Chris Rock Ungkap Sisi Lain Prince: Pesta Diam-diam di Paisley Park demi Menutupi dari Mayte Garcia
Baca dalam 60 detik
- Chris Rock membuka cerita tentang pesta di kediaman Prince di Minneapolis yang harus dihentikan total saat Mayte Garcia menelepon.
- Pengakuan ini memperlihatkan bagaimana ikon pop tersebut menjaga citra publik dan privasi pernikahannya di balik tembok Paisley Park.
- Kisah ini menambah lapisan baru pada narasi warisan Prince menjelang sembilan tahun kepergiannya akibat overdosis tak sengaja.

Chris Rock mengungkap detail pertemuan pribadi dengan Prince yang jarang terekspos ke publik: sebuah pesta di Paisley Park, Minneapolis, yang mendadak senyap total karena satu panggilan telepon dari Mayte Garcia, istri sang musisi saat itu. Dalam wawancara dengan The New York Times, komedian berusia 61 tahun itu mengenang momen ketika sekitar 200 tamu diminta berhenti bersuara demi menjaga rahasia kecil dari pasangannya.
Peristiwa itu terjadi setelah Rock menyelesaikan rangkaian pertunjukan di kota tersebut. Prince, yang dikenal sangat protektif terhadap ruang kreatifnya, menjamu Rock di kompleks studio dan kediamannya. Di tengah suasana pesta, ia bahkan sempat memperdengarkan materi musik baru dari ruang arsip pribadinya—sebuah hak istimewa yang jarang diberikan kepada tamu. Namun, ketika telepon berdering, seluruh dinamika ruangan berubah dalam hitungan detik.
Menurut Rock, Prince langsung memberi instruksi tegas agar semua orang bungkam. Musik dimatikan, percakapan dihentikan, dan sang musisi menjawab panggilan dengan nada santai seolah sedang bersiap tidur. Setelah panggilan berakhir, pesta kembali bergelora. Adegan itu, kata Rock, memperlihatkan bagaimana Prince memisahkan kehidupan panggung dari urusan domestiknya—sebuah kontrol citra yang ia pertahankan hingga akhir hayat.
Pengakuan Rock menyoroti satu tema yang berulang dalam narasi tentang Prince: jarak antara persona publik dan kehidupan pribadi. Bagi seorang entertainer yang tumbuh di bawah sorotan sejak era 1980-an, menjaga privasi bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan strategi bertahan. Panggilan telepon yang ia tangani dengan kalimat pendek—"Nothing. Nah, I'm just chillin'"—menjadi simbol bagaimana ia mengelola ekspektasi pasangan tanpa mengorbankan kebebasan malamnya.
"Salah satu penyesalan terbesar dalam hidup saya adalah saya tidak pernah bisa rileks di dekat Prince. Dia ingin berteman, tetapi saya selalu seperti, 'Ya Tuhan, Prince sedang minum es teh,'" ujar Rock, menggambarkan kekaguman yang tak pernah pudar.
Rock juga mengakui bahwa hubungan mereka tidak pernah mencapai tahap pertemanan biasa. Ketika ditanya apakah ia pernah memperlakukan Prince seperti manusia pada umumnya, ia menjawab bahwa standar "normal" bagi seorang bintang rock berada di dimensi yang berbeda. Pernyataan ini menegaskan betapa besarnya aura seorang Prince bahkan di antara sesama selebritas.
Dari sisi Mayte Garcia, kehilangan Prince pada 2016 meninggalkan luka yang mendalam. Dalam wawancara dengan Us Weekly awal tahun ini, penari berusia 52 tahun itu mengenang bagaimana ia menerima kabar duka saat sedang mengemudi. Ia mengaku tidak ingat bagaimana ia bisa sampai rumah, dan berulang kali menolak kenyataan bahwa mantan suaminya telah tiada. "Itu adalah kesedihan yang intens," katanya, seraya menyebut momen ketika monumen-monumen di berbagai kota diterangi cahaya ungu sebagai penghormatan yang menyentuh namun sulit diterima.
Kisah Rock dan Garcia sama-sama menegaskan bahwa warisan Prince tidak hanya soal musik, tetapi juga tentang misteri yang ia rawat dengan sengaja. Paisley Park, yang kini menjadi museum, tetap menjadi simbol ruang di mana privasi dan kreativitas berbaur. Bagi penggemar, detail seperti pesta yang mendadak senyap justru memperkaya pemahaman tentang sosok yang selama hidupnya enggan membuka pintu sepenuhnya.
Pertanyaannya kini: seberapa banyak lagi lapisan kehidupan pribadi Prince yang akan terungkap seiring bertambahnya kesaksian dari mereka yang pernah berada di lingkaran dalamnya? Dan pada titik mana rasa hormat terhadap privasi seorang seniman harus mengalah pada hasrat publik untuk mengetahui segalanya?



