iPhone Duo Rp30 Juta Melawan Galaxy Z Fold 8: Pengalaman 8 Generasi Samsung Jadi Pembeda
Baca dalam 60 detik
- Apple resmi meluncurkan iPhone Duo, foldable pertamanya, dengan banderol mulai 1.999 dolar AS dan pengiriman perdana pada Oktober.
- Samsung Galaxy Z Fold 8 hadir sebagai generasi kedelapan, menawarkan kematangan desain, ekosistem Android yang terbuka, serta fitur AI yang lebih matang.
- Konsumen di Indonesia menghadapi pilihan sulit: mengadopsi teknologi anyar Apple atau memilih perangkat lipat yang sudah teruji delapan iterasi.

Apple akhirnya memasuki pasar ponsel lipat melalui iPhone Duo, perangkat yang dijual mulai 1.999 dolar AS hingga 2.599 dolar AS dan mulai dikirim Oktober mendatang. Kehadiran Duo menandai babak baru bagi raksasa Cupertino, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pengalaman delapan generasi Samsung Galaxy Z Fold 8 lebih layak dibeli ketimbang produk perdana Apple?
Perbandingan keduanya tidak sekadar soal spesifikasi di atas kertas. Samsung telah melalui tujuh tahun penyempurnaan sejak Galaxy Fold pertama pada 2019, memperbaiki engsel, bobot, layar, dan perangkat lunak dari kritik ke kritik. Apple, sebaliknya, baru memulai dari nol untuk kategori produk yang sama sekali baru. Meski riset dan pengembangan sudah berjalan bertahun-tahun, produk pertama cenderung membawa masalah khas generasi awal yang tidak selalu terlihat saat peluncuran.
Kesenjangan kematangan ini tampak pada beberapa aspek. iPhone Duo tidak dilengkapi Face ID, melainkan mengandalkan Touch ID di tombol samping. Kamera belakangnya hanya terdiri dari dua lensa, tanpa telefoto, sehingga kemampuan zoom optik terbatas. Sementara Galaxy Z Fold 8 Ultra menawarkan lensa telefoto 10x dengan zoom hingga 30x, plus dua sensor 50MP. Bagi pengguna yang mengandalkan fotografi mobile, perbedaan ini signifikan.
Dari sisi perangkat lunak, Samsung One UI telah lama mengembangkan antarmuka untuk layar lipat besar, lengkap dengan taskbar, split-screen yang dapat diubah ukurannya, serta jendela pop-up. Fitur drag-and-drop antar aplikasi dan penyimpanan tata letak sudah menjadi standar. Apple iOS 27 baru menghadirkan split-screen untuk Duo, dan berdasarkan pengamatan saat peluncuran, masih ada glitch yang tersisa. Pengalaman multitasking di perangkat lipat bukan sekadar menambahkan fitur, melainkan hasil iterasi bertahun-tahun.
Pilihan perangkat juga menjadi pembeda. Apple hanya menjual satu model Duo dengan desain lebar ala paspor. Samsung menawarkan Galaxy Z Fold 8 dengan desain lebar, Galaxy Z Fold 8 Ultra yang lebih tinggi dengan kamera tambahan dan baterai lebih besar, serta Galaxy Z Flip 8 bergaya clamshell. Konsumen memiliki kebebasan memilih bentuk yang sesuai kebutuhan, bukan dipaksa menerima satu bentuk saja.
Ekosistem menjadi pertimbangan lain. Galaxy Z Fold 8 menjalankan Android sehingga kompatibel dengan Google Workspace, Microsoft Office, dan Samsung DeX yang mengubah ponsel menjadi antarmuka desktop ketika dihubungkan ke monitor. DeX disertakan gratis tanpa perangkat tambahan. iPhone Duo, sebaliknya, terikat pada ekosistem tertutup Apple: eSIM saja, iCloud untuk penyimpanan, dan tidak ada padanan DeX. Pengguna yang terbiasa berpindah antara Android, Windows, dan akun Google akan merasa lebih luwes dengan Fold 8.
"Samsung telah menghabiskan delapan tahun dan delapan ponsel untuk mempelajari apa yang seharusnya dilakukan ponsel lipat," demikian penilaian dalam artikel SlashGear yang menjadi rujukan analisis ini.
Di ranah kecerdasan buatan, Galaxy AI telah dikirim ke ponsel Samsung sejak awal 2024 dan mencakup terjemahan panggilan langsung hingga penyuntingan foto dengan kontrol privasi. Fitur ini bahkan berjalan di perangkat Galaxy berusia dua tahun. Apple Intelligence masih mengejar ketertinggalan, dengan peluncuran yang tertunda lebih dari setahun dari jadwal semula. Bagi konsumen yang mempertimbangkan AI sebagai alasan membeli ponsel lipat, Galaxy Z Fold 8 saat ini unggul jauh.
Bagi pasar Indonesia, perbedaan ini krusial. Harga iPhone Duo yang setara Rp30โ39 juta menempatkannya di segmen premium yang sangat sensitif terhadap nilai jangka panjang. Pengguna di Indonesia cenderung memakai ponsel selama dua hingga tiga tahun, sehingga kematangan perangkat lunak dan dukungan AI yang sudah terbukti menjadi faktor penentu. Kehadiran Galaxy Z Fold 8 dan varian Ultra memberikan alternatif yang lebih teruji, sementara iPhone Duo masih harus membuktikan ketangguhannya di tangan pengguna nyata.
Pertanyaannya kini: apakah Apple mampu menutup ketertinggalan pengalaman dalam satu atau dua generasi, atau justru Samsung akan terus memperlebar jarak? Bagi konsumen yang tidak ingin menjadi kelinci percobaan, pilihan rasional saat ini condong pada perangkat lipat yang sudah melewati delapan iterasi.



