Bangkok Lumpuh: 40 Tewas, 50 Distrik Darurat Banjir, Ancaman Krisis Iklim Mengintai Asia Tenggara
Baca dalam 60 detik
- Banjir ekstrem merendam seluruh 50 distrik Bangkok, menewaskan sekitar 40 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi ke lebih dari 230 tempat penampungan.
- Curah hujan mencapai 300 mm dalam dua hari—setara setengah tahun hujan London—melampaui kapasitas drainase kota yang hanya mampu menangani 60–80 mm per jam.
- Para ilmuwan memperingatkan pola banjir serupa akan semakin sering terjadi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, seiring pemanasan global dan El Niño yang memperparah cuaca ekstrem.

Bangkok berada di titik kritis. Hujan yang turun tanpa henti selama berhari-hari telah mengubah sebagian besar wilayah ibu kota Thailand itu menjadi danau stagnan, menewaskan sekitar 40 orang, dan memaksa pemerintah menetapkan status darurat bencana di seluruh 50 distrik kota. Ini bukan banjir musiman biasa—ini adalah puncak dari serangkaian kegagalan infrastruktur dan peringatan yang selama ini diabaikan.
Data pemerintah menunjukkan curah hujan mencapai 300 milimeter hanya dalam kurun dua hari di beberapa titik, jumlah yang setara dengan setengah curah hujan tahunan rata-rata London. Sistem drainase Bangkok, yang mengandalkan jaringan kanal, pompa, dan tanggul, hanya sanggup menangani 60 mm hujan per jam—maksimal 80 mm di area yang telah diupgrade. Lonjakan lokal yang jauh melampaui ambang itu membuat air tak terbendung. Kanal-kanal yang dulu menjadi tulang punggung pengendalian banjir kini banyak yang hilang tertutup beton pembangunan.
Peristiwa ini bukan sekadar bencana lokal. Para ilmuwan iklim telah lama memperingatkan bahwa Asia Tenggara akan menghadapi hujan ekstrem yang semakin sering dan intens. Nikolaos Skliris, ilmuwan kelautan dari University of Southampton, mengungkapkan bahwa peta-peta menunjukkan tren peningkatan curah hujan ekstrem di Thailand tengah. "Dalam jangka panjang, semua model menunjukkan ini akan teramplifikasi—lebih banyak hujan, dan hujan yang lebih ekstrem," ujarnya. Pemanasan global membuat laut lebih panas, meningkatkan penguapan, sementara udara yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air, sehingga hujan turun dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
Fenomena El Niño yang kuat tahun ini memperumit situasi. Biasanya El Niño membawa musim panas yang lebih kering di Asia Tenggara, tetapi riset terbaru menunjukkan bahwa pola ini justru memperburuk hari-hari dengan curah hujan ekstrem. Kombinasi sistem tekanan rendah dari Laut China Selatan yang menghangat, melewati Kamboja dan Vietnam, lalu terperangkap di atas Bangkok, menciptakan kondisi sempurna untuk bencana.
"Pemerintah tidak mengomunikasikan keseriusan situasi," kata Naim Laeni, konsultan dan dosen yang ikut menulis studi tentang ketahanan banjir Bangkok. "Biasanya di Bangkok kami menerima hujan lebat selama beberapa jam, bukan berhari-hari."
Kritik terhadap respons pemerintah semakin keras. Warga di kompleks flat Khlong Chan, Bangkok timur laut, menjadi simbol penderitaan. Suleemas Kurangkul, 73 tahun, menuturkan bahwa air naik terus-menerus tanpa henti. "Air terus naik," kenangnya. Ketika peringatan lewat ponsel akhirnya tiba, air sudah setinggi pinggang. Foto-foto flat yang terendam hingga lantai dua, dengan atap mobil yang nyaris tak terlihat, menyebar luas di media sosial. Meski air berangsur surut pada Kamis, bau busuk dan sampah masih memenuhi lingkungan.
Dampak ekonomi mulai terasa. Bandara utama Suvarnabhumi terganggu karena sekitar separuh tenaga kerja Thai Airways tidak dapat melapor, menyebabkan ribuan bagasi menumpuk dan penerbangan dibatalkan. Sekolah-sekolah ditutup, dan kemacetan parah membuat warga di area yang tidak terdampak pun terjebak di rumah. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul menyatakan bahwa wilayah metropolitan Bangkok masih berisiko dari aliran air dari utara dan telah membentuk ruang perang untuk memantau situasi. Badan meteorologi memperkirakan hujan lebat akan berlanjut pekan depan.
Bagi Indonesia, peringatan ini tidak bisa diabaikan. Jakarta, dengan karakteristik serupa—dibangun di atas dataran banjir, jaringan kanal yang tergerus pembangunan, dan penurunan tanah—menghadapi risiko yang sama. Banjir besar Jakarta pada 2020 dan 2021 menjadi sinyal bahwa kapasitas drainase dan sistem peringatan dini perlu dievaluasi total. Pemerintah Indonesia perlu mempercepat investasi dalam infrastruktur hijau, restorasi kanal, dan sistem peringatan berbasis komunitas sebelum menghadapi musim hujan ekstrem berikutnya.
Di Myanmar, sistem cuaca yang sama memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sembilan orang di desa Ka Det Nge Htein, dengan delapan lainnya hilang. Konflik sipil dan pembatasan media mempersulit upaya penyelamatan dan bantuan. Sementara itu, di Bangkok, pompa-pompa bekerja dengan kapasitas penuh, tetapi dibutuhkan berhari-hari untuk mengeringkan seluruh genangan.
Pertanyaannya kini: apakah pemerintah di kawasan ini akan belajar dari Bangkok, atau menunggu kota mereka sendiri tenggelam? Dengan percepatan krisis iklim, jendela untuk beradaptasi semakin sempit. Investasi dalam infrastruktur tahan iklim bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.



