Samsung Dikabarkan Siapkan Googlebook: Snapdragon X Elite, Android 17, dan One UI di Laptop
Baca dalam 60 detik
- Samsung disebut tengah menggarap laptop Googlebook yang terendus di Geekbench dengan Snapdragon X Elite, RAM 16GB, dan Android 17.
- Rencana ini menandai langkah Samsung masuk ke ekosistem laptop berbasis Android besutan Google, bersaing dengan ASUS, Dell, dan HP yang lebih dulu membuka pre-order mulai 899 dolar AS.
- Jika benar, kehadiran One UI di perangkat laptop bisa menjadi pembeda sekaligus ujian bagi Samsung untuk membuktikan integrasi ponsel-laptop yang mulus.

Samsung dikabarkan tengah menyiapkan laptop pertamanya yang berbasis ekosistem Googlebook, dengan spesifikasi awal muncul di basis data Geekbench. Perangkat ini disebut mengusung chipset Snapdragon X Elite, RAM 16GB, dan sistem operasi Android 17 โ kombinasi yang menandai babak baru bagi lini komputer Samsung yang selama ini identik dengan Windows.
Kabar ini pertama kali mencuat dari cuitan tipster Abhishek Yadav di platform X, yang mengklaim telah menemukan entri Geekbench untuk perangkat yang disebut sebagai "Googlebook pertama Samsung". Dalam daftar tersebut, Snapdragon X Elite tercatat memiliki 12 inti, dengan empat inti berjalan pada 3,42GHz dan delapan lainnya di 4,01GHz. GPU yang terpasang disebut Adreno X1-85, sementara RAM 16GB dan Android 17 melengkapi konfigurasi yang tertera.
Googlebook sendiri bukan nama yang sepenuhnya asing. Google memperkenalkannya pada ajang The Android Show edisi Mei sebagai penerus lini Chromebook. Gelombang pertama perangkat ini dibuka untuk pre-order pada pertengahan September dengan harga mulai 899 dolar AS, melibatkan merek-merek besar seperti ASUS, Dell, dan HP. Kehadiran Samsung di daftar tersebut, jika terkonfirmasi, akan memperluas peta persaingan di segmen laptop Android yang selama ini didominasi pemain lama.
Yang menarik, rumor sebelumnya dari SamMobile menyebut Samsung berpotensi menanamkan antarmuka One UI di atas sistem operasi Android untuk laptopnya. Pendekatan ini meniru strategi Samsung di lini Galaxy S dan Galaxy Z, di mana One UI menjadi lapisan khas yang membedakan perangkat Samsung dari kompetitor. Jika benar diterapkan, pengguna bisa mendapatkan pengalaman yang konsisten antara ponsel dan laptop, termasuk sinkronisasi pengaturan, kata sandi tersimpan, hingga pesan.
"One UI telah berkembang dari sisi desain, dan harapannya fluiditasnya tetap terjaga di laptop," ujar pengamat teknologi yang mengamati perkembangan ini.
Googlebook generasi pertama membawa sejumlah fitur yang menjadi nilai jual, seperti layar sentuh, trackpad kaca haptic, dan keyboard dengan lampu latar. Integrasi dengan Android juga menjadi sorotan, memungkinkan pengguna masuk dengan akun Google dan langsung membawa pengaturan dari ponsel. Fitur Magic Pointer, yang memungkinkan pengguna mengarahkan kursor ke objek lalu memanggil Gemini untuk bantuan, menjadi salah satu daya tarik berbasis AI.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Googlebook dari Samsung berpotensi mengubah lanskap laptop konsumen, terutama di segmen menengah ke atas. Selama ini, laptop Android belum banyak dikenal di Tanah Air, dan dominasi Windows serta macOS masih kuat. Jika Samsung membawa perangkat ini secara resmi, tantangannya adalah meyakinkan konsumen bahwa ekosistem Android di laptop mampu menawarkan produktivitas setara, terutama untuk pekerjaan kantor dan kreatif. Harga 899 dolar AS atau sekitar Rp14 juta (kurs Rp15.600) menjadi patokan awal yang kompetitif, meski belum termasuk pajak dan biaya distribusi.
Selain itu, kehadiran One UI di laptop bisa menjadi nilai tambah bagi pengguna setia Samsung yang ingin merasakan integrasi lebih dalam antara ponsel dan komputer. Namun, Samsung belum memberikan konfirmasi resmi, dan detail yang beredar masih sangat awal. Peluncuran resmi diperkirakan baru akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan persiapan Google dan mitra-mitranya untuk memperluas jangkauan Googlebook.
Pertanyaannya kini, apakah Samsung mampu menghadirkan pengalaman laptop Android yang benar-benar mulus, atau justru terjebak dalam eksperimen yang belum matang? Publik menanti kejutan berikutnya dari raksasa teknologi Korea Selatan itu.



