Kelela Puji PinkPantheress: 'Dia Tidak Butuh Validasi Siapa Pun'
Baca dalam 60 detik
- Kelela mengaku terkesan dengan bakat PinkPantheress yang dinilai memiliki visi sonik kuat dan kemandirian artistik.
- PinkPantheress pernah mengungkap kekhawatiran soal penampilan yang memengaruhi cara pendengar menilai musiknya.
- Pujian ini menyoroti pergeseran industri musik global yang makin menghargai produser perempuan dan kontrol kreatif penuh.

Penyanyi senior Kelela mengungkapkan kekagumannya terhadap PinkPantheress, musisi muda asal Inggris yang belakangan menjadi fenomena di kancah pop alternatif. Dalam wawancara dengan majalah TIME, Kelela mengaku langsung terpukau saat pertama kali mendengar karya PinkPantheress. Ia bahkan sempat dibuat penasaran oleh perbincangan warganet di Twitter yang bercanda menyebut PinkPantheress sebagai 'anaknya' karena kemiripan gaya musikal.
Namun, Kelela menilai perbandingan itu terlalu sempit. Menurutnya, PinkPantheress bukan sekadar penerus atau bayangan dari siapa pun. "Dia sudah tahu persis siapa dirinya," ujar Kelela, seraya menambahkan bahwa menyamakan PinkPantheress dengan dirinya justru mengabaikan orisinalitas sang musisi. Kelela menyoroti kemampuan PinkPantheress menulis lagu, memproduksi musiknya sendiri, dan membangun visi sonik yang khas.
Bagi Kelela, pencapaian PinkPantheress sebagai perempuan kulit hitam di genre yang jarang memberi ruang bagi mereka menjadi poin penting. Ia menyebut setiap lagu PinkPantheress seperti 'pintu yang tetap terbuka' bagi musisi lain di belakangnya. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana representasi dan kontrol kreatif semakin menjadi isu sentral di industri musik global, terutama ketika musisi perempuan memilih jalur mandiri alih-alih bergantung pada mesin industri arus utama.
"Dia menulis lagunya sendiri, memproduksi sebagian besar musiknya, dan memiliki visi sonik yang sangat kuat. Semua itu dia lakukan sebagai perempuan kulit hitam di genre yang jarang memberi kami ruang," kata Kelela.
Di sisi lain, PinkPantheress pernah mengungkap sisi rentan dari perjalanan kariernya. Dalam wawancara dengan Interview magazine, ia mengaku sempat menyembunyikan wajahnya karena khawatir penampilan fisiknya akan mengganggu cara orang mendengarkan musiknya. Ia bahkan mempertanyakan apakah wajahnya 'cocok' dengan apa yang didengar audiens. Meski begitu, ia mengakui bahwa penampilannya turut memengaruhi minat orang untuk mendengarkan karyanya—baik secara positif maupun negatif.
PinkPantheress juga menyebut dirinya kini lebih terbuka dalam menyuarakan pendapat, meski ada bagian dari dirinya yang merindukan misteri seperti yang dijaga Kate Bush. Ia mengaku mengagumi penyanyi legendaris itu yang memilih bersembunyi dan muncul hanya saat momen musikal terjadi. Pernyataan ini menegaskan bahwa di balik kesuksesan komersial, musisi muda tetap bergulat dengan ekspektasi publik terhadap citra diri mereka.
Fenomena PinkPantheress dan apresiasi dari Kelela mencerminkan pergeseran lanskap musik pop global. Jika dulu label besar mendikte arah karier, kini musisi dengan visi mandiri dan basis penggemar organik bisa menembus pasar tanpa harus mengikuti cetakan industri. Bagi pendengar Indonesia, gelombang ini juga terasa: platform streaming membuka akses ke artis-artis alternatif yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus memberi ruang bagi musisi lokal untuk mengeksplorasi identitas tanpa tekanan pasar arus utama.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah PinkPantheress mampu mempertahankan momentum, melainkan seberapa jauh industri musik akan berubah untuk merangkul kemandirian artistik semacam ini. Jika tren berlanjut, dinding antara 'bintang besar' dan 'musisi independen' bisa semakin kabur—dan itu kabar baik bagi keberagaman suara di panggung global.



