Sinyal Radio dari Planet Ekstrasurya Beta Pictoris b Terdeteksi, Ungkap Medan Magnet 1.000 Kali Bumi
Baca dalam 60 detik
- Astronom mendeteksi emisi radio aurora dari Beta Pictoris b, planet gas raksasa berjarak 63 tahun cahaya, menggunakan teleskop MeerKAT di Afrika Selatan.
- Sinyal ini memungkinkan pengukuran langsung medan magnet exoplanet untuk pertama kalinya, menunjukkan kekuatan lebih dari 1.000 kali lipat medan magnet Bumi.
- Temuan ini membuka jalan baru dalam mencari planet layak huni dengan magnetosfer pelindung, meskipun Beta Pictoris b sendiri tidak mendukung kehidupan.

Untuk pertama kalinya, para astronom berhasil menangkap pancaran gelombang radio yang berasal dari sebuah planet di luar tata surya. Sinyal tersebut dipancarkan oleh Beta Pictoris b, sebuah planet gas raksasa yang mengorbit bintang jauh pada jarak sekitar 63 tahun cahaya dari Bumi. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan langsung menarik perhatian karena membuka cara baru untuk mempelajari medan magnet planet asing.
Pengamatan dilakukan menggunakan MeerKAT, susunan 64 antena radio yang terletak di Taman Nasional Meerkat, Afrika Selatan. Instrumen ini cukup sensitif untuk menangkap emisi radio samar dari objek di luar tata surya. Menurut tim peneliti, sinyal yang terdeteksi bukan berasal dari aktivitas makhluk hidup, melainkan fenomena alam yang disebut emisi radio aurora. Proses ini terjadi akibat interaksi antara magnetosfer planet dan ionosfer, mirip dengan aurora borealis di Bumi namun dalam skala jauh lebih besar.
Sebelumnya, astronom pernah mendeteksi sinyal radio dari objek lain seperti Jupiter dan komet 3I/Atlas, tetapi konteksnya berbeda. Pada Jupiter, emisi radio juga dihasilkan oleh interaksi magnetik, sedangkan pada komet, sinyal muncul akibat penyerapan gelombang radio oleh radikal hidroksil. Yang membuat Beta Pictoris b istimewa adalah kemampuannya memberikan informasi langsung tentang medan magnet planet, sesuatu yang selama ini sulit diukur dari Bumi.
โKehadiran magnetosfer dapat menjadi indikator potensi habitabilitas,โ ujar Yvette Cendes, salah satu penulis makalah, kepada The New York Times. Meskipun Beta Pictoris b sendiri adalah planet gas raksasa yang tidak mungkin menampung kehidupan seperti di Bumi, temuan ini membantu astronom memahami bagaimana mencari planet berbatu dengan medan magnet pelindung.
Medan magnet memainkan peran krusial dalam melindungi atmosfer planet dari angin bintang dan radiasi kosmik. Tanpa magnetosfer yang kuat, atmosfer bisa terkikis dan air di permukaan akan sulit bertahan. Oleh karena itu, kemampuan mendeteksi medan magnet exoplanet menjadi langkah penting dalam upaya menemukan dunia yang layak huni. Sejauh ini, kandidat seperti HD 20794 d, sebuah super-Bumi berjarak 20 tahun cahaya, masih menjadi teka-teki apakah memiliki magnetosfer atau tidak.
Bagi Indonesia, penemuan ini mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, riset semacam ini mendorong pengembangan teknologi radio dan pengolahan sinyal yang pada akhirnya berdampak pada industri telekomunikasi dan antariksa. Lembaga seperti BRIN dan observatorium di Indonesia dapat memanfaatkan metode serupa untuk penelitian atmosfer dan ionosfer Bumi, terutama dalam memahami gangguan sinyal radio akibat aktivitas matahari. Selain itu, keterlibatan Indonesia dalam jaringan teleskop radio global bisa menjadi peluang kolaborasi internasional yang memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang astronomi.
Ke depan, tim peneliti berencana memperluas pencarian emisi radio dari exoplanet lain, terutama yang berukuran mirip Bumi dan berada di zona layak huni. Tantangannya bukan hanya mendeteksi sinyal, tetapi juga memisahkan sumber radio dari bintang induk dan objek latar belakang. Jika berhasil, kita mungkin akan segera mengetahui apakah planet-planet terdekat memiliki perisai magnet yang cukup untuk melindungi kehidupan. Akankah generasi berikutnya menemukan dunia yang tidak hanya berbatu, tetapi juga memiliki langit yang berkilau aurora?



