76 Tahun Lalu, Peanuts Dimulai dengan Kalimat Kebencian
Baca dalam 60 detik
- Strip perdana Peanuts terbit 2 Oktober 1950, menampilkan Shermy, Patty, dan Charlie Brown dalam lelucon yang mengejutkan.
- Shermy dan Patty kemudian tersingkir oleh karakter baru seperti Lucy dan Linus, menghilang dari strip pada 1970-an.
- Warisan Peanuts kini hidup sebagai waralaba TV di Apple TV, dengan cameo sesekali untuk karakter awal.

Pada 2 Oktober 1950, Charles Schulz memperkenalkan dunia kepada Peanuts melalui strip komik yang menampilkan tiga anak: Shermy, Patty, dan Charlie Brown. Namun, alih-alih pembukaan yang hangat, strip perdana itu justru menyuguhkan kalimat penuh kebencian. Shermy, yang saat itu belum memiliki nama resmi, melontarkan, "Here comes ol' Charlie Brown. Good ol' Charlie Brown... How I hate him!" Ini adalah pukulan pembuka yang mengejutkan dari sebuah komik yang kemudian dikenal karena kelembutannya.
Shermy dan Patty, yang awalnya menjadi bintang pendamping, perlahan tersingkir seiring evolusi strip. Schulz memperhalus gaya seninya dan memasukkan karakter-karakter baru yang lebih menonjol seperti Lucy dan Linus Van Pelt. Popularitas mereka membuat Shermy dan Patty semakin jarang muncul, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya pada dekade 1970-an. Keduanya kini hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah Peanuts, meski memiliki peran penting di awal.
Dua tahun pertama Peanuts menampilkan humor yang lebih subversif dibandingkan citranya sekarang. Leluconnya sering kali bertumpu pada kenakalan anak-anak: mereka mencuri, memanipulasi, dan kadang memukul satu sama lain, lalu melupakan semuanya di strip berikutnya. Strip kedua bahkan menampilkan Patty meninju anak lain tanpa alasan jelas. Snoopy, yang pertama kali muncul di strip ketiga, juga masih jauh berbedaโhanya seekor anjing biasa tanpa persona imajinatif atau balon pikiran, dan tidak jelas siapa pemiliknya.
Schulz dalam beberapa catatannya mengakui bahwa Shermy dianggap sebagai karakter yang membosankan. Berbeda dengan Linus yang cerdas atau Lucy yang egois, Shermy dan Patty tidak memiliki sifat unik yang bisa dijadikan bahan lelucon. Charlie Brown pun awalnya tidak istimewa; sifat sial dan filsufnya baru muncul beberapa tahun kemudian. Namun, karena Charlie Brown didasarkan pada diri Schulz sendiri, ia tidak pernah tersingkir.
"Shermy dan Patty adalah Stuart Sutcliffe-nya Peanuts," tulis Polygon, merujuk pada anggota awal Beatles yang kemudian keluar. "Mereka ada di awal, tetapi tidak pernah mencapai puncak."
Di Indonesia, Peanuts juga memiliki tempat di hati penggemar komik klasik. Meski tidak sepopuler di Amerika Serikat, strip ini pernah hadir di beberapa surat kabar nasional dan menjadi bagian dari budaya pop global yang memengaruhi banyak komikus lokal. Karakter seperti Charlie Brown dan Snoopy sering dijadikan ikon dalam berbagai merchandise, dari kaos hingga aksesori, menunjukkan daya tarik lintas generasi.
Pada 2026, Peanuts lebih dikenal sebagai waralaba televisi dengan spesial tahunan di Apple TV. Dalam spesial-spesial itu, Shermy dan Patty kadang muncul sebagai kameo, bersama karakter awal lain seperti Violet Gray. Mereka memang telah lama menghilang dari komik strip, tetapi keberadaan mereka di awal perjalanan Peanuts tetap layak dikenang. Tanpa mereka, mungkin tidak akan ada Charlie Brown yang kita kenal sekarang.
Peringatan 76 tahun ini mengingatkan bahwa bahkan karakter yang tampak tidak penting pun memiliki peran dalam membentuk sebuah warisan. Akankah Peanuts terus menghidupkan kembali karakter-karakter terlupakan ini di masa depan, ataukah mereka akan selamanya menjadi trivia bagi penggemar setia?



