Bank Dunia Naikkan Proyeksi Asia Timur ke 4,5%, tapi Ingatkan Risiko Gelembung AI
Baca dalam 60 detik
- Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan Asia Timur dan Pasifik 2026 menjadi 4,5%, naik 0,3 poin persentase dari estimasi April.
- Lebih dari separuh ekspor kawasan ditopang barang terkait AI, dengan Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam mencatat porsi di atas 70%.
- Ketergantungan pada siklus belanja AI—yang sebagian dibiayai kredit swasta US$800 miliar—menjadi titik rawan jika terjadi koreksi global.

Bank Dunia menaikkan ramalan pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tahun 2026 menjadi 4,5%, atau 0,3 poin persentase lebih tinggi dibanding proyeksi April lalu. Namun di balik revisi positif itu, lembaga tersebut menyoroti kerentanan kawasan terhadap gelombang belanja kecerdasan buatan (AI) yang kini menjadi tulang punggung ekspor.
Laporan terbaru Bank Dunia yang dirilis Selasa menyebut ekspansi kawasan—mencakup 23 ekonomi, termasuk China, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dan Thailand—akan melandai menjadi 4,4% pada 2027 dan 4,3% pada 2028. Vietnam menerima koreksi terbesar, dengan proyeksi pertumbuhan melonjak 1,1 poin persentase menjadi 7,4%.
Yang menjadi catatan penting: kekuatan ini tidak merata. Bank Dunia mengungkapkan pertumbuhan dagang di luar komoditas terkait AI justru "lemah atau negatif". Barang-barang berteknologi AI menyumbang lebih dari separuh kenaikan ekspor di mayoritas ekonomi kawasan, dan bahkan melewati 70% di Malaysia, Filipina, Thailand, serta Vietnam. Enam negara—China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam—tercatat mengirim US$1,4 triliun produk terkait AI sepanjang 12 bulan hingga April.
Ketergantungan pada AI juga terlihat dari data Korea Selatan. Ekspor negara itu melesat 83,5% pada September ke rekor US$120,9 miliar, dengan semikonduktor menyumbang separuh pengiriman. Dominasi chip bahkan membuat dua perusahaan—Samsung dan SK Hynix—menguasai 43% nilai indeks acuan Kospi per akhir April. Konsentrasi sebesar itu membuat pasar Korea sangat sensitif terhadap fluktuasi permintaan chip global.
Risiko utama bukan pada produksi, melainkan pada sisi belanja. Bank Dunia mencatat belanja modal terkait AI telah mencapai sekitar 6% dari PDB Amerika Serikat, menyamai puncak investasi teknologi informasi pada 2000. Siklus kali ini "naik lebih cepat dari dua siklus sebelumnya dan masih berakselerasi". Bank for International Settlements (BIS) bahkan telah memperingatkan pada Juni bahwa skala dan kecepatan boom ini menyerupai euforia dot-com era 1990-an.
Yang memperumit, sumber pendanaannya kurang transparan. Dari US$2,9 triliun belanja modal AI yang direncanakan pada 2025–2028, sekitar US$800 miliar di antaranya diperkirakan berasal dari kredit swasta. Porsi pinjaman terkait AI di instrumen kredit swasta melonjak menjadi 34% pada 2025, dari rata-rata 18% dalam lima tahun sebelumnya. Bank Dunia mengingatkan pasar kredit swasta "kurang terlihat dan belum teruji oleh penurunan tajam".
"Perlambatan yang terkonsentrasi pada AI akan berdampak signifikan bagi Asia Timur karena posisi kawasan ini yang menonjol dalam rantai pasok AI." — laporan Bank Dunia
Bank Dunia juga memperingatkan bahwa koreksi tidak harus berarti keruntuhan siklus super AI, tetapi investasi "telah melampaui permintaan riil". Simulasi mereka menunjukkan penurunan pertumbuhan AS sebesar 1 poin persentase akan memangkas pertumbuhan ekonomi pasar berkembang lain sekitar 0,6 poin persentase, dengan dampak terhadap investasi dua kali lebih besar.
Eksposur perbankan menjadi jalur penularan terlebar. Liabilitas bank dalam mata uang asing tercatat signifikan di beberapa negara: 29,2% dari PDB Malaysia dan 20,7% dari PDB Filipina. Sementara itu, Biro Statistik Taiwan baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 11% dari 9,6% karena permintaan AI, namun pada Juni memperingatkan bahwa "jika sektor teknologi tinggi menghadapi hambatan, dampak negatifnya terhadap ekonomi lokal bisa lebih besar dari perkiraan".
Bagi Indonesia, laporan ini menjadi pengingat bahwa strategi hilirisasi dan pengembangan industri berbasis teknologi tidak bisa hanya mengandalkan komoditas. Meski Indonesia belum sepenuhnya masuk rantai pasok AI global seperti Vietnam atau Malaysia, ketergantungan pada ekspor berbasis sumber daya alam membuat ekonomi rentan terhadap guncangan permintaan global. Pemerintah perlu mempercepat diversifikasi ekspor dan memperkuat sektor manufaktur bernilai tambah jika ingin mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian siklus teknologi.
Pertanyaannya kini: seberapa siap kawasan—dan Indonesia di dalamnya—menghadapi kemungkinan perlambatan belanja AI yang selama ini menjadi motor utama? Tanpa bantalan ekonomi yang lebih beragam, koreksi global bisa menjadi ujian sesungguhnya bagi ketahanan Asia Timur dan Pasifik.



