Gotong Royong di Mamasa: Jembatan Kayu dan Jalan 100 Meter yang Selamatkan Mutu Kopi Transmigran
Baca dalam 60 detik
- Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya bersama 30 warga memperbaiki jembatan kayu lapuk dan membuka akses jalan 100 meter menuju rumah pengering kopi di UPT Rano, Mamasa.
- Perbaikan ini krusial karena selama ini kopi dijemur di atas terpal pinggir jalan, sehingga hujan membuat biji basah dan harga jual jatuh.
- Kolaborasi ini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga merawat kohesi sosial antara transmigran Jawa dan warga lokal Mamasa.

Jembatan kayu berusia delapan tahun di Blok 100, Kawasan Transmigrasi UPT Rano, Desa Mehalaan Barat, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, akhirnya diperbaiki. Perbaikan itu bukan proyek pemerintah, melainkan inisiatif gotong royong Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya bersama sekitar 30 warga setempat pada 6โ10 September 2026. Jembatan sepanjang lima meter tersebut merupakan satu-satunya akses bagi 10 kepala keluarga, anak-anak yang bersekolah di SD Negeri 009 Rano, dan warga yang hendak ke Mushala Darul Muhlisin.
Selain mengganti kayu yang lapuk dengan material lebih tebal, tim dan warga membuka jalan sepanjang 100 meter menuju lokasi rumah pengering kopi yang sedang dibangun. Bagi petani di Rano, akses itu bukan sekadar infrastruktur, melainkan penentu nasib panen. Selama ini, kopi dijemur secara tradisional di atas terpal di pinggir jalan. Ketika hujan turun, biji kopi kembali basah, mutu menurun, dan harga jual pun tertekan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kopi Alam Rano, Solikhin, menegaskan bahwa jalan dan jembatan tersebut adalah urat nadi bersama. "Kalau aksesnya bagus dan aman, mobilitas warga jadi lancar dan pengangkutan hasil panen menuju tempat pengeringan juga jauh lebih mudah," ujarnya dalam rilis pers yang diterima LyndHub, Sabtu (3/10/2026). Ia berharap rumah pengering itu membuat petani tidak lagi menjual kopi dalam kondisi basah dengan harga murah.
Perbaikan infrastruktur desa sering kali luput dari perhatian karena dianggap urusan kecil. Padahal, bagi kawasan transmigrasi seperti UPT Rano, akses jalan dan jembatan adalah penentu apakah program transmigrasi berhasil atau stagnan. Kementerian Transmigrasi menargetkan transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Namun tanpa konektivitas yang memadai, komoditas unggulan seperti kopi Rano sulit bersaing. Rumah pengering dengan teknologi efek rumah kaca yang sedang dibangun menjadi krusial untuk menjaga mutu biji kopi, yang selama ini terdegradasi karena penjemuran konvensional.
"Rasa kekeluargaan kami di transmigrasi dan kepedulian antarwarga, antara lokal dan Jawa, itu hidup kembali. Pekerjaan yang tadinya kelihatan berat dan mustahil kalau dikerjakan sendiri, ternyata kalau dipikul sama-sama bisa cepat selesai," tutur Solikhin.
Bagi Ketua TEP Universitas Brawijaya, Bambang Susilo, keterlibatan warga menjadi bahan bakar semangat tim. "Kerja keras gotong royong memperbaiki infrastruktur jembatan, jalan, dan infrastruktur lainnya demi lancarnya program itu memberikan semangat luar biasa kepada kami," ujarnya. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pendampingan perguruan tinggi tidak berhenti pada teori, tetapi turun ke lapangan dan menyentuh persoalan riil.
Yang tak kalah penting, gotong royong ini merawat kohesi sosial. Di kawasan transmigrasi, potensi gesekan antara warga lokal dan pendatang sering menjadi tantangan. Namun, ketika warga bahu-membahu mengangkat kayu dan membuka jalan, sekat itu mencair. Solikhin menyebut rasa kekeluargaan antara warga lokal dan Jawa kembali hidup. Ini modal sosial yang mahal harganya untuk keberlanjutan program transmigrasi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah rumah pengering kopi selesai tepat waktu, tetapi apakah semangat gotong royong ini bisa dilembagakan. Jika setiap persoalan infrastruktur desa menunggu bantuan dari luar, keberlanjutan akan rapuh. Sebaliknya, jika warga dan Gapoktan mampu merawat fasilitas secara mandiri, UPT Rano bisa menjadi contoh bagaimana transmigrasi membangun kemandirian, bukan ketergantungan.



