Lima Gadget Baru Oktober 2026: iPhone Lipat hingga Googlebook, Siapa yang Layak Dibeli?
Baca dalam 60 detik
- Apple resmi merilis iPhone Duo, ponsel lipat pertamanya, dengan harga mulai 1.999 dolar AS dan preorder dibuka 16 Oktober.
- Samsung Galaxy Tab S12+ dan S12 Ultra hadir dengan Photoshop bawaan, menandai pertama kalinya aplikasi itu tersedia di tablet Android.
- HP Googlebook 14 menjadi laptop pertama berbasis Android yang menawarkan integrasi mendalam dengan ponsel, menyasar pengguna yang menginginkan ekosistem serupa Mac-iPhone.

Oktober 2026 menjadi bulan yang sibuk bagi industri perangkat keras global. Apple akhirnya melepas iPhone Duo, ponsel lipat perdananya, setelah bertahun-tahun dihembuskan rumor. Bersamaan dengan itu, Samsung, Microsoft, HP, dan Amazon masing-masing meluncurkan perangkat baru yang menyasar segmen premium. Bagi konsumen Indonesia, gelombang produk ini bukan sekadar daftar peluncuran, melainkan cerminan arah industri: perangkat mahal dengan fitur yang harus benar-benar mengubah cara pengguna bekerja dan berkreasi.
iPhone Duo dibanderol mulai 1.999 dolar AS, dengan preorder di Amerika Serikat dibuka 16 Oktober dan pengiriman mulai 23 Oktober. Saat terlipat, layar luarnya berukuran 5,4 inci; ketika dibuka, layarnya membentang hingga 7,6 inci. Harga setinggi itu memunculkan pertanyaan klasik: apa yang bisa dilakukan pengguna dengan ruang ekstra seluas itu? Apple menjawabnya lewat fitur Split View yang memungkinkan dua aplikasi berjalan berdampingan untuk pertama kalinya di iPhone. Pengguna bahkan bisa membuka dua jendela aplikasi yang sama, misalnya Safari, dan menyimpan pasangan aplikasi untuk diakses cepat. Netflix, Zoom, dan Slack dikabarkan siap memanfaatkan layar lipat tersebut. Satu catatan penting: dukungan Apple Pencil baru akan hadir menjelang akhir tahun.
Samsung tidak mau kalah. Galaxy Tab S12+ dan S12 Ultra akan tersedia di toko AS mulai 7 Oktober dengan harga masing-masing 1.199,99 dolar AS dan 1.399,99 dolar AS. Ukuran layarnya 12,6 inci dan 14,6 inci. Yang menarik, kedua tablet ini menjadi perangkat Android pertama yang mengemas Photoshop secara bawaan, lengkap dengan optimasi untuk S Pen dan langganan gratis empat bulan. Fitur Multi Window memungkinkan layar dibagi hingga tiga bagian, sehingga pengguna bisa menggambar sambil menonton video atau mencatat saat mengikuti kuliah daring. Namun, tidak semua aplikasi mendukung fungsi ini, sehingga pengguna perlu memeriksa kompatibilitas aplikasi harian mereka.
Microsoft meluncurkan Surface Pro 12 inci edisi ke-2 pada 13 Oktober di pasar terpilih. Perangkat Windows tanpa kipas ini mendukung keyboard yang bisa dilepas dan dibanderol mulai 1.149,99 dolar AS. Microsoft membenamkan chip Qualcomm Snapdragon X2 Plus dan menaikkan kecerahan layar menjadi 500 nits, sekitar 25% lebih terang dari model sebelumnya. Peningkatan grafis diklaim lebih dari 60% dibanding Surface Pro 12 inci generasi pertama. Daya tarik utamanya adalah fleksibilitas: keyboard bisa dipasang untuk bekerja, lalu dilepas untuk menjelma menjadi tablet. Aplikasi Microsoft Ink Canvas sudah terpasang, memungkinkan sketsa, anotasi, pembuatan gambar AI, hingga ringkasan teks. Kekurangannya, keyboard dan Slim Pen dijual terpisah, sehingga total biaya bisa membengkak.
HP menghadirkan Googlebook 14, laptop pertama berbasis Android yang menjadi penerus Chromebook. Perangkat ini tersedia di situs HP dan Best Buy dengan harga mulai 1.199,99 dolar AS, meski banyak konfigurasi dijual 1.299 dolar AS. Di dalamnya ada Snapdragon X Elite, layar sentuh OLED 3K 14 inci dengan refresh rate variabel 120 Hz, kamera IR 5 megapiksel, dan empat speaker. Nilai jual utamanya adalah integrasi dengan ponsel Android: fitur Quick Access dan Cast My Apps memungkinkan pengguna membuka file ponsel langsung dari laptop dan menjalankan aplikasi ponsel tanpa instalasi ulang. Ini semacam jawaban atas Handoff milik Apple, yang memungkinkan perpindahan tugas mulus antara iPhone dan Mac. Googlebook dibangun di atas Android dengan fondasi desktop dari ChromeOS, dan diposisikan sebagai perangkat premium, sehingga harganya lebih tinggi dari Chromebook.
Amazon memperbarui jajaran Kindle, termasuk Kindle Colorsoft yang hadir 28 Oktober. Model standar dibanderol 289,99 dolar AS dengan penyimpanan 16 GB, sedangkan Signature Edition seharga 319,99 dolar AS menawarkan 32 GB dan bodi aluminium. Amazon menambahkan micro-deflector pada pemandu cahaya untuk mengurangi cahaya liar yang mengaburkan warna, plus LED nitride yang meningkatkan warna dan kecerahan. Lapisan optik yang lebih tipis diklaim memberi kejernihan lebih baik. Perangkat ini juga satu milimeter lebih tipis dan 30% lebih cepat membuka buku. Signature Edition mendapat lampu depan otomatis dan pembalikan halaman dengan ketukan ganda, tetapi tidak mendukung pengisian nirkabel standar; ia menggunakan koneksi pin yang kompatibel dengan casing baru seharga 79,99 dolar AS, yang mengembalikan tombol fisik pembalik halaman.
Bagi pasar Indonesia, peluncuran ini menandai dua hal. Pertama, perangkat lipat dan tablet premium semakin mendekati harga laptop, memaksa konsumen menimbang ulang prioritas anggaran. Kedua, kehadiran Googlebook dan integrasi Android yang mendalam bisa menjadi sinyal bahwa ekosistem Android mulai serius menyaingi kenyamanan ekosistem tertutup Apple. Namun, harga yang dipatok dalam dolar AS dan ketersediaan yang terbatas di pasar tertentu membuat perangkat ini belum tentu masuk resmi ke Indonesia dalam waktu dekat. Importir dan penjual ritel abu-abu biasanya menjadi jalur pertama, dengan konsekuensi garansi dan dukungan purna jual yang terbatas.
Pertanyaannya, apakah konsumen benar-benar membutuhkan perangkat-perangkat ini, atau sekadar tergoda oleh kebaruan? Dengan harga yang menembus 1.000 dolar AS, keputusan pembelian akan sangat bergantung pada apakah fitur seperti layar lipat, Photoshop bawaan, atau integrasi ponsel-laptop benar-benar mengubah alur kerja sehari-hari. Jika tidak, gadget-gadget ini hanya akan menjadi barang mahal yang menarik perhatian sesaat.



