Pasar Properti Mewah London Terpuruk: Harga Anjlok hingga 25%, Pembeli Kuasai Kendali
Baca dalam 60 detik
- Harga rumah mewah di pusat London turun tajam, dengan Westminster mencatat penurunan 25,4% secara tahunan, sementara pembeli mendapatkan diskon rata-rata 10,4% dari harga penawaran.
- Penyebab utamanya adalah kenaikan biaya pinjaman, penghapusan rezim pajak non-dom, dan rencana pajak rumah mewah, yang memicu eksodus orang kaya dan membanjiri pasar dengan properti.
- Meski segmen super-prime tetap bergairah dengan transaksi miliaran poundsterling, prospek jangka panjang suram karena lembaga seperti Strutt & Parker memangkas proyeksi pertumbuhan harga hingga 2030.

Pasar properti mewah London sedang mengalami koreksi tajam. Data terbaru menunjukkan harga rumah di area prime pusat kota turun hingga 25% secara tahunan, dengan Westminster—kawasan yang mencakup Mayfair dan Belgravia—mencatat penurunan terdalam sebesar 25,4%. Fenomena ini menandai berakhirnya era ketika properti London selalu melampaui rata-rata nasional, dan kini para pembeli memegang kendali penuh.
Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Sejak pertengahan 2010-an, harga properti di ibu kota Inggris dinilai sudah terlalu tinggi (overvalued) setelah periode pertumbuhan pesat. Brexit, pandemi Covid-19, kenaikan pajak properti, dan lonjakan biaya pinjaman menjadi pukulan beruntun. Menurut analis dari LonRes, Anthony Payne, para investor internasional yang dulu menjadikan London sebagai tempat menyimpan kekayaan kini justru meninggalkan pasar. "Mereka yang dulu menggelembungkan pasar, sekarang semakin banyak yang pergi," ujarnya.
Data dari Office for National Statistics (ONS) memperkuat gambaran tersebut. Harga rata-rata rumah di borough dalam London turun 8,3% pada tahun yang berakhir Juni, sementara harga nasional naik sekitar 2%. Di City of London, penurunan mencapai 20,4%, dan di Kensington serta Chelsea turun 14,7%. Pemilik yang membeli di puncak pasar pada pertengahan 2010-an kini menghadapi potensi kerugian hingga 25% jika menjual, menurut estimasi Savills.
Faktor pajak menjadi pemicu utama eksodus. Penghapusan rezim non-dom—status pajak khusus bagi orang kaya yang berdomisili di Inggris namun berasal dari luar negeri—telah membuat sebagian besar ultra-wealthy hengkang. Jeremy Gee, Managing Director Beauchamp Estates, mengungkapkan bahwa banyak kliennya memilih menjual properti dan pindah karena alasan pajak. "Ada bagian masyarakat yang meninggalkan Inggris karena banyak alasan, tapi terutama pajak," katanya. Ketidakpastian semakin diperparah dengan rencana "mansion tax" untuk rumah senilai lebih dari £2 juta yang diumumkan mantan kanselir Rachel Reeves tahun lalu.
"Banyak penjual kami memutuskan sudah cukup—mari jual properti dan lanjutkan hidup," ujar Jeremy Gee, Managing Director Beauchamp Estates.
Meski demikian, tidak semua segmen terpuruk. Pasar "super-prime" untuk miliarder justru bergeliat. Tahun ini, Nick Candy—donor partai Reform—menjual rumahnya di Chelsea lebih dari £270 juta, transaksi rumah tunggal terbesar dalam sejarah properti Inggris. The Holme, mansion 40 kamar di Regent's Park, dilaporkan mendekati penjualan £190 juta, naik dari £139 juta pada 2024. Transaksi rumah di atas £10 juta melonjak 50% pada kuartal kedua 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu, menurut JLL. Bahkan, segmen £15-20 juta naik hampir 40% menurut Savills.
Kesenjangan tajam antara segmen menengah atas dan super-prime mencerminkan pergeseran preferensi. Pembeli kaya dari teknologi dan media sosial mendorong tren renovasi baru seperti home cinema, ruang uap, sauna, dan ruang yoga. Namun, banyak yang memilih menyewa daripada membeli. Beauchamp mencatat tujuh dari sepuluh klien ultra-prime kini menyewa untuk menghindari biaya perawatan, stamp duty, dan pajak properti. Akibatnya, pasokan sewa mewah menipis dan harga sewa naik 1,6% pada tahun yang berakhir Juni, dengan sewa super-eksklusif (di atas £5.000 per minggu) melonjak 17%.
Di kancah global, London tertinggal dari kota-kota lain. San Francisco dan Lisbon mencatat kenaikan harga prime masing-masing 4,8% dan 3,3% pada paruh pertama 2026, didorong kekayaan sektor teknologi. Tokyo menjadi bintang dengan kenaikan 7% berkat yen lemah. Sementara Berlin, yang kinerjanya terburuk di Eropa, tertekan biaya pinjaman dan pertumbuhan ekonomi lesu.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting. Pasar properti mewah di Jakarta dan Bali juga menghadapi tantangan serupa: ketergantungan pada investor asing, sensitivitas terhadap pajak, dan perubahan lanskap geopolitik. Penurunan harga di London bisa menjadi peringatan bahwa segmen ultra-mewah rentan terhadap kebijakan fiskal dan stabilitas politik. Namun, ada peluang: investor Indonesia yang mencari aset global mungkin menemukan nilai menarik di London, terutama dengan diskon besar dan potensi pelemahan poundsterling.
Ke depan, para analis memperkirakan tekanan belum berakhir. Payne dari LonRes menyatakan, "Saya tidak yakin kita sudah berada di dasar pasar." Sementara Strutt & Parker memangkas proyeksi pertumbuhan harga prime central London menjadi hanya 4,4% hingga 2030. Pertanyaannya, akankah pemerintah Inggris merevisi kebijakan pajak untuk menahan eksodus modal, atau justru memperketat? Bagi pembeli, ini mungkin momen emas; bagi penjual, realitas pahit yang harus diterima.



