Harga Chip TV Kini Lampaui Panel, Efek Domino AI ke Industri Elektronik
Baca dalam 60 detik
- Biaya semikonduktor untuk TV melonjak tajam, membuat komponen pemroses menjadi pos pengeluaran terbesar, menggeser panel yang sebelumnya dominan.
- Kelangkaan pasokan dipicu permintaan AI yang menguras kapasitas produksi DRAM dan NAND, dengan kenaikan harga hingga sembilan kali lipat dalam setahun.
- Produsen TV diprediksi menaikkan harga jual atau menurunkan spesifikasi, sementara pasar Indonesia berisiko terkena imbas kenaikan biaya impor komponen.

Industri televisi menghadapi pergeseran struktural: untuk pertama kalinya, harga chip pemroses dalam TV melampaui biaya panel layar. Data dari lembaga riset pasar Omdia yang dikutip DigiTimes menunjukkan bahwa pada kuartal ketiga 2026, papan pemroses menyumbang 45โ50% dari total biaya produksi TV, melonjak dari hanya sekitar 10% pada kuartal kedua 2025. Fenomena ini menandai titik balik dalam rantai pasok elektronik konsumen yang selama ini bergantung pada panel sebagai komponen termahal.
Pemicu utamanya adalah ledakan permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI). Model AI generatif membutuhkan memori berkapasitas besar dan prosesor berperforma tinggi, sehingga kapasitas produksi global tersedot ke sektor tersebut. Akibatnya, pasokan DRAM dan NAND flash untuk perangkat konsumen menyusut drastis. Harga DRAM dasar pada Agustus 2025 mencapai US$25, atau 4,4 kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya, sementara NAND flash menyentuh US$30,50, hampir sembilan kali lipat. Modul Wi-Fi pun ikut meroket dari US$33,90 pada 2025 menjadi US$118,20, lebih mahal dari panel 4K 55 inci termurah (US$116) dan mendekati rata-rata harga panel 4K (US$123).
Dampak langsung paling terasa di segmen TV berukuran kecil dan menengah, seperti LCD 32 inci dan model Full HD 40-an inci. TV OLED premium untuk sementara relatif aman karena marginnya lebih tebal. Namun, jika tren kenaikan komponen berlanjut hingga 2027 dan seterusnya, seluruh lini produk akan terpapar. Omdia memperkirakan krisis pasokan ini tidak akan surut dalam waktu dekat, mengingat permintaan AI masih jauh melampaui kapasitas fabrikasi yang ada.
Bagi produsen, pilihan yang tersisa semakin sempit. Selama ini industri TV dikenal bermargin rendah, sehingga penyerapan kenaikan biaya secara internal tidak mungkin dilakukan terus-menerus. Pola yang kemungkinan besar terjadi adalah menaikkan harga jual atau menurunkan spesifikasiโstrategi yang sudah lebih dulu diterapkan di pasar ponsel. Konsumen mungkin akan melihat TV dengan harga lebih tinggi namun spesifikasi lebih rendah, atau model baru dengan fitur yang dikurangi untuk menekan biaya.
"Kenaikan biaya chip ini memaksa produsen untuk mengkalkulasi ulang strategi harga dan spesifikasi. Pasar TV bisa mengalami pergeseran menuju model yang lebih sederhana dengan harga lebih tinggi," ujar seorang analis industri yang tidak ingin disebutkan namanya.
Di Indonesia, imbasnya tidak bisa diabaikan. Sebagian besar TV yang dijual di pasar domestik merupakan produk impor atau dirakit lokal dengan komponen impor. Kenaikan harga chip global akan mendorong biaya produksi dan impor, yang berpotensi diteruskan ke konsumen. Pemerintah perlu mencermati dampak ini terhadap inflasi barang elektronik dan daya beli masyarakat, terutama di segmen menengah ke bawah yang paling sensitif terhadap perubahan harga.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah harga TV akan naik, melainkan seberapa besar kenaikannya dan apakah produsen mampu berinovasi menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas. Jika krisis semikonduktor ini berlarut, lanskap kompetisi industri TV bisa berubah: pemain dengan akses pasokan chip yang kuat akan lebih unggul, sementara yang lain terpaksa mundur dari segmen volume. Konsumen pun harus bersiap dengan era baru di mana TV bukan lagi barang yang semakin murah setiap tahun.



