Imigrasi Kunci Pintu untuk Israel Houghton: Visa Ditolak, Konser Batal
Baca dalam 60 detik
- Ditjen Imigrasi memastikan tidak akan menerbitkan visa bagi Israel Houghton jika ia mengajukan permohonan masuk Indonesia.
- Status Subject of Interest (SOI) disematkan pada musisi AS itu karena rekam jejaknya dinilai mendukung Israel dan bertentangan dengan sikap resmi Jakarta.
- Pemerintah menegaskan komitmen mendukung Palestina, sehingga setiap kegiatan yang berpotensi merugikan perjuangan rakyat Palestina tidak akan diizinkan.

Pemerintah Indonesia menutup rapat peluang bagi musisi Amerika Serikat Israel Houghton untuk menggelar konser di Tanah Air. Direktorat Jenderal Imigrasi menegaskan tidak akan memproses permohonan visa apa pun yang diajukan Houghton, menyusul rekam jejaknya yang dinilai pro-Israel.
Keputusan ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko melalui akun Instagram resminya, Senin (5/10). Menurutnya, aktivitas dan sepak terjang Houghton selama ini telah menjadi perhatian pemerintah karena tidak sejalan dengan posisi resmi Indonesia yang konsisten membela Palestina. "Israel Houghton telah masuk dalam daftar Subject of Interest (SOI) Keimigrasian. Dengan status tersebut, apabila mengajukan visa untuk masuk ke Indonesia, permohonan visa yang bersangkutan tidak akan diterbitkan," ujar Hendarsam.
Langkah ini mempertegas sikap pemerintah yang sebelumnya telah dinyatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra. Yusril menyatakan bahwa rencana pertunjukan Houghton bersama grupnya, Israel & New Breed, dalam tur bertajuk 'Til The Whole World Knows Tour 2026' tidak akan mendapat izin. Keputusan itu diambil setelah berkoordinasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga, dengan mempertimbangkan aspek keamanan dalam negeri serta komitmen mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Kebijakan ini bukan hal baru dalam konteks hubungan internasional Indonesia. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten mendukung solusi dua negara dan kemerdekaan Palestina. Sikap tersebut kerap diwujudkan dalam berbagai kebijakan luar negeri, termasuk penolakan terhadap kehadiran individu atau kelompok yang dianggap mendukung kebijakan Israel. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga pernah membatalkan kedatangan atlet atau delegasi dari Israel pada ajang olahraga internasional yang digelar di Indonesia.
"Kegiatan apa pun yang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk merugikan perjuangan rakyat Palestina tidak akan diperkenankan diselenggarakan di Indonesia," tegas Yusril di kantornya, Jakarta, Senin (5/10).
Penolakan ini menuai beragam reaksi. Sebagian kelompok masyarakat mengapresiasi langkah pemerintah yang dianggap konsisten membela Palestina. Namun, sejumlah pihak menyayangkan batalnya konser tersebut, terutama penggemar musik di Indonesia yang telah menantikan penampilan Houghton. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa pertimbangan keamanan dan politik luar negeri menjadi prioritas utama.
Kasus ini juga menyoroti bagaimana isu internasional dapat memengaruhi industri hiburan tanah air. Penyelenggara acara musik di Indonesia kini dihadapkan pada tantangan untuk lebih cermat menyaring artis yang akan didatangkan, terutama yang memiliki keterkaitan dengan isu sensitif seperti konflik Palestina-Israel. Ke depan, bukan tidak mungkin akan ada pengetatan regulasi terkait izin pertunjukan bagi musisi asing yang memiliki afiliasi politik tertentu.
Dengan keputusan ini, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas dalam negeri dan menegaskan posisi Indonesia di kancah global. Sementara itu, publik menanti apakah akan ada langkah serupa terhadap artis lain yang dianggap sejalan dengan kebijakan Israel. Yang jelas, pintu bagi Israel Houghton untuk tampil di Indonesia telah tertutup rapat.



