Raheem Sterling di Ambang Penjara: Ketika Kecepatan yang Dulu Memukau Kini Kehilangan Arah
Baca dalam 60 detik
- Raheem Sterling mengaku bersalah atas tuduhan mengemudi berbahaya dan kepemilikan nitrous oxide, dengan vonis dijadwalkan November mendatang.
- Mantan bintang Manchester City dan Chelsea itu kini tanpa klub, kontras dengan Harry Kane yang masih bersinar bersama timnas Inggris.
- Kasus ini memicu perdebatan tentang bagaimana industri sepak bola menangani pemain yang mengalami penurunan performa dan masalah pribadi.

Raheem Sterling, mantan winger timnas Inggris yang pernah menjadi salah satu pemain termahal di Premier League, kini menghadapi ancaman hukuman penjara setelah mengaku bersalah atas tuduhan mengemudi berbahaya dan kepemilikan nitrous oxide di Pengadilan Magistrat Basingstoke. Vonis akan dijatuhkan pada November, sementara Sterling saat ini berstatus tanpa klub. Kasus ini menandai titik terendah dalam karier pemain yang pernah diprediksi menjadi penerus Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Kontras dengan Harry Kane, yang 16 bulan lebih tua darinya, sangat mencolok. Kane masih mencetak rekor demi rekor sebagai kapten timnas Inggris dan baru saja mencatatkan 73 gol dalam satu musim. Sterling, sebaliknya, harus berurusan dengan hukum setelah insiden yang membuat saksi mata khawatir nyawa orang lain terancam. Sumber-sumber yang dekat dengan Sterling menggambarkannya sebagai "jiwa yang tersesat" dan "salah arah" dalam mengelola hidup serta kariernya.
Perjalanan Sterling dimulai dari Stonebridge, London, tempat ia membantu ibunya membersihkan rumah. Bakatnya mencuat di akademi Queens Park Rangers, lalu direkrut Liverpool saat berusia 17 tahun. Mark Anderson, pemandu bakat Liverpool yang meyakinkan klub untuk mengeluarkan biaya besar bagi remaja 15 tahun itu, mengenang Sterling sebagai pemain yang percaya diri dan penuh gairah. "Dia memiliki semua bahan untuk menjadi prospek internasional," ujarnya. Steven Gerrard dalam autobiografinya mencatat bahwa Sterling jauh lebih tangguh secara mental daripada yang dibayangkan orang.
Namun, titik balik terjadi ketika Sterling menolak kontrak senilai ยฃ100.000 per pekan. Publik mulai memandangnya sebagai pemain muda yang arogan. Agennya saat itu, Aidy Ward, bahkan menyatakan Sterling tidak akan menandatangani kontrak baru meski ditawari hampir ยฃ1 juta per pekan. Liverpool akhirnya menjualnya ke Manchester City dengan nilai awal ยฃ44 juta. Sejak itu, citranya terus dibayangi kontroversi, termasuk insiden menghirup balon nitrous oxide pada 2015 dan menjadi kambing hitam kegagalan Inggris di Euro 2016.
Di Manchester City, Sterling mencapai puncak karier. Pada 2019, ia meraih treble domestik, mencetak dua gol di final Piala FA, dan menjadi penentu kemenangan di final Piala Liga melalui adu penalti. Ia juga meraih penghargaan Football Writers' Association sebagai pemain terbaik. Xavi Hernรกndez bahkan menyebutnya sebagai kandidat pengganti Messi dan Ronaldo. Di Euro 2020, Sterling menjadi motor serangan Inggris dengan mencetak gol-gol krusial. Namun, di balik prestasi itu, ia kerap menjadi sasaran rasisme dan kritik pedas.
Kepindahannya ke Chelsea pada 2022, yang diinisiasi oleh Thomas Tuchel, justru menjadi awal kehancuran. Tuchel dipecat tujuh minggu kemudian, dan Sterling harus bermain di bawah lima manajer berbeda dalam kurun waktu singkat. Produktivitasnya menurun drastis dibandingkan masa di City. Pada musim panas 2024, Chelsea memutuskan menjualnya. Enzo Maresca bahkan tidak memasukkan Sterling ke dalam rencana tim, dan ia harus berlatih terpisah. Meski ada laporan ia sering terlambat latihan, sumber dekat Sterling membantah pernah menerima sanksi resmi.
Sterling sempat dipinjamkan ke Arsenal, tetapi hanya mencetak satu gol sebelum kembali ke Chelsea. Ia menolak pinjaman ke Juventus, namun pada Januari 2025, setelah enam bulan tanpa bermain, ia menyetujui pemutusan kontrak. Ia lalu memilih membangun kembali karier di Feyenoord di bawah Robin van Persie, tetapi hasilnya bencana: ia diejek penggemar di media sosial dan ditertawakan di stadion. Seorang sumber membandingkan lintasan kariernya dengan Michael Owen, dua prodigi remaja yang mengandalkan kecepatan dan meredup seiring bertambahnya usia.
"Sedih melihat seseorang berjuang, karena dia adalah ayah yang berbakti dan pria keluarga yang menyenangkan," kata Thomas Tuchel. "Sepertinya dia melalui masa sulit. Saya tidak yakin seberapa besar kesalahannya; kadang orang memasuki spiral aneh dalam hidupnya. Doa kami menyertainya."
Kembali dari Belanda, Sterling mengemudikan Lamborghini-nya selama lebih dari satu jam di jalan tol saat jam sibuk sambil menghirup nitrous oxide dari balon. Ia mengaku kepada polisi memiliki "masalah" dengan zat tersebut. Insiden ini terjadi 11 hari setelah kepulangannya, seolah menjadi seruan minta tolong. Pengadilan akan memutuskan nasibnya pada November, dan ia menghadapi kemungkinan nyata dipenjara.
Bagi Indonesia, kasus Sterling menjadi cermin bagaimana tekanan publik dan ekspektasi berlebihan dapat menghancurkan atlet muda. Di saat Liga Indonesia mulai melahirkan talenta-talenta baru, penting untuk membangun sistem pendampingan mental dan manajemen karier yang lebih baik. Klub-klub tanah air perlu belajar dari kegagalan Chelsea dalam mengelola pemain bintang yang sedang dalam masa sulit. Tanpa dukungan yang tepat, pemain berbakat bisa kehilangan arah, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Mark Anderson, pemandu bakat yang pertama kali melihat bakat Sterling, mengenang, "Sebelum dia menjadi Raheem Sterling si pesepakbola internasional, dia hanyalah seorang anak laki-laki dengan bola yang seseorang harus percayai." Kini, pertanyaannya: masih adakah yang mau percaya padanya?



