depan, sorotan akan tertuju pada apakah Indonesia mampu mempertahankan standar penyelenggaraan ini untuk turnamen-turnamen berikutnya, sekaligus menjawab tantangan prestasi di level senior. Sementara Pakistan, dengan segala keterbatasan, harus segera menemukan solusi agar tidak semakin tertinggal dari tetangga-tetangganya di Asia. Pertanyaannya, akankah pujian Solano menjadi titik balik bagi kesadaran akan pentingnya ekosistem sepak bola yang utuhโbaik di Indonesia maupun di Pakistan?



